<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>si pemimpi tulen</title>
<link>http://anggarulianto.multiply.com/</link>
<description>Sebut saja saya Angga, agar lebih singkat. Hampir setiap malam saya bermimpi, yang kebanyakan berwarna redup. Ceritanya aneh. Jarang sekali  bergaya realis. Namun saya sendiri seorang realis, dan dipenuhi impian yang belum tercapai.

Seorang penyair pernah menuliskan: dalam satu hal, menjadi penulis adalah menjadi seorang pemimpi&#x2014;dia menempati sejenis kehidupan ganda. Maka, bisalah dikatakan bahwa penulis dan pemimpi sama-sama sadar akan keharusan berbagi cerita.

Apa yang tertuang di sini adalah pengalaman, ketidaktahuan, rasa penasaran, keanehan, keresahan, kekecewaan, kebahagiaan, kesedihan, dan kritik saya tentang beragam hal.</description>
<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 03:28:23 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Tue, 15 Jul 2008 09:28:03 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>si pemimpi tulen</title>
<url>http://images.anggarulianto.multiply.com/logo</url>
<link>http://anggarulianto.multiply.com</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>

<item>
<title>Wanted</title>
<description>Perkenalkan jagoan baru Hollywood, Wesley Gibson (James McAvoy). Hati-hati, ia mampu menembakkan senjata api sehingga membuat laju pelurunya melengkung. Wesley, seperti halnya Neo, dianugerahi kemampuan untuk merekayasa laju peluru. 

Karena itu, Wesley adalah manusia terpilih. Ia ditakdirkan untuk menjadi anggota Fraternity, kelompok pembunuh elit, yang bertugas menjaga keseimbangan dunia. Fraternity berhak membinasakan nyawa manusia-manusia yang berprospek membahayakan kehidupan masyarakat. Fraternity hampir mirip dengan divisi Pre-Crime dalam Minority Report (2004). Sedikit bedanya, Pre-Crime tidak diwajibkan membunuh targetnya.

Nah, kalau divisi Pre-Crime memanfaatkan kekuatan indera keenam si jenius kembar tiga (pre-cogs) untuk memutuskan siapa yang menjadi kriminilnya. Maka Fraternity mengandalkan sebuah mesin penenun nan ajaib dan penuh daya magis. Kenapa? Karena pada kain tenunannya itulah terdapat kode tersembunyi, yang jika ditafsirkan dengan binary code akan keluar nama...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/22</guid>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 09:28:03 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Sama Rata, Sama Rasa</title>
<description>&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt;&#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Suatu siang, awal tahun ini, isi bus Transjakarta kebetulan tidak terlalu penuh. Beberapa penumpang berdiri, termasuk aku. Pramudinya bus saat itu wanita dan satgasnya pria. Dalam perjalanan dari halte Ragunan hingga masuk kawasan Kuningan, aku bisa menyimpulkan bahwa si ibu pramudi berwatak keras dan galak. Soalnya, ia kerap menutup dan mengusir kendaraan lain yang masuk ke jalur busway sambil mengomel. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;line-height: 100%;&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E; &#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;line-height: 100%;&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt;&#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Namun ibu pramudi mungkin melupakan fakta bahwa Jakarta adalah sebuah hutan rimba modern. Maka satu kendaraan keluar, tak lama kemudian dua kendaraan lain masuk lagi ke jalur busway. Mati satu, tumbuh seribu. Ibu pramudi capek sendiri, tetapi ia tidak jera.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;line-height: 100%;&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt;&#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Selepas Halte Kuningan Madya, kekesalan ibu pramudi memuncak. Ternyata masih ada dua mobil pribadi yang menguntit bus Transjakarta. Ia pun memberhentikan bus, lalu meminta satgasnya keluar untuk menyuruh dua mobil pribadi itu minggat dari jalur busway. &#x201C;Bilang aja busnya mogok. Biar (mereka) pada mundur. Bisa kebiasaan mereka soal...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/23/Sama_Rata_Sama_Rasa</guid>
<pubDate>Fri, 4 Jul 2008 09:12:29 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Aku Ada dan Berdaya</title>
<description>    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;line-height: normal;
color: rgb(255, 255, 255);
&#x22;&#x3E;Suatu malam sebulan yang lalu. Di depan kami, pak profesor sedang asyik menjelaskan materi ekonomi: keunggulan komparatif (&#x3C;i style=&#x22;&#x22;&#x3E;comparative advantage&#x3C;/i&#x3E;) dan keunggulan bersaing (&#x3C;i style=&#x22;&#x22;&#x3E;competitive advantage&#x3C;/i&#x3E;). Di tengah-tengah sesi, beliau bertanya kepada kami, &#x201C;Sebenarnya, produk apa yang bisa menjadi keunggulan Indonesia?&#x201D;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;line-height: normal;
color: rgb(255, 255, 255);
&#x22;&#x3E;Beberapa teman lalu memberikan jawaban yang masuk akal. Tetapi belum ada yang sesuai dengan harapan beliau.&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;line-height: normal;
color: rgb(255, 255, 255);
&#x22;&#x3E;&#x201C;Seni budaya kita,&#x201D; jawab pak profesor, &#x201C;Lihatlah. Begitu melimpah. Kalau ini dikelola dengan baik pasti bisa menjadi devisa yang besar bagi negara.&#x201D;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;line-height: normal;
color: rgb(255, 255, 255);
&#x22;&#x3E;Namun, tak lama muncul gurat kekecewaan di paras beliau ketika melanjutkan omongannya, &#x201C;Saya sudah berkali-kali menyampaikan peluang ini ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Yah, tapi belum ada perubahan nyata. Masih begitu-begitu saja.&#x201D;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;line-height: normal;
color: rgb(255, 255, 255);
&#x22;&#x3E;Meski beliau seorang ekonom, saya yakin dasar ucapannya itu bukanlah murni bermotif ekonomi, karena kebijakan pemerintah di bidang kepariwisataan ini sebenarnya sudah ada. Tetapi s...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/22/Aku_Ada_dan_Berdaya</guid>
<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 05:44:29 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Lost in Love</title>
<description>Setelah Eiffel I&#x2019;m in Love (Nasri Cheppy, 2003), kini Tita dan Adit meneruskan kisah cintanya di Paris. Memaksa kota ini menjadi panggung belaka bagi romantika mereka. Memberi peran kepada Paris sebagai penonton petualangan asmara dua anak muda dari Jakarta.

Lebih lebar lagi, kota mode pun menjadi bulan-bulanan kaum elite Indonesia dalam menunjukkan kehidupan kosmopolitan ala Jakarta. Lihatlah para tokoh muda Indonesia di film ini misalnya. Mereka lebih suka naik mobil pribadi daripada moda transportasi publik di Paris, yang sebetulnya amat nyaman dan lebih efisien dibandingkan busway di Jakarta. 

Salah satu poin dari film ini pun terbesit: pajak dan biaya hidup yang mahal di sana tak menyurutkan keluarga elit dari negeri yang sedang dirundung murung ini untuk bermewah-mewahan. Tetapi, saya memakluminya loh. Betul. Soalnya, dalam kisah Eiffel, keluarga Tita dan Adit memang dari sono-nya sudah kaya, dan hei ingat, ini adalah film cinta-cintaan ala Indonesia! 

Berikut ini adalah...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/19</guid>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 10:26:32 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Bangsa (Ke)Keras(an)</title>
<description> &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Nyoman sesekali menyeka keringatnya. Pria tua itu terus berjalan dengan pasti menuju suatu tempat yang mustahil baginya untuk dilupakan. Ketika tiba di lokasi tujuan, wajahnya menyiratkan kesedihan sekaligus kemarahan. Tanah di tepi laut itu terlihat kosong dan sepi. Warga setempat sekitar menganggap angker lokasi itu, padahal pemandangan di sekitar cukup indah. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E; &#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Tiba-tiba saja Nyoman tengkurap, dan kemudian berbisik kepada tanah, &#x201C;Hai kawan-kawan, kalau keadaan memungkinkan, suatu saat nanti kalian akan kuangkat dari perut sang pertiwi!&#x201D;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Nyoman ingat betul peristiwa biadab pada malam puluhan tahun yang lalu. Setelah satu per satu turun dari truk, ia bersama ratusan orang lainnya digiring ke tanah kosong. Dengan tangan terikat ke belakang, mereka lalu berdiri berjejer di depan lubang lebar. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E; &#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Namun, dibantu gelapnya malam, Nyoman berhasil lolos dan bersembunyi di balik semak-semak. Meski takut luar biasa, ia beranikan mengintip ke arah jejeran orang-orang itu. Tak lama ratusan letusa...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/21/Bangsa_KeKerasan</guid>
<pubDate>Thu, 5 Jun 2008 03:30:51 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Mahkota Diriku</title>
<description>&#x201C;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ngga, ada apa dengan rambut?&#x201D; &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E; &#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Via, yang malam itu duduk persis di belakangku, tiba-tiba saja bertanya.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x201C;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Pengen pendek aja,&#x201D; ujarku pelan sambil sedikit tertawa. &#x201C;Kenapa emangnya? Aneh? Cupu yah?&#x201D;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x201C;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Nggak. Cuma biasanya kan gue liat lo gondrong.&#x201D;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Pada malam menjelang pukul 9 itu, tepat sudah tiga hari usia rambut pendekku, hasil potongan Mba Sri, &#x3C;i&#x3E;make up and hair stylist &#x3C;/i&#x3E;langganan ibuku. Ketika gunting Mba Sri dengan elok menari-nari di atas kepalaku sambil memotong helai demi helai rambutku, maka pada detik itu pula aku sudah bersiap diri untuk menerima beragam komentar aneh kelak. Saat itu pula, jantungku berdegup lebih cepat daripada biasanya. Hatiku was-was.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; &#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font style=&#x22;font-size: 9pt; &#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Dan, Via lah ternyata yang pertama kali buka suara. Komentarnya membuatku teringat masa kejayaan sekaligus masa jahiliyah mahkotaku ini dulu, semasa kuliah di pinggiran Kabupaten Sumedang: Jatinangor. Salah satu kecamatan tersibuk di republik ini, dan memiliki iklim layaknya wilayah padang pasir. Panas menyegat ketika sia...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/20/Mahkota_Diriku</guid>
<pubDate>Tue, 3 Jun 2008 12:47:49 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Ayat Ayat Cinta</title>
<description>Fahri (Fedi Nuril) mengetuk pintu flat itu dengan tergesa-gesa sambil memanggil nama Maria (Carrisa Puteri). Gadis muda beragama Kristen Koptik itu pun membuka pintu. Raut wajah Fahri terlihat begitu khawatir. Ada apa gerangan?

Rupanya Fahri hendak meminta tolong Maria untuk mengecek file proposal tesis berbahasa Arab yang telah diketiknya dengan susah payah. Virus jahanam ternyata sudah merusak file itu. Maria lalu menawarkan jalan keluar untuk Fahri yang sedang menyesali diri. Tak butuh waktu lama bagi Fahri dan teman-temannya plus Maria untuk bahu-membahu mengetik ulang proposal itu.

Dari sekilas rangkaian adegan pembuka film Ayat-Ayat Cinta ini, tampak kalau sutradara Hanung Bramantyo sejak awal sudah memilih untuk menuturkan cerita dengan longgar.

Rol film pun terus berputar. Dengan ritme yang cepat, penonton disuguhkan cerita mengenai sosok Fahri, Maria, Aisha (Rianti Cartwright), Nurul (Melanie Putria), dan Noura (Zaskia Mecca), beserta segi-segi kecil kehidupan mereka....</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/18</guid>
<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 09:59:45 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Otomatis Romantis</title>
<description>Ada yang menarik perhatian saya sebelum menonton film ini di Mall Kelapa Gading beberapa minggu lalu. Di dalam satu rangkaian bangunan mall yang besar ini, Otomatis Romantis diputar di tiga bioskop berbeda, yakni La Piazza 21, Gading 21 dan Gading XXI. Sepengetahuan saya, jarang ada film nasional bisa diputar serentak di tiga bioskop ini. 

Dari sini bisa tampak kalau film komedi romantis ini ingin menyasar para penonton dari kelas ekonomi yang berbeda. Setidaknya asumsi saya ini berdasarkan fakta bahwa harga tiket di tiga bioskop itu yang menanjak. Termurah di Gading 21, sedang-sedang saja di La Piazza, dan termahal di Gading XXI tentunya.

Maka yang diserahi tugas untuk menggaet animo para penonton adalah Tora Sudiro dan Tukul Arwana. Monica Hariyanto dan Monty Tiwa, si produser, agaknya mempercayai kalau duo ToTu (Tora-Tukul) inilah resep mujarab untuk meraih rupiah. Dugaan saya, Tora, yang ganteng dan maskulin, cocok disuguhkan untuk penonton Gading XXI. Sedangkan Tukul, yang p...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/17</guid>
<pubDate>Mon, 4 Feb 2008 16:07:14 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>A Mighty Heart</title>
<description>&#x201C;All right, i gotta roll&#x2026;I&#x2019;ll call you. Leave your phone on,&#x201D; kata Danny kepada Mariane, istrinya yang sedang hamil lima bulan, sambil bergegas memasuki taksi dan tersenyum. Ucapannya siang itu seperti pesan terakhir. Membuat ponsel Mariane tetap terjaga selama 24 jam hingga sekitar sebulan ke depan. Tetapi kabar dari Danny tidak pernah datang. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi.

23 Januari 2002, Daniel Pearl, Kepala Biro Asia Selatan Wall Street Journal yang menetap di Karachi, Pakistan, pergi untuk melakukan wawancara dan tidak pernah kembali. Kabar yang dinanti-nanti akhirnya datang beberapa hari setelahnya. Danny diculik dan berita pun tersebar ke seluruh pelosok dunia. Nasibnya kemudian menjadi jelas pada 21 Pebruari. Malam itu Danny dipastikan telah tewas. Kepalanya dipenggal oleh para penculiknya dan tubuhnya terpisah menjadi sepuluh bagian. Proses eksekusi itu terekam dalam video (belakangan rekaman itu tersebar luas lewat internet).

Kisah A Mighty Heart ini pernah terjad...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/16</guid>
<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 14:39:11 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Pak Harto, Anak SD, Matoa, dan Ciganjur</title>
<description>&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;SIANG (27/1) lalu, tiba-tiba kakak saya berkata, &#x201C;Pak Harto meninggal tuh.&#x201D;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22;&#x3E;&#x201C;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Oh ya,&#x201D; jawab saya.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Kabar itu saya terima setengah jamnya sesudahnya. Maklum saat itu saya lagi sibuk bengong di kamar. Jujur, saya menanggapi berita itu biasa saja. Sampai ketika semua stasiun televisi ramai-ramai memberitakan soal kisah hidupnya, saya jadi ingat masa-masa saat masih di sekolah dasar dulu.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;Sekolah saya di SDN Pagi 01 Cipedak, Jakarta Selatan, yang berbatasan beberapa langkah saja dengan wilayah Kota Depok. Tidak jauh di sebelah selatan sekolah, ada jalan yang mengarah ke areal perkampungan warga. Kita, yang tinggal di daerah Ciganjur, kerap menyebut daerah itu &#x2018;AURI&#x2019;. Itulah ujung selatan daerah Ciganjur. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E; &#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;Disebut &#x2018;AURI&#x2019; karena di dalamnya terdapat tanah milik TNI Angkatan Udara yang cukup luas, hingga mampu memuat beberapa lapangan bola. Dulu anak-anak kampung dan teman-teman sekolah saya sering &#x2018;ngadu bola&#x2019; di salah satu lapangan bertanah merah itu&#x2014;yang ujung-ujungnya diakhiri dengan a...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/19/Pak_Harto_Anak_SD_Matoa_dan_Ciganjur</guid>
<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 14:35:03 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Satu Hari yang Berat untuk Otilia dan Gabita</title>
<description>4 Months, 3 Weeks, and 2 Days. Inilah (mungkin) satu-satunya film yang membuat saya duduk dengan tidak tenang selama menontonnya. Bukan karena tidak menarik, tetapi justru sebaliknya dan luar biasa menegangkan. Membuat saya agak merinding. 

Apabila menyimak ide bahwa film adalah proses representasi, maka 4 Months, 3 Weeks, and 2 Days memang nyaris sempurna menjalankan proses itu. Film ini memberikan pemandangan mengenai kondisi Rumania saat komunis masih langgeng, yakni pada era pemerintahan Nicolae Ceausescu. Lebih spesifiknya, tindakan aborsi yang banyak dilakukan para wanita muda saat masa kelam negara itu.

Lewat dua tokoh utamanya, Otilia (Anamaria Marica) dan Gabita (Laura Vasiliu), dua mahasiswi yang bersahabat dan tinggal sekamar di asrama, penonton diajak memasuki kisah drama yang menegangkan ini secara perlahan. Dimulai dari percakapan mereka di dalam kamar, selasar asrama, lalu perjalanan Otilia di dalam bus kota, mendatangi hotel, menyusuri jalan raya sepi yang dingin,...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/15</guid>
<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 13:56:06 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Susahnya Jadi Perawan</title>
<description>
Halle : &#x201C;Gue nggak bercanda, gue masih perawan!&#x201D;

Kalimat itulah satu-satunya ucapan tegas dalam film ini yang memperbincangkan soal keperawanan. Itu juga terucap dari mulut Halle (Nova Eliza) setelah dipaksa untuk melakukan hubungan intim. Selebihnya, film ini hanya diisi oleh materi-materi tidak penting apabila dikaitkan dengan judulnya. 

Begini kisahnya. Halle, pelayan bar-penyanyi berbakat-mahasiswa, kerap disakiti hatinya oleh lelaki. Suatu malam, Kevin (Restu Sinaga), produser musik, datang menawari Halle rekaman. Tetapi, ujung-ujungnya meminta dipuaskan birahinya oleh Halle. Terang saja Halle menolak. Lalu datang Rama (Fathir), penyanyi rock, yang mengajak Hali berduet. Ternyata, mereka saling suka, yang akhirnya diikuti dengan ajakan Rama untuk berhubungan intim. Hali pun marah sambil berkata, &#x201C;Gue nggak bercanda, gue masih perawan!&#x201D;

So?

Susahnya Jadi Perawan agaknya lebih terdengar seperti pembenaran sekaligus keluhan dari pembuat film terhadap kondisi susahnya me...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/14</guid>
<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 13:30:16 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Dimana Ada Kemaluan, Disitu Ada Jalan</title>
<description>Jika harus memilih rumah produksi mana yang lebih saya sukai, apakah Kalyana Shira Film ataukah Miles Film? Nama Kalyana akan saya sebut duluan.

Namun, bukan berarti saya tidak menyukai film-film dari Miles. Soalnya bagi saya, dua rumah produksi ini sekarang tetap berada di baris terdepan dalam dunia film nasional. Tapi, saya sudah jatuh hati pada Kalyana saat Ca Bau Kan (Nia Dinata, 2001) dirilis. Lewat Ca Bau Kan, Kalyana membuat gebrakan yang artistik, dan sukses menampilkan dengan detail wajah hubungan budaya Indonesia dengan etnis Cina pada tahun 1900-an hingga era pasca kemerdekaan.

Selain itu, mirip dengan Miles, film-film Kalyana juga selalu tak mengikuti tren genre film yang saat itu sedang marak dibuat. Tapi, bagi saya, Kalyana punya kelebihan lain, yakni selalu membuat film yang bisa dinikmati tanpa harus berpikir njelimet, memiliki style yang khas, muatan ceritanya berisi gagasan yang jelas, dan sarat dengan kritik sosial. Uniknya, Kalyana hampir selalu menyuguhkan ce...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/13</guid>
<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 14:59:17 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Ngobrol Sama Lila, Eh Sandra</title>
<description>&#x3C;a rel=&#x22;nofollow&#x22; href=&#x22;/photos/hi-res/upload/R1yp5goKCtAAACm7JQU1&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddleb&#x22; src=&#x22;http://images.anggarulianto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R1yp5goKCtAAACm7JQU1/Resize_MG_0188.jpg?et=WtNaO826NarsityE9BfGuQ&#x26;amp;nmid=&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x201C;Penampilan Sandra Dewi sebagai pendatang baru mendatangkan empati,&#x201D; tulis seorang awak redaksi (saya lupa namanya) dari Soap Magazine di poster film Quickie Express.      &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Lalu, dari kanan, arah pandangan mata saya pindah ke kiri lembaran poster. Di situ tertulis: Introducing Sandra Dewi. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Siapa gerangan Sandra Dewi? Sumpah, saya belum pernah dengar nama itu sebelumnya. Wajahnya seperti apa juga tak terbayang oleh saya. Tapi saya penasaran. Kenapa?&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Soalnya, yang memproduksi Quickie Express adalah Kalyana Shira Film. Dan, Kalyana selalu sukses mengorbitkan aktor-aktris baru dalam berbagai filmnya. Contohnya, Tora Sudiro (Arisan!), Mariana Renata (Janji Joni), atau Dominique dan Atiqah Sarumpaet (Berbagi Suami). &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Makanya, mengingat prestasi Kalyana yang satu ini, saya jadi ingin cepat-cepat melihat seperti apa penampilan dan perawakan si Sandra Dewi ini. Apa istimewanya dia. Karena tentu, Kalyana, dalam hal ini Nia Dinata, sudah melihat potensi besar dalam diri Sandra.&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Akhirnya...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/18/Ngobrol_Sama_Lila_Eh_Sandra</guid>
<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 02:56:13 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Guru dari Kolong Tol</title>
<description>   &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Tulisan ini untuk semua guru saya. Juga untuk halaman multiply saya ini yang sudah lama tak diisi hehehe&#x2026;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x3C;b style=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/b&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x3C;b style=&#x22;&#x22;&#x3E;Guru dari Kolong Tol&#x3C;/b&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;i style=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Mulai dari beratapkan beton jalan tol, hingga tenda terpal, dua ibu guru ini tetap setia mengajar anak-anak dari penduduk miskin.&#x3C;/i&#x3E; &#x3C;br&#x3E;&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;SINAR matahari sedang terik-teriknya pada hari di medio bulan Juli 1995 itu. Di langit pun hanya terlihat sedikit gumpalan awan. Makin siang, makin panas. Tapi hembusan semilir angin sesekali menerpa kulit. Membuat siapapun tergoda untuk bermalas-malasan, dan memilih berselonjor istirahat.&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Di pinggir kota Magetan, Jawa Tengah itulah, Sri Irianingsih berada. Tepatnya, di lokasi proyek pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Rian, panggilan akrabnya, adalah pemilik perusahaan properti yang menjalankan proyek itu. &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Karena merasa capai dan tak kuat lagi menahan kantuk, ia pun duduk bersandarkan pada batang pohon yang rindang. Dalam hitungan detik, ia langsung terlelap. Tiba-tiba saja, Rian sudah berada di suatu tempat yang as...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/17/Guru_dari_Kolong_Tol</guid>
<pubDate>Fri, 26 Oct 2007 13:35:19 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Hari-Hari Bergumul Sampah</title>
<description>  &#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;strong&#x3E;&#x3C;em&#x3E;Sopir truk sampah ke Bantar Gebang mendapat upah Rp1 juta per bulan. Kerap kali harus nombok ongkos jalan.&#x3C;/em&#x3E;&#x3C;/strong&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;8 September 2006. Langit makin pekat di Bantar Gebang. Malam baru memasuki pagi. Puluhan truk pengangkut sampah yang diawaki sopir dan kenek terlihat berjejer. Mereka menanti giliran membuang muatan. Tak tahan menunggu, beberapa sopir yang terlelap melahap waktu. Braakk...! Suara keras dikuti gemuruh tiba-tiba membangunkan mereka. Gunungan sampah setinggi tiga puluh meter menghujam. Teriakan meminta tolong terdengar bersahut-sahutan. &#x201C;Suara mereka memilukan,&#x201D; ujar Erik Margono, 39 tahun, supir truk sampah yang saat itu sedang mengantre.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Saat Zona IIIA Bantar Gebang longsor, tak kurang dari 200 pemulung sedang mengais rezeki. Tiga pemulung tak berhasil menyelamatkan diri. Tumpukan sampah langsung mengubur mereka hidup-hidup. Erik, sopir truk itu, tak bisa berbuat banyak. Gelontoran sampah jauh lebih kuat dari pada kuasa manusia. Dan Erik tak bisa ke mana-mana. Ia terjebak d...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/16/Hari-Hari_Bergumul_Sampah</guid>
<pubDate>Thu, 2 Aug 2007 08:37:21 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Pusing</title>
<description>  &#x3C;h3 style=&#x22;margin: 0in 0in 7.5pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; &#x22;&#x3E;&#x3C;font color=&#x22;#000000&#x22; size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Saat panas tubuh yang sedang meninggi lagi, saya paksakan masuk ke dunia maya lewat koneksi yang lambat. Niat utamanya, ingin browsing soal pilkada ibu kota ini. Saya harus memantau pesta demokrasi ini. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/h3&#x3E; &#x3C;h3 style=&#x22;margin: 0in 0in 7.5pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; &#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;font color=&#x22;#000000&#x22;&#x3E;Entah, walau seorang teman sudah menyuruh untuk istirahat saja, tapi saya seperti terdorong untuk meng-up date berita pilkada ini. Pekerjaan yang satu ini sebenarnya telah membuat saya muak. Dunia politik agaknya bukan wilayah jelajah saya. Meski begitu, ini memang resiko pekerjaan yang harus saya jalani, walau mata dan isi kepala sedang berputar-putar.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/h3&#x3E; &#x3C;h3 style=&#x22;margin: 0in 0in 7.5pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; &#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;font color=&#x22;#000000&#x22;&#x3E;Tak enak hati rasanya karena sudah meninggalkan teman-teman dua hari ini. Sorry guys. Saya pun belum tahu besok sudah bisa terjun lagi atau belum. Takut nge-drop lagi jika dipaksakan. Ruang tertutup yang dingin dan dikombinasikan dengan asap rokok tampak tidak pas untuk tenggorokan saya, apalagi kalau ditambah dengan sajian makanan yang penuh minyak.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/h3&#x3E; &#x3C;h3 style=&#x22;margin: 0in 0in 7.5pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; &#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;font color=&#x22;#000000&#x22;&#x3E;Mmmh..by the way, saya sempat melihat ramalan bintang. Sumbernya dari &#x201C;rumah maya&#x201D; sa...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/15/Pusing</guid>
<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 14:23:38 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Transformers</title>
<description>Imajinasi anak-anak itu kreatif dan kadang tanpa memedulikan logika. Itu salah satu momen yang membuat masa kanak-kanak menjadi riang. Masa kala mainan menjadi pelampiasan dan kelanjutan dari imajinasi anak-anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Bagi para anak laki-laki, umumnya terbiasa memainkan mobil-mobilan atau mainan lain yang merupakan representasi mesin mekanik. Misal, pesawat, kapal laut, motor, dan sebagainya. Bukan boneka-bonekaan.

Mungkin, secara tak sadar, perilaku maskulin saat itu dibentuk. Itulah yang saya alami. Saat masa kecil itu pula, serial kartun The Transformers ditayangkan di televisi. Saya termasuk yang menontonnya dan mengkhayalkannya. Hebat sekali tampaknya jika robot-robot itu menjadi teman saya.

Saat itu, tak terpikir kalau pada tahun 2007 ini akan muncul film layar lebar Transformer versi live-action. Teknologi CGI memang membuat visualisasi khayalan itu menjadi mungkin dan &#x201C;dekat&#x201D; dengan kita. Maka, pengalaman menonton film arahan Michael Bay ini m...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/10</guid>
<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 17:17:43 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Kebetulan Saja</title>
<description>&#x3C;FONT face=Verdana&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;Hanya kebetulan. Begitu pikir saya saat menanggapi suatu kejadian aneh. Saya memang tak mau ambil pusing, daripada berpikir yang tidak-tidak. Begitu juga peristiwa yang saya alami ini.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya di hari Sabtu, saya mengikuti tes masuk suatu institusi. Sebenarnya, saya kurang siap mengikuti tes itu. Penyebabnya, kelelahan dan kurang tidur. Pada hari Jumat, ada banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Alhasil, saya baru tiba di rumah sekitar pukul 4 pagi.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;Saya berangkat ke tempat tes sekitar pukul 7.30 pagi. Cuma membawa niat dan membaca basmallah dari rumah. Kalau diterima syukur, tidak diterima berarti belum jodoh saya. Sejam kemudian, tes itu dimulai. Kejadian penuh kebetulan itu pun dimulai.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;Saat saya mengisi kolom nomor peserta, saya belum berpikir yang aneh-aneh. 2007262027. &#x201C;Mmmh, nomor yang agak cantik juga nih,&#x201D; pikir saya sekilas. Ada angka favorit saya di deretan nomor itu: 7.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;Lalu, saya pindah ke kolom tanggal-bula...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/14/Kebetulan_Saja</guid>
<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 16:56:15 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>kacau</title>
<description>&#x3C;P style=&#x22;MARGIN-BOTTOM: 0cm&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=2&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;A href=&#x22;http://anggarulianto.multiply.com/photos/hi-res/upload/RppYOwoKCpYAAEj69pc1&#x22;&#x3E;&#x3C;IMG class=alignright src=&#x22;http://images.anggarulianto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RppYOwoKCpYAAEj69pc1/EFFECT.JPG?et=rZjIwRIqbKaDKj%2BtpNXFLg&#x22; border=0&#x3E;&#x3C;/A&#x3E;Kesal. Itu yang saya rasakan sekarang. Terhadap siapa? Tak ada. Tak ada sasarannya. Tak ada pula pelampiasannya. Untungnya, karakter kesal ini tak berdempetan dengan dendam. Sang penyebabnya adalah ego yang besar. Jadi, lebih baik saya terima saja akibatnya. Menggerutuinya.&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P style=&#x22;MARGIN-BOTTOM: 0cm&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=2&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;Kehidupan saya baru saja diputar ulang. Satu ruas memori yang lampau itu ternyata masih membuntuti saya. Tanpa saya sadari. Kejadian tiga hari terakhir ini membangunkan tidur saya. Juga membangkitkan ingatan saya pada film Butterfly Effect. Jadi, permisi, saya ingin meracau.&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P style=&#x22;MARGIN-BOTTOM: 0cm&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=2&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;Tentu, banyak orang yang sudah tahu film ber-tagline, &#x201C;Change one thing, change everything,&#x201D; ini.&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P style=&#x22;MARGIN-BOTTOM: 0cm&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=2&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;Pada awal film terjelaskan kalau sesuatu sebesar kepakan sayap kupu-kupu dapat menyebabkan sesuatu yang besar di tempat lain. Itu bunyi sederhana dari chaos theory sekaligus ide besar film ini yang dijabarkan lewat cerita berkonsep time travel.&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P style=&#x22;MARGIN-BOTTOM: 0cm&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=2&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;Kecuali Butterfly Effect dan Donnie Darko, saya sebenarnya bukan penyuka film-film tentang time travel. Ke...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/13/kacau</guid>
<pubDate>Thu, 5 Jul 2007 14:09:06 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>ksatria, puteri, dan bintang jatuh</title>
<description>Saya suka kisah di bawah ini sejak membaca novelnya dulu. Nggak tau, pengen aja nulis ulang kisahnya di sini....&#x3C;br&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm; text-align: left;&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Sang Puteri naik ke langit.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria kebingungan.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang,&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;tapi tidak tahu caranya terbang.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria lalu belajar pada burung gereja.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Burung gereja hanya mampu&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;mengajarinya sampai ke atas menara.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria kemudian berguru pada burung elang.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria sedih, tapi tak putus asa.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria memohon pada angin.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;lebih tinggi dari gunung dan awan.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang,&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Ksatria sedih dan kali ini putus asa.&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;Sampai satu malam ada Bintang Jatuh&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;margin-bottom: 0cm;&#x22; align=&#x22;center&#x22; lang=&#x22;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Verdana, sans-serif&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;2&#x22;&#x3E;ya...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/12/ksatria_puteri_dan_bintang_jatuh</guid>
<pubDate>Thu, 5 Jul 2007 14:02:40 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Jendela Waktu</title>
<description>&#x3C;a href=&#x22;/photos/hi-res/upload/Roj7gQoKCpYAABn74181&#x22;&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;/photos/hi-res/upload/Roj8cgoKCpYAAC0vYZk1&#x22;&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;/photos/hi-res/upload/Roj9QAoKCpYAAEMWE3I1&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddle&#x22; src=&#x22;http://images.anggarulianto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Roj9QAoKCpYAAEMWE3I1/Image%28026%29.jpg?et=ID2r%2BWEf8%2Co3Z2R8SGT1EA&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;/photos/hi-res/upload/Roj8cgoKCpYAAC0vYZk1&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;http://images.anggarulianto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Roj8cgoKCpYAAC0vYZk1/Image%28022%29.jpg?et=HxMtMw1lXjJOEwpSDVkGGA&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignmiddle&#x22; src=&#x22;http://images.anggarulianto.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Roj7gQoKCpYAABn74181/jurnal%20waktu.jpg?et=w9Lug6ioYQBOgQAzjGcxPw&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Jendela waktu. Ini julukan yang tepat untuk buku. Apapun jenisnya. Buku bisa memutar rekaman kehidupan. Diungkap lewat coretan tinta dan disokong imajinasi. Kadang akibatnya, masa lampau bisa datang kembali, lengkap dengan segala perasaan kunonya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Alhasil, buku menyuguhkan pemandangan yang sudah lalu. Saya hanya dipersilahkan melongok jejak kehidupan dari daun jendelanya. Dari per halaman buku. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Inilah yang terjadi beberapa hari terakhir. Saya bertemu lagi dengan buku ini setelah sekian lama tak berjumpa. Buku ini tak menonjolkan eksistensinya sejak tertumpuk di rak karena kalah oleh para pesaingnya. Atensi saya juga terpecah oleh rasa hutang membaca beberapa buku&#x3C;sub&#x3E;. &#x3C;/sub&#x3E;Nilai historis buku ini terlupakan oleh saya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Buku ini&#x2014;beberapa teman lebih suka menyebutnya planner&#x2014;pernah menjadi barang wajib saat kuliah dulu. Awalnya, tugas buku ini untuk lembar catatan kuliah dan kegiatan kampus lain. Hingga suatu saat, entah mengapa, seorang teman memulai corat-coret ungkapan hatinya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Terpancinglah teman...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/11/Jendela_Waktu</guid>
<pubDate>Mon, 2 Jul 2007 13:29:18 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Bosan</title>
<description>Sebuah percakapan mini tak penting terjadi beberapa waktu lalu. Saat itu, sehabis menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan saudara saya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Di dalam mobil perjalanan pulang itu, ibu saya berkata, &#x22;De, kamu masih lama kan nikahnya? Ntar-ntar aja yah. Kalo bisa sekolah lagi dulu aja.&#x22;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x22;Iya iya, masih lama. Tenang aja, rambut aja masih gondrong gini,&#x22; balas saya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x22;Lho, jadi kalo ntar tiba-tiba rambutnya udah rapih dan pendek lagi, kamu udah mo nikah?&#x22; tanya tante saya yang juga ikut dalam perjalanan itu.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Halah, barulah saya sadar kalau telah memberikan jawaban yang aneh. Buru-burulah saya mengoreksi.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x22;Maksudnya, selama ade masih pengen berambut gondrong, berarti masih pengen bebas. Belum pengen nikah. Santai aja.&#x22;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x22;Ah, nikah muda juga gak apa-apa,&#x22; balas tante saya lagi.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Tiga jam sebelumnya. Saya berada di dalam sebuah GOR di daerah Cijantung. Akad nikah dan resepsi pernikahan om saya memang dilakukan di situ. Akad nikah mulai pukul 8.30 pagi. Saya dan keluarga datang 15 menit sebelumnya. Saat ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/10/Bosan</guid>
<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 14:08:35 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Kelinci</title>
<description>  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Sore itu, hampir dua minggu yang lalu, gue memutuskan untuk pulang cepat. Niat yang tadinya ingin tiba di rumah lebih dini ternyata gagal. Gue terjebak macet di sepanjang jalan Mampang Prapatan-Duren Tiga-Warung Buncit. Penyebabnya, ada kebakaran di daerah Warung Buncit. Aliran kendaraan pun tersendat. &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Di tengah-tengah kemacetan itu, gue melihat satu majalah di lapak penjual koran. Gue memang rutin membeli majalah itu setahun belakangan ini. Langsung muncul niat untuk membelinya. &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x201C;Nanti aja deh gue cari di kios koran deket rumah,&#x201D; pikir gue saat itu.&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Dengan angkot, akhirnya gue tiba di kios dekat rumah itu. Dari jauh sih gue nggak melihat penampakan majalah itu. Mungkin karena gue melihatnya sekilas saja. Saat sudah di depan lapak itu, barulah gue cari benar-benar. Tengok jejeran majalah dari kanan ke kiri, nggak ada. Dari atas ke bawah, juga nggak ada. &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Tiba-tiba saja si mas-mas penjualnya bertanya, &#x201C;Cari apa mas? Playboy ya?&#x201D; &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x201C;Iya. Ada nggak?&#x201D; &#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;&#x201C;Ada, ada.&#x201D;&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;T...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/9/Kelinci</guid>
<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 12:00:16 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>3 Hari Untuk Selamanya</title>
<description>Saya dan pacar sering mengobrol serius. Bukan soal pernikahan atau masa depan. Tapi lebih sering mengomentari hal-hal yang kadang tidak atau belum memiliki relasi kepentingan dalam masa hidup kami. Perbincangan kami akhirnya sering kali berputar-putar tentang Indonesia, anak muda, sinetron, dan tentu saja, film. Untuk soal film, saya memang berperan besar menjerumuskan pacar dalam obrolan yang sok serius dan sok njelimet. 

Intinya sih, obrolan kami ngalor-ngidul tak jelas juntrungannya. Tapi kami merasakan kalau apa yang diobrolkan itu, sebenarnya, meresahkan pikiran. Dan mungkin, siapa tahu, juga akan meresahkan pikiran orang banyak. Keresahan dan kegelisahan memang lekat dengan manusia. Saya juga pernah dan kadang masih mengalaminya. Entah faktor usia berpengaruh atau tidak atas hal ini. Tapi jika berpengaruh, maka mungkin wajar jika Ambar dan Yusuf merasakan hal yang sama. 

Ambar dan Yusuf berasal dari masyarakat kelas menengah atas. Ambar berusia 19 tahun, sedangkan Yusuf dua...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/reviews/item/9</guid>
<pubDate>Mon, 25 Jun 2007 13:09:41 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>sinis</title>
<description>&#x201C;Apa sih yang mereka cari di sini?&#x201D;   &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Tiba-tiba saja gue tersenyum. Bukan tersenyum bahagia, tapi lebih seperti menertawakan apa yang sedang gue lihat. Memang, sore itu, pikiran gue agak sinis saat memandangi ratusan orang yang sedang bercengkrama, nongkrong, atau mengobrol di Citoz. Entah bagaimana bisa pikiran yang terjewantahkan lewat senyuman nyinyir itu muncul. Gue juga bingung kenapa bisa berpikir sesinis itu. &#x3C;/p&#x3E;        &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Duh, jangan-jangan ini akibat terngiang pola pikir dan karakter Yusuf atau Ambar. Dua tokoh dalam film 3 Hari Untuk Selamanya yang baru saja selesai gue tonton sendirian saat itu. Ah, kalau memang iya, mungkin pikiran gue harus dijernihkan. Jangan salahkan film jika gue berpikir seperti itu. Nggak ada hubungannya. Mungkin. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;    &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22;&#x3E;Empat hari yang lalu. Sembilan hari setelah kejadian itu. Gue dan beberapa teman kuliah seangkatan kumpul-kumpul. Biasalah. Reunian kecil-kecilan sambil makan dan minum. Mengobrol apa saja, dari kerjaan sampai gosip. Dan, tempat kumpul-kumpul ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://anggarulianto.multiply.com/journal/item/8/sinis</guid>
<pubDate>Wed, 20 Jun 2007 11:51:02 -0000</pubDate>
</item>

</channel>
</rss>