| |
Suatu siang, awal tahun ini, isi bus Transjakarta kebetulan tidak terlalu penuh. Beberapa penumpang berdiri, termasuk aku. Pramudinya bus saat itu wanita dan satgasnya pria. Dalam perjalanan dari halte Ragunan hingga masuk kawasan Kuningan, aku bisa menyimpulkan bahwa si ibu pramudi berwatak keras dan galak. Soalnya, ia kerap menutup dan mengusir kendaraan lain yang masuk ke jalur busway sambil mengomel. Namun ibu pramudi mungkin melupakan fakta bahwa Jakarta adalah sebuah hutan rimba modern. Maka satu kendaraan keluar, tak lama kemudian dua kendaraan lain masuk lagi ke jalur busway. Mati satu, tumbuh seribu. Ibu pramudi capek sendiri, tetapi ia tidak jera. Selepas Halte Kuningan Madya, kekesalan ibu pramudi memuncak. Ternyata masih ada dua mobil pribadi yang menguntit bus Transjakarta. Ia pun memberhentikan bus, lalu meminta satgasnya keluar untuk menyuruh dua mobil pribadi itu minggat dari jalur busway. “Bilang aja busnya mogok. Biar (mereka) pada mundur. Bisa kebiasaan mereka soalnya kalo dibiarin!,” perintah ibu pramudi dengan kesal. Sayangnya, si satgas ternyata berwatak lebih kalem, kalah galak dibandingkan dengan pramudinya. Maka satgas pun emoh keluar. “Ntar juga mereka keluar sendiri,” kata satgas sambil senyum-senyum. Mendengar jawaban itu, ibu pramudi jadi tambah kesal dan menggerutu. Tanpa buang waktu, ia sendiri yang keluar dan menyuruh dua mobil pribadi keluar dari jalur. Galak dan tegas. Pelan-pelan mereka mundur. Kembali ke dalam bus, ibu pramudi tak langsung menginjak gas. Ia menunggu dua mobil itu keluar jalur busway dahulu. Lalu bus berjalan kembali. Tepat di belakang kursi pramudi, duduklah seorang nenek. Bertubuh kurus. Wajahnya agak tirus. Rambutnya sebahu dan agak lurus. Mungkin usianya berada di akhir 50 atau awal 60 tahun. Tiba-tiba si nenek bilang, “Harusnya dibiarin aja masuk, kan sama-sama pengguna jalan.” “Ya nggak bisa begitu Bu, kan sebenarnya ada peraturannya,” jawab si pramudi. “Ya nggak apa-apa. Orang sama-sama bayar pajak kok. Sama-sama berhak.” “Bukan begitu Bu, nanti mereka kebiasaan. Kan emang nggak ada yang boleh masuk jalur busway selain bus Transjakarta.” “Ya harusnya dibiarin aja. Kenapa nggak boleh? Orang sama-sama bayar pajak kok. Sama rata, sama rasa.” Ibu pramudi terdiam sejenak. Ia pasti kesal. “Ibu kalo nggak suka turun saja di halte berikutnya. Atau telpon saja ke pengaduan busway. Itu kan ada nomor telponnya di atas ibu!” kata si pramudi dengan ketus. Si nenek diam saja. Di halte berikutnya, ia tetap duduk dengan manis. Tebakanku yang paling sederhana: si nenek kemungkinan besar adalah pengguna kendaraan pribadi yang merasa kerap dirugikan oleh kehadiran busway. Tak heran ia membela dua pengendara mobil pribadi itu. Mendengar percakapan dua orang beda generasi itu, aku tertawa dalam hati. Apalagi sewaktu si nenek mengucapkan ‘sama rata, sama rasa’, aku teringat saat guruku sedang membahas soal paham sosialis dan (atau) komunis semasa SMA dulu. *** Sore hari, beberapa bulan yang lalu. Saat itu jam pulang kantor. Ruas jalan Jakarta tentu kembali sibuk. Para pengendara kendaraan tak sabar ingin cepat sampai di rumah. Sayangnya laju kendaraan tak bisa dipaksakan mengebut. Semua kendaraan merayap dengan kecepatan yang sama seperti seekor kukang menyeret tubuhnya di atas tanah. Termasuk bus Transjakarta yang aku tumpangi saat itu. Meskipun melaju di jalur khususnya dan dianugerahi privilege, bus Transjakarta terpaksa harus merasakan macet seperti yang dialami kendaraan lain. Sore itu, aku ingat ucapan si nenek anonim beberapa minggu yang lalu: sama rata, sama rasa. Ketika itu bus Transjakarta yang aku naiki penuh sesak oleh penumpang. Kebetulan aku duduk sendirian di tangga pintu kiri depan bus. Menjelang tiba di Halte Mampang Prapatan, bus terjebak antrian panjang, di antara deretan panjang mobil pribadi. Di samping kiri kanan bus berseliweran puluhan motor. Mereka melaju memanfaatkan celah yang tersisa. Dug! Bunyi itu tiba-tiba terdengar dari arah samping. Rupanya salah satu motor menyenggol badan bus bagian kanan depan dan langsung ‘kabur’. Bapak pramudi langsung menarik tuas rem dan keluar. Aku pikir ia bakal naik lagi ke bus, tetapi ternyata ia agak lama di luar. Entah apa yang dilakukannya. Aku baru sadar kalau ternyata bapak pramudi sedang bersitegang dengan seorang pengendara motor. Dua-dua lelaki ini saling bentak dengan nada yang makin keras. Pokok persoalannya, pramudi tidak memperbolehkan si pengendara motor lewat karena celah yang ada tidak muat untuk diselipi motor. Pramudi tak mau busnya disenggol dan lecet lagi. Namun, si pengendara motor malah bersikeras kalau celah itu muat untuk motornya. Dua-duanya tak mau kalah. Ia menunjukkan bekas senggolan motor sebelumnya. Tidak berpengaruh, si pengendara motor tetap keras kepala. Mengalahkan keras kulit helmnya mungkin. “Ukur aja, ukur kalo nggak percaya. Bisa lewat kok!” teriak si pengendara motor. “Ini tadi kesenggol Pak. Ini jelas kelihatan lecetnya!” balas pramudi dengan agak galak. “Ya saya kan bisa lewat pelan-pelan, jadi nggak akan kesenggol lagi!” “Nggak bisa Pak. Emang nggak muat kok. Jangan maksa masuk!” “Tapi kan yang jelas motor sebelumnya tetap aja bisa lewat. Salah motor yang tadi kan kalo nyenggol. Kenapa saya yang nggak boleh lewat. Kenapa saya malah dihalang-halangi!!” “Loh kok Bapak malah yang ngotot. Kan Bapak yang lewat jalur busway. Sebenarnya kan nggak boleh masuk jalur busway!!” “Semua orang pada masuk kok. Biasanya juga pada masuk nggak apa-apa. Polisi di belakang juga nyuruh masuk jalur busway!!” “Ya kalo mau masuk jalur busway, ya jangan seenaknya sendiri dong!!” Si pengendara motor lalu turun dari motor. Ia berusaha menutup paksa pintu bus yang sengaja dari tadi dibiarkan terbuka oleh pramudi supaya motor terhalang. Dua pria ini saling berteriak. Posisi badan mereka sudah semakin berdekatan. Di belakang bunyi klakson motor dan mobil pribadi saling bersahutan, membantu untuk menaikkan hawa panas emosi. “Bapak mau apa. Jangan maksa lewat?!” bentak pramudi. “Kamu mau pukul saya. Pukul aja saya. Ayo pukul aja!!!” gertak si pengendara motor sambil berteriak kencang. Di dalam bus, para penumpang ikutan kesal dengan kelakuan si pengendara motor. Seorang bapak yang berdiri dekat pintu depan berteriak, “Udah pukul aja!” Si pengendara motor terdiam. “Heh monyet udah salah ngotot lagi!!” bentak bapak lainnya. Di luar, dua bus Transjakarta dari arah yang berlawanan berhenti. Dua satgasnya keluar menengahi perselisihan. Seorang pengawas (atau mungkin komandan lapangan) bus Transjakarta yang kebetulan lewat juga turut campur. Si pengendara motor kekurangan suporter. Ia tahu diri karena sudah dikerubuti pihak lawan. “Udah jalan aja Pak,” perintah si pengawas kepada pramudi yang tampaknya masih kesal. Bus Transjakarta yang aku tumpangi pun berjalan pelan. Si pramudi lalu menggerutu sendiri, “Saya sih bukan apa-apa. Kalo mereka nyenggol langsung kabur. Tapi kalo mereka yang kesenggol busway dan jatuh malah mereka yang marah-marah terus nuntut. Padahal salah mereka sendiri masuk jalur busway. Sering banget tuh kejadian kayak gitu.” Penumpang tadi ikut membentak si pengendara motor hanya mengangguk-anggguk. Kemudian si pramudi melanjutkan gerutuannya, “Saya sih nggak takut kalo nabrak motor. Busway itu punya banyak duit. Udah sering busway nabrak mati orang, tapi nggak ada tuh pengemudinya yang ditahan.” Aku sedikit tertegun mendengar ucapan si pramudi. Tepat keesokan harinya, sterilisasi jalur busway diberlakukan secara ketat. Di setiap persimpangan sepanjang koridor VI Ragunan-Dukuh Atas, dua orang satgas menjaga jalur busway di setiap jam-jam sibuk. Ditambah lagi dengan polisi dan petugas DLLAJR. Efektifkah? Pada suatu pagi belum lama ini, dua orang tertabrak bus Transjakarta di dekat Jalan Halimun. Mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berboncengan motor. Si pria yang mengemudi motor selamat, tetapi pacarnya tidak. Ia terlindas bus dan mengalami luka parah di bagian kepala. Sebuah koran memberitakan, si pria mengaku masuk ke jalur busway karena diburu waktu. Seorang saksi mengatakan kalau bus Transjakarta sedang melaju pelan saat itu. Jalan raya dan kehidupan kota kembali mengambil nyawa warganya, dan kali itu giliran warga pendatang. *** Bapak itu sudah renta, tetapi semangatnya masih kuat. Ia selalu berjalan kaki dari rumahnya di daerah Ciganjur ke Cilandak setiap selesai subuh. Rutinitas itu dilakukannya demi segepok rupiah. Tanpa alas kaki, ia meniti jalan aspal sejauh lebih kurang 10 kilometer sambil memanggul dua keranjang berisi buah-buah. Lapak kecil di suatu pinggir Jalan Ampera Raya adalah tujuan perjalanan paginya. Bapak tua itu adalah tetanggaku. Rumahnya berjarak sekitar 100 meter dari rumahku. Tujuh tahun yang lalu, setiap pagi aku berangkat ke sekolahku di daerah Pasar Minggu, aku sering melihatnya. Aku duduk di dalam angkot, sedangkan ia berjalan kaki tergopoh-gopoh. Ayah ibuku bercerita, bapak tua itu sudah berjalan kaki setiap pagi sejak Ciganjur masih dipenuhi oleh pohon-pohon karet dan jalan masih bertanah merah, sekitar awal tahun 1970. Bapak tua itu orang betawi asli. Buah-buahan yang dipikulnya adalah hasil kebun miliknya. Dulu kebun seperti milik si bapak tua masih luas bertebaran di sekitar rumahku. Maklum, para tetanggaku banyak yang keturunan betawi asli, dan orang betawi identik dengan juragan tanah. Namun kini, sejak semua jalan dilapisi aspal dan kendaraan makin berjubel, tanah-tanah kebun itu ditanam dengan pondasi rumah. Dibeli oleh keluarga-keluarga mapan pindahan dari pusat keramaian Jakarta. Tujuh tahun yang lalu adalah terakhir kalinya aku melihat perjalanan pagi bapak tua. Selepas SMA, aku hijrah ke Jatinangor dan Bandung. Hingga kembali tinggal tetap di Jakarta sejak dua tahun silam, tak pernah lagi aku melihatnya. Maraknya minimarket yang juga menjual buah-buahan, usianya yang makin tua, jalan raya yang makin diskriminatif terhadap pejalan kaki, dan kelakuan pengendara kendaraan bermotor yang makin kejam terhadap pejalan kaki, membuat bapak tua tinggal di rumah selepas salat subuh. Jalan raya sudah tidak bersahabat lagi untuk si bapak tua. Pak Hasan, bapak tua itu, dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sekitar setahun yang lalu. Tepat di hari Jum’at. *** Kemarin, aku membaca kritik F. Engels tentang jalan dalam Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang (Kusumawijaya, 2004). Ia menulis : “Ada yang menjijikkan mengenai ketergesaan di jalan-jalan, sesuatu yang memalukan harkat manusia itu sendiri. Ratusan ribu orang dari semua kelas dan tingkatan masyarakat saling berdesakan melewati yang lain; apakah mereka ini semua bukan manusia dengan hakikat dan potensi yang sama, yang sama-sama berkepentingan mengejar kebahagiaan?...Tetapi mereka tergesa-gesa melewati satu sama lain seolah-olah mereka tidak memiliki kesamaan sama sekali atau tidak berhubungan satu sama lain dalam hal apapun…” Aku, kamu, dan orang-orang yang hidup di kota tua ini semua serba tergesa. Ketergesaan itu kadang menjadikan warganya sebagai tumbal. Nyawa-nyawa yang melayang begitu saja di jalan. Tak peduli tua ataupun muda. Lagi-lagi aku teringat ucapan si nenek anonim berwajah agak tirus: sama rata, sama rasa.
Suatu malam sebulan yang lalu. Di depan kami, pak profesor sedang asyik menjelaskan materi ekonomi: keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan bersaing (competitive advantage). Di tengah-tengah sesi, beliau bertanya kepada kami, “Sebenarnya, produk apa yang bisa menjadi keunggulan Indonesia?” Beberapa teman lalu memberikan jawaban yang masuk akal. Tetapi belum ada yang sesuai dengan harapan beliau. “Seni budaya kita,” jawab pak profesor, “Lihatlah. Begitu melimpah. Kalau ini dikelola dengan baik pasti bisa menjadi devisa yang besar bagi negara.” Namun, tak lama muncul gurat kekecewaan di paras beliau ketika melanjutkan omongannya, “Saya sudah berkali-kali menyampaikan peluang ini ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Yah, tapi belum ada perubahan nyata. Masih begitu-begitu saja.” Meski beliau seorang ekonom, saya yakin dasar ucapannya itu bukanlah murni bermotif ekonomi, karena kebijakan pemerintah di bidang kepariwisataan ini sebenarnya sudah ada. Tetapi sayang, seperti apa yang dikatakan sastrawan Radhar Panca Dahana, program-programnya lebih bersemangatkan pragmatisme dan akhirnya jatuh pada sifat populer. Kegiatan seni budaya dijadikan komoditas berlabel pariwisata demi meraih profit. Melupakan hal yang lebih esensial. Dalam artikelnya “Negeri Bebal Budaya” (Kompas, 2007), Radhar menuliskan: “Alih-alih mengembangkan dan memperluas koridor ekspresi, menata infrastruktur yang dibutuhkan, kerja dan produk kultural justru mereka baku dan bekukan, lalu diperah seperti jeruk nipis di gelas-gelas pesta. Sementara mereka tidak menyadari, produk-produk kultural itu, seni di antaranya, kini menjadi satu dari sedikit arsenal bangsa ini untuk berbangga dan berargumentasi bahwa ‘aku ada dan berdaya’.” Kemudian saya pun sedikit tersenyum. Senyuman miris karena mengingat perlakuan kita terhadap seni budaya negeri ini. Seminggu yang lalu, saya membaca berita: Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menghimbau para gubernur di seluruh Indonesia untuk membuat film kepahlawanan di daerahnya masing-masing agar meningkatkan produksi film nasional. Radhar, Anda benar. Meski begitu, yang jelas saya masih menyimpan segudang harapan agar seni budaya dan aspek lain negeri ini bisa maju dan berkembang, dan tentu saja untuk itu saya sadar harus selalu optimis dalam segala hal. *** Pada detik berikutnya di malam sebulan yang lalu itu, pak profesor, dengan raut wajah agak dingin, mengutarakan beberapa kebijakan ekonomi pemerintah dahulu dan sekarang yang menurutnya salah. Beliau jelas kecewa. Makin lama aura pesimis tersirat dari ucapannya. Optimisme orang seperti saya versus pesimisme seorang profesor? Saya pun garuk-garuk kepala. Mencermati fakta tentang begitu leluasanya pihak asing menguasai aset-aset penting negara dengan porsi yang kelewat besar, liberalisasi pasar uang dan modal yang dijalankan negara ini, ditambah ucapan pesimis pak profesor—meski saya tidak tahu persis mahzab ekonomi apa yang dianutnya—saya jadi ingat pelajaran moral ketiga belas dari Si Ikal Andrea Hirata: jangan bicarakan keadaan negeri kita dengan seorang ekonom klasik. Pesimis! Dan, yang parah, lambat laun pesimis itu malah menjelma menjadi putus asa. Yang saya rasakan selanjutnya adalah seorang guru besar ekonomi yang menebarkan hawa keputusasaan kepada para mahasiswanya. Ah, mungkin saya salah mengira. Tetapi ternyata dua orang teman juga menangkap hawa yang sama. Saya mengerti jika akhirnya pak profesor ini merasa kecewa, karena curahan kritik dan saran ilmiahnya tidak disimak baik-baik oleh mereka yang rutin melaksanakan rapat kabinet di Istana Negara. Tetapi kalau ujung kekecewaan itu berbuah putus asa, lalu disebarkan oleh para intelektual kepada orang lain yang relatif masih berusia muda, itu tentu tidak baik. Meskipun wajah negeri ini masih murung dan badan republik tercinta belum bisa berdiri sepenuhnya dengan tegak, tetapi janganlah salah satu virus mental mematikan bernama putus asa itu dibiarkan menyebarluas dan merusak kita. Saya tahu ada profesor lainnya yang juga kecewa dengan keputusan para pejabat. Tetapi bukan cuma profesor yang kecewa. Ada banyak akademisi, budayawan, seniman, mahasiswa, dan sebagian besar masyarakat yang juga bersilang pendapat dan kecewa dengan para pejabat. Namun kekecewaan itu tidak harus dibayar dengan putus asa, karena kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Bagi para pemangku jabatan eksekutif, cobalah pahami saran kritik para pemikir yang hidup di luar lingkaran kekuasaan. Janganlah biarkan masyarakat terus kecewa yang berujung kepada putus asa karena kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Janganlah malah membuat masyarakat tambah putus asa akibat menonton iklan di televisi yang berisi keluhan dan apologi salah satu ibu menteri di bidang ekonomi karena tidak bisa menurunkan harga-harga kebutuhan pokok. Janganlah demi alasan kemajuan ekonomi lantas martabat bangsa digadaikan agar mendapat hutang luar negeri. Janganlah bebani lagi masa depan keponakan saya yang masih balita dan bayi-bayi yang baru lahir kemarin untuk membayar bunga hutang luar negeri yang jumlahnya bakalan lebih besar dari jumlah hutang itu sendiri. Janganlah membebani generasi berikutnya dengan masalah yang semestinya bisa dihindari dan dipecahkan di masa kini. Saya bukan mahasiswa ekonomi. Saya mahasiswa pemalas dan banyak melamun. Tetapi saya cukup sadar dan tahu bahwa ada yang tidak beres dengan laju negara ini yang makin lama malah mengarah makin jauh dari kemandirian. Dan saya yakin tidak sendiri merasakan hal ini. Maka, bapak ibu yang dipercaya (dan akan dipercaya) oleh rakyat, janganlah meneruskan dan membiasakan masyarakat dengan segala ketidakmandirian itu. Percayalah kalau masyarakat bisa dan berani untuk mandiri. Tentu jauh lebih baik membiasakan diri dari sekarang untuk bertindak mandiri ketimbang terus hidup menyandarkan diri pada pihak asing yang akhirnya bisa membuat keputusasaan menyebar di masyarakat. Karena jika yang terjadi keputusasaan, saya kira itu adalah pertanda buruk untuk masa depan kita. *** Yang selanjutnya terjadi malam itu adalah saya resah. Pikiran saya campur aduk di dalam sedan Soluna merah milik teman yang saya tumpangi. Rupanya pemandangan sepanjang jalan pulang malam itu menawarkan hiburan yang satir bagi saya. Semacam kilasan gambar-gambar diam penuh makna tetapi merekam kenyataan pahit dan manis yang saling bertautan satu sama lain. Sudah lewat dari jam sembilan malam ketika mobil menyusupi ruas jalan pemukiman elit Menteng dengan rumah-rumah bertingkatnya yang sepi. Dekat Taman Suropati, ada puluhan mobil, yang kebanyakan mewah, terparkir di depan rumah besar yang dijadikan markas sebuah partai politik baru. Tampaknya beberapa mantan jenderal sedang sibuk merapatkan barisan di sana. Lalu mobil membelah kawasan perkantoran Kuningan. Menyusuri jalan di tengah menara-menara beton yang berusaha mencakar langit malam, saat itu saya merasa seperti liliput yang sedang diawasi raksasa dengan badan penuh pernak-pernik menyala. Liliput pun berlari-lari kecil agar cepat bebas dari jangkauan mata para raksasa. Ketika melewati daerah Mampang hingga Warung Buncit, ada markas sebuah partai politik baru. Berbeda dengan pesaingnya yang bermarkas di lokasi bergengsi dekat Taman Suropati itu, markas partai politik baru satu ini menempati bangunan ruko bertingkat tiga. Cuma ada satu Kijang kapsul yang parkir di depan ruko itu. Sisanya sepi belaka. Makin lama, makin masuk ke pelosok selatan. Ritme kehidupan malam masyarakat pinggiran Jakarta makin terasa. Jam sepuluh malam lebih di perempatan Cilandak adalah waktu bagi puluhan pekerja muda dari sebuah mal besar dan hypermarket asal Perancis di Lebak Bulus menunggu angkutan umum untuk pulang ke rumah. Malam itu, lagi-lagi saya seangkot dengan para pekerja ini. Seperti malam-malam sebelumnya, kebanyakan dari mereka adalah perempuan berusia muda. Lonjakan harga minyak dunia yang terus meninggi, isu global warming, atau kekayaan alam Indonesia yang diboyong oleh pihak asing, bukanlah topik obrolan mereka di dalam angkot. Mereka bicara soal keseharian, seperti dimarahi bos, perilaku aneh rekan kerja dan customer, perihal uang receh untuk kembalian di kasir, hingga gosip rekan kerja dan para selebritas. Dari obrolan itu, jelas bahwa mereka hanya ingin bisa tetap bekerja, tak peduli beragam masalah menghadangnya. Upaya para pekerja ini agar bisa bertahan hidup di kota megah dengan biaya hidup yang makin besar, saya pikir adalah bentuk kecil dari kemandirian. Atau coba lihat rakyat kecil di kota ini. Ketika uang makin sulit didapat, mereka menjadi pemulung. Mengais tumpukan sampah dan mengubah botol plastik bekas menjadi uang. Mereka, entah sadar atau tidak, memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Rakyat kecil memang mengeluh, tetapi tampak tidak putus asa, buktinya mereka masih berharap. Lihatlah saat kampanye pemilu atau pilkada, mereka masih memupuk harapan pada calon pemimpinnya. Maka, para profesor, para decision maker di pemerintahan, dan para legislator di Senayan, seharusnya menyadari kalau masih banyak orang dari berbagai lapisan di negeri ini yang memiliki kemandirian dan tidak mudah putus asa. Dua hal itu adalah modal bagi bangsa ini, seperti yang dituliskan Radhar, untuk mengatakan dengan lantang pada dunia, “aku ada dan berdaya”. *** Sesampainya di rumah malam itu, saya teringat satu artikel bagus yang ditulis seorang warga negeri gingseng. Isi tulisannya, saya yakin, bisa membangkitkan semangat siapapun orang Indonesia yang membacanya. Sudah berkali-kali saya membacanya. Lalu saya membongkar tumpukan kliping berita dan artikel. Ketemu. Judulnya, “Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia” (Kompas, 2008). Ditulis oleh Koh Young Hun, seorang profesor di program studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Di penutup tulisannya, Koh Young Hun mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut. ”Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. ”Sungguh mengherankan burung garuda itu!” ujarnya kepada pemburu. ”Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap. ”Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu. Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh. ”Betul, kan?” ujar si pemburu. ”Dia bukan garuda lagi!” Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam. Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: ”Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membumbunglah!” Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda. *** Ya, Koh Young Hun mengingatkan bahwa darah burung garuda sebenarnya mengalir di tubuh setiap manusia Indonesia, dan bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa besar jika kita yakin dan berani. Koh Young Hun, mendiang Bung Karno dan Bung Hatta pasti tak sabar ingin memelukmu dengan erat di alam baka sana.
Nyoman sesekali menyeka keringatnya. Pria tua itu terus berjalan dengan pasti menuju suatu tempat yang mustahil baginya untuk dilupakan. Ketika tiba di lokasi tujuan, wajahnya menyiratkan kesedihan sekaligus kemarahan. Tanah di tepi laut itu terlihat kosong dan sepi. Warga setempat sekitar menganggap angker lokasi itu, padahal pemandangan di sekitar cukup indah. Tiba-tiba saja Nyoman tengkurap, dan kemudian berbisik kepada tanah, “Hai kawan-kawan, kalau keadaan memungkinkan, suatu saat nanti kalian akan kuangkat dari perut sang pertiwi!” Nyoman ingat betul peristiwa biadab pada malam puluhan tahun yang lalu. Setelah satu per satu turun dari truk, ia bersama ratusan orang lainnya digiring ke tanah kosong. Dengan tangan terikat ke belakang, mereka lalu berdiri berjejer di depan lubang lebar. Namun, dibantu gelapnya malam, Nyoman berhasil lolos dan bersembunyi di balik semak-semak. Meski takut luar biasa, ia beranikan mengintip ke arah jejeran orang-orang itu. Tak lama ratusan letusan senjata memecah heningnya malam. Malam itu, maut menjemput 220 nyawa manusia, dan membaringkan mereka sekenanya di balik tanah pesisir pulau Bali (Santikarma, 2003). Penggalan kisah di atas adalah bagian kelam sejarah negeri ini pasca September 1965. Eksekusi besar-besaran terhadap mereka yang dicap berideologi palu arit. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan bahwa jumlah korban yang tewas mencapai tiga juta orang! Jumlah teramat besar yang membuat negeri ini bersaing ketat dengan Jerman di masa Hitler berkuasa untuk urusan kekejian. Kekerasan fisik berujung maut ini dilakukan secara ‘legal’ oleh rezim yang berkuasa saat itu. Kekerasan. Inilah menu hidangan utama untuk masyarakat negeri ini. Tiap hari ada saja bentuk kekerasan yang kita lihat, alami, atau mungkin dilakukan. Hidup di zaman yang katanya semakin edan ini toh tak berarti memaklumi tindak kekerasan apapun bentuknya. Apapun alasannya. Siapapun subjek dan objek kekerasan itu, perseorangan maupun kelompok. Namun hari-hari belakangan ini, tindak kekerasan yang dilakukan kelompok semakin bar-bar saja. Mulai dari aksi protes mahasiswa terhadap naiknya harga BBM yang hampir selalu berujung kekerasan, baik karena diprovokasi aparat atau dipelopori oleh mahasiswa sendiri (aksi blokir jalan dan bakar ban bagi saya sudah termasuk kekerasan). Hingga tindak kekerasan yang paling mutakhir tahun ini, penyerangan dan kekerasan fisik yang dilakukan Komando Laskar Islam (KLI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Sebenarnya, ada satu kelompok lagi yang kerap melakukan kekerasan dan sedang (mungkin juga selalu) disorot publik, yakni aparat keamanan. Tetapi saya emoh membahasnya di sini. Biarlah itu menjadi urusan Komnas HAM. Kelompok mahasiswa dan KLI bagi saya lebih menarik untuk ditelusuri karena beragam paradoksnya. Para mahasiswa di negeri manapun, kita tahu, kerap menjadi barisan terdepan ketika dilakukan aksi massa. Mahasiswa juga selalu menjadi pelaku sejarah dari perjuangan bangsa dan revolusi negeri ini. Karena mahasiswa identik dengan sifat intelektual, dan kaum intelektual memang dibutuhkan oleh republik ini kala masih di dalam kandungan, sekarang pun tentu masih. Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, Soe Hok Gie, adalah beberapa nama yang seharusnya menjadi panutan bagi mahasiswa sekarang sebelum bergerak melakukan protes. Namun yang terjadi kini adalah proses membuat malu terhadap sejarah para mahasiswa pendahulu. Lihat bentrokan aparat dengan mahasiswa. Betapapun saya tidak suka dengan perlakuan kekerasan dari pihak aparat, tetapi tindakan mahasiswa melempar botol atau bom molotov ke arah aparat, bahkan memukuli seorang aparat yang kebetulan lewat dan mungkin saja sedang menabung sisa gajinya agar anaknya bisa mengenyam bangku kuliah, itu juga tidak bisa diterima dengan nalar saya. Begitu juga aksi blokir jalan yang dilakukan para mahasiswa di beberapa wilayah. Itu cara-cara seperti itu tidaklah elok, malah merugikan rakyat yang katanya dibela mahasiswa itu. Kok rasa-rasanya itu bukan kelakuan para kaum muda (yang diharapkan dan katanya) intelektual. Apakah para aktivis mahasiswa itu tidak lagi membaca Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie? Lalu, ada kelompok yang mengatasnamakan Islam tetapi menyerang saudara-saudaranya sesama Islam, hanya karena mereka membela hak-hak warga negara lainnya. Siapapun tahu kalau Pancasila dan konstitusi negara ini menjamin kebebasan beragama dan berpendapat. Kini, siapapun di dunia ini yang melek informasi dan berakal sehat juga mulai memahami kalau Islam pun mengajarkan agar hidup damai dan rukun dengan orang lain. Tetapi KLI, dengan unsur FPI dan ormas Islam lain di dalamnya, meyakini betul bahwa hajar-hantam-jotos adalah solusi sempurna untuk melawan kemurtadan (baca: Ahmadiyah), jadi tak lagi memedulikan hukum negara ini. Mereka membela Islam dengan cara memukuli orang-orang yang juga menganut agama Islam, pria maupun wanita. Mereka menyerang saudara setanah air di hadapan Monumen Nasional (Monas). Monas dibangun saat pemerintahan Soekarno dengan gagasan mulia, yakni membangun sebuah tugu yang bisa mengingatkan perjuangan nasional bangsa Indonesia. Bisa dikatakan bahwa Monas adalah monumen perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda. Dan, saat kekerasan itu berlangsung, Monas akhirnya menjadi penonton sekaligus panggung yang sedang memainkan drama nyata tentang mulai lunturnya cita-cita luhur para founding fathers negeri ini untuk menyatukan warga nusantara yang sangat beragam menjadi satu kesatuan bangsa Indonesia yang kokoh. Kekokohan bangsa memang sedang digerogoti dari dalam. Paling tidak, saling melakukan kekerasan antar kelompok adalah salah satu bentuk gerogotan itu yang lumayan berbahaya. Mahasiswa dan aparat bentrok karena kedua pihak sama-sama bilang bahwa mereka diprovokasi duluan. KLI melakukan kekerasan guna membela diri dan juga karena diprovokasi oleh AKKBB. Sebaliknya, AKKBB merasa LKI lah yang menyerang duluan. Kalau sudah begini, siapa yang salah dan mana yang benar pun jadi membaur. F. Budi Hardiman pernah menuliskan bahwa semakin banyak pelaku kekerasan semakin gigantis massa yang bertindak destruktif, maka semakin kurang personallah motif kekerasan dan semakin merasa benarlah para pelaku kekerasan itu. Yang jelas, beragam tindakan kekerasan ini merefleksikan bahwa tampaknya urat kekerasan masih menarik kencang di dalam tubuh masyarakat negeri ini. Bagi masyarakat Indonesia, kekerasan memang bagian dari sejarah. Masyarakat kita dibesarkan dalam budaya dendam dan kekerasan (Mujiran, 2002). Para raja Jawa zaman dulu sebelum naik tahta kekuasaan selalu membunuh raja yang tengah berkuasa untuk meraih kekuasaan. Praktik kekerasan berulang di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Begitu juga pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan sampai saat ini pun masih terus menjalankan ‘tradisi’ itu. Dalam praktik kekerasan, yang berbicara adalah okol (kekuatan) dan otot (keperkasaan) ketimbang pengetahuan, akal budi, dan kedewasaan. Padahal, budaya kekerasan hanyalah budaya para preman yang terancam untuk mempertahankan diri. Praktik premanisasi semacam ini hanya dikenal dalam masyarakat kuno dan primitif. Lalu, jika dalam masyarakat modern seperti saat ini masih saja terjadi praktik-praktik kekerasan, sudah jelas terdapat persoalan dalam diri pelaku-pelaku tindak kekerasan tersebut. Jika mengaitkan dengan tindak kekerasan mahasiswa dan LKI atau kelompok lain, bisalah dibilang kondisi ini mencerminkan adanya kemerosotan moral, hilangnya nurani, kurangnya rasa saling menghargai dan menghormati, minimnya kesadaran budaya, serta luluhnya nilai kesatuan dan persatuan. Maka persoalan ini menjadi pelik dan tidak bisa dianggap remeh bagi kelanjutan bangsa ini. Dan sebetulnya, kalau kita cermati, permasalahan bangsa ini makin hari makin gawat saja. Sadarkah kita kalau hidup di negeri ini makin tidak aman. Makin tidak baik untuk generasi mendatang. Bukan cuma gara-gara tindakan kekerasan yang makin lumrah dilakukan masyarakat kita, tetapi juga karena banyak hal. Agak keluar dari konteks, beberapa hari yang lalu, saya mendengar dari berita radio bahwa pemerintah akan menjual 40 lebih perusahaan BUMN ke investor asing. Yang membuat miris, umumnya perusahaan-perusahaan BUMN itu menguntungkan negara dan aset penting untuk masyarakat. Sedangkan kekayaan alam dan energi negeri ini, minyak bumi terutama, diboyong ke luar secara berjamaah oleh korporasi asing. Membuat kita kini kesulitan di tengah naiknya harga minyak dunia. Di saat harta negara ini dirampok negara lain, kita menyaksikan tim KPK ke kantor Bea Cukai di Tanjung Priok berhasil menemukan amplop-amplop berisi uang yang diduga sogokan tersebar secara ajaib di berbagai sudut kantor, mulai dari di tong sampah hingga di balik karpet mesjid! Dari balik tembok ruang sidang paripurna para wakil rakyat di Senayan, kabar mengejutkan muncul: anggota dewan dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu staf wanitanya. Ingatan saya pun melayang ke kasus skandal seks heboh anggota dewan lainnya, antara YZ dan si penyanyi dangdut. Dan sangat mungkin masih ada YZ versi lain yang juga sedang berasyik masyuk. Di lapisan bawah masyarakat, orang-orang makin banyak yang memaksakan kehendaknya tanpa memedulikan kepentingan dan hak orang lain. Mereka berkata dengan paksa tanpa kesopanan, “Turun pak, bu, cepet! Hari ini angkot mogok semua. Kita mau demo gara-gara BBM naik,” sambil menyetop angkot lainnya, juga dengan memaksa. Mereka juga bilang, “Pilkada kemarin harus diulang! Ada kecurangan. Kami tidak rela calon kami kalah begini,” sambil melempari kantor pemerintah dengan batu. Dan, akhirnya rakyat kabupaten atau propinsi itulah yang lebih banyak merugi, karena jalannya pemerintahan baru menjadi terhambat. Tiba-tiba perkataan singkat Bu Eliza, guru Tata Negara di SMU dulu, terngiang-ngiang di telinga saya. Kata beliau, “Hak kita dibatasi oleh hak orang lain.” Masalah negara ini sudah bersifat multi-dimensional, begitu kata para pakar. Negeri dan bangsa ini sedang sakit parah, itu kata saya. Dan menurut saya, untuk mengobati negeri ini, pertama kali adalah harus berawal dari diri kita dulu. Kita harus menggunakan akal sehat sebelum dan ketika bertindak. Maka, untuk kawan-kawan sesama mahasiswa, saudara-saudara dari berbagai agama dan aliran kepercayaan apapun, saudara-saudara sebangsa setanah air, janganlah lupa kalau di dalam batok kepala kita bersemayam dengan sempurna sebuah organ yang bernama otak, bagian tubuh yang sangat patut kita syukuri dan manfaatkan secara maksimal. Janganlah kita lebih suka memakai memakai kepalan tangan, dengkul, dan emosi belaka dalam mengatasi semua masalah. Maukah kita disamakan dengan hewan buas? Maukah sakitnya negeri ini tidak sembuh-sembuh? Kalau saya jelas tidak mau. Siapa lagi kalau bukan kita yang membenahi negeri dan bangsa ini. Tetapi di sisi lain, apa pula yang bisa diharapkan dari kaum muda negeri ini jika mereka lebih memilih menggunakan kekerasan daripada akal sehatnya? Menyimak kondisi Indonesia terkini, saya jadi teringat film In The Valley of Elah (Paul Haggis, 2007) yang katanya berdasarkan kejadian nyata itu. Film ini menyuguhkan cerita seorang pensiunan polisi militer, Hank Deerfield (Tommy Lee Jones), yang curiga saat anaknya, Mike (Jonathan Tucker), tidak kembali ke markas militer meski batas pelesir habis. Ketika akhirnya mendapati kenyataan bahwa Mike dimutilasi oleh teman-temannya sesama tentara yang baru kembali dari Irak, Hank sadar kalau yang sebenarnya membunuh anaknya adalah perang di Irak itu sendiri. Perang yang gunanya hanya menebalkan kekerasan sesama tentara Amerika. Hank mengerti kalau moralitas Mike, teman-temannya, dan para tentara muda yang pulang bertugas dari Irak sudah hancur berantakan. Mereka mengalami stres berat, trauma, dan patriotisme semu. Maka, di akhir cerita, saat perjalanan pulang, Hank mampir ke sekolah lokal dan sengaja memasang bendera negaranya dengan posisi terbalik. Melakban tali tiang bendera itu dengan kuat. Lalu menyuruh penjaga sekolah untuk membiarkan saja posisi bendera terbalik seperti itu, jangan diturunkan, bahkan saat malam pun. Padahal di awal cerita, saat Hank belum tahu kenyataan pahit soal nasib anaknya, ia membetulkan posisi bendera negaranya yang dipasang terbalik oleh si penjaga sekolah karena ketidaktahuannya. Kepada penjaga sekolah yang merupakan imigran asal El Salvador itu, Hank menjelaskan makna bendera yang dipasang terbalik, “It is international distress signal. It means we’re in a lot of trouble so come save ourself, becouse we don’t have a prayer in hell of saving ourselves.” Lalu, apabila nantinya ternyata kekerasan selalu mengambil tempat dalam masyarakat kita, apakah bendera Merah Putih juga harus dipasang terbalik?
“ Ngga, ada apa dengan rambut?” Via, yang malam itu duduk persis di belakangku, tiba-tiba saja bertanya. “Pengen pendek aja,” ujarku pelan sambil sedikit tertawa. “Kenapa emangnya? Aneh? Cupu yah?” “Nggak. Cuma biasanya kan gue liat lo gondrong.” Pada malam menjelang pukul 9 itu, tepat sudah tiga hari usia rambut pendekku, hasil potongan Mba Sri, make up and hair stylist langganan ibuku. Ketika gunting Mba Sri dengan elok menari-nari di atas kepalaku sambil memotong helai demi helai rambutku, maka pada detik itu pula aku sudah bersiap diri untuk menerima beragam komentar aneh kelak. Saat itu pula, jantungku berdegup lebih cepat daripada biasanya. Hatiku was-was. Dan, Via lah ternyata yang pertama kali buka suara. Komentarnya membuatku teringat masa kejayaan sekaligus masa jahiliyah mahkotaku ini dulu, semasa kuliah di pinggiran Kabupaten Sumedang: Jatinangor. Salah satu kecamatan tersibuk di republik ini, dan memiliki iklim layaknya wilayah padang pasir. Panas menyegat ketika siang, dan dingin menggigit di kala malam. Empat tahun berdomisili di “kota” kecil ini ternyata mampu menempa keyakinanku terhadap kualitas setiap helai rambutku. Tanpa berniat untuk melebih-lebihkan, merendahkan diri, mawas diri, narsis, eksis, atau malah menghina diri sendiri, tetapi memang rambut di kepalaku ini bisa dibilang adalah satu-satunya elemen yang telihat bagus dari sudut pandang manapun. Kata beberapa teman, jenis rambutku disebut-sebut sebagai rambut idaman wanita. Lurus, hitam legam, dan tebal. Ah, mungkin Narcisius sedang tersenyum kepadaku di akhirat sana. Ia mengacungkan dua jempolnya sambil berkata, “Bagus, bagus Nak. Ayo terus kagumi dirimu sendiri. Ikuti jejakku. Rambutmu itu memang indah tiada tara.” Namun, perlu aku beritahukan kepada kalian bahwa nilai pujian untuk rambutku ini memiliki tingkat kebenaran yang absolut hanya jikalau potongannya sedang gondrong. Paling tidak hingga setengah leher. Karena kalau sedang pendek, entah potongan cepak atau sebagainya, maka aku yakin Narcisius akan berucap lantang, “Menyesal aku memuji rambutmu!” Setiap kali potong rambut dari gondrong ke pendek, sehabis itu pasti ada saja komentar yang keluar dari mulut teman-temanku. Opini mereka bervariasi. Ada yang bernada positif (baca: memuji), tetapi lebih sering yang bernada negatif nan sumbang (baca: menghina). Membuat tidak percaya diri saja. “Najis Ple. Kayak Kobo-Chan lo,” kata seorang temanku terbahak-bahak ketika menatap potongan pendek rambutku. Gelak tawanya keluar tak tertahankan bak melihat Ary Wibowo kembali berambut gondrong. Aku lupa siapa persisnya yang mengeluarkan komentar sadis itu. Yang jelas jenis kelaminnya wanita, dan kandidatnya adalah Butet, Windy, Cucun, atau Ucha. Para wanita perkasa, bukan karena ototnya, tetapi karena profesi yang mereka jalani sekarang. Profesi yang masih menuntut para praktisinya agar bernyali gede pada beberapa negara: jurnalis. Akhirnya, panggilan “Kobo” sempat menghampiri hidupku selama beberapa minggu. Beruntung kecepatan tumbuh kembang rambutku lumayan cepat. Jadi aku segera tak tampak seperti si Kobo yang lucu itu lagi. Sejak kejadian pada tahun 2004 itu hingga sekarang, aku takluk pada kenyataan bahwa batok kepalaku akan terlihat lebih elok jika ditumbuhi rambut panjang. Namun kenyataan itu berasa pahit karena bagaimanapun fakta yang aku dapat selama ini menunjukkan bahwa potongan rambut gondrong ternyata tak begitu disukai oleh para job interviewer, narasumber penting, para sesepuh, bahkan bakal calon mertua! Wahai orang-orang yang beranggapan bahwa potongan rambut pendek itu lebih baik, dengarkanlah ceritaku ini. Secuil kisah hidup yang mampu memanjangkan rasa pahit yang aku rasakan itu tanpa henti karena berkolaborasi dengan ironi. Sepenggal pengalaman yang (semoga) membuat para penganut ortodoks memaklumi perihal rambut gondrong ini jika membacanya. Alkisah, demi menancapkan citra positif diriku di mata para sesepuh dan handai taulan, maka saat menjelang lebaran tahun 2004 dipangkaslah rambut panjangku itu. Setelah melalui beberapa pertimbangan, coba-coba, hingga salah potong, maka model rambut ala duri landak mengkilaplah yang menjadi pemenangnya. Dan, belakangan aku menyesalinya keputusan untuk menerapkan model rambut ini, karena yang terjadi kemudian adalah bencana. Sore itu, di dekat perempatan Coca-Cola, tak jauh dari ITC Cempaka Mas, aku menunggu bus yang mengarah ke Blok M. Sebelumnya sudah belasan kali aku berdiri di situ demi tujuan yang sama. Selain aku ada beberapa orang yang juga menunggu bus. Tak lama, muncul sekelompok laki-laki yang gelagatnya mencurigakan. Mata para laki-laki ini bak mata cheetah yang bersiap memilih seekor rusa secara acak untuk dijadikan santapan di hamparan luas padang savana. Sejenak aku langsung tahu mereka adalah gerombolan Kapak Merah. Perempatan Coca-Cola dan Kapak Merah adalah identik. Ladang berburu dan pemburunya. Siapa warga Jakarta yang tak tahu sepak terjang mereka di kawasan itu. Sudah berkali-kali pula aku diingatkan agar berhati-hati. Namun, karena tidak pernah terjadi tindak kriminal pada diriku selama ini saat berada di situ, rasa khawatirku pun berkurang drastis. Apalagi aku juga ingat pernah melihat salah satu dari anggota gerombolan itu sebelumnya di lokasi ini. Bus yang kunanti tiba. Saat tapak kaki kananku menjejak anak tangga pertama pintu depan bus, hal berikutnya yang terjadi berlangsung cepat. Aku ditarik turun secara paksa dari bus. Di bahu jalan, delapan laki-laki mengerumuniku. Alarm tanda bahaya berbunyi di dalam kepalaku. Digerakkan oleh insting, tanganku langsung menutup celah dua kantong celana jinsku. Aku tak sudi membiarkan dompet dan ponselku lenyap oleh para cecunguk itu. Atau, sesial-sialnya aku tak rela dirampok tanpa melawan. Maka melawan dengan cara mendorong mereka dan bergerak sekuat tenaga ke segala arah tak keruan adalah perlawanan sekaligus pertahanan terbaik bagiku. Ingin rasanya berteriak minta tolong. Tetapi beberapa orang yang berada di sekitar situ hanya berani melihat. Mereka, seperti halnya aku, sadar sedang berperan sebagai rusa yang singgah ke kandang cheetah, sengaja atau tidak. Rupanya pola defensif itu membuatku bertahan cukup lama dari gempuran para Wiro Sableng antagonis itu. “Anjing! Susah banget nih orang,” maki Wiro pertama sambil berusaha membuka celah kantong yang aku tutupi dengan susah payah. Tiba-tiba gerombolan itu bubar jalan. Mereka berpencar. Sebagian masuk ke perkampungan kumuh di sekitar situ. Sebagian lagi menjauh ke arah Pulogadung. Aku terbengong-bengong. Dalam hati aku merasa menang karena menganggap mereka gagal merampokku. Ketika bus selanjutnya lewat, aku pun langsung menaikinya. Cepat kabur dari “Tempat Kejadian Perkara”. Sekitar satu kilometer bus berjalan, aku baru sadar kalau ternyata ponsel keluaran merek sejuta umat telah raih dari kantong celana kananku. Sial! Misi gerombolan Wiro Sableng palsu itu ternyata sukses. Mereka memilih ponsel daripada dompetku. Teman, ingin kuberitahukan dari saripati cerita ini adalah apabila kau sedang menunggu atau sedang di dalam angkutan umum di kawasan ‘merah’ Jakarta, janganlah berpotongan model rambut ala duri landak mengkilap. Duri landak itu bukannya menakutkan si calon pemangsa, tetapi malah menggodanya untuk menghampirimu. Hati-hati. Untuk para orangtua, melihat kasusku, sekiranya sudah bisa disimpukan bahwa berambut gondrong punya keuntungan juga. Tak selalu merugikan atau bercitrakan negatif. Apakah dalam persoalan rambut ini aku berlebihan? Semoga tidak. Namun jika dinilai berlebihan, tengoklah catatan sejarah negeri ini. Mengutip Yudhistira (Kunci, 2007), ternyata lewat citra kekuatan, kekuasaan, dan kewibawaan yang tertanam pada rambut mampu membuat bala tentara di era kerajaan-kerajaan nusantara masa lampau memenangkan peperangan. Sedikit banyak, perihal rambut pun mengiringi penyebaran ajaran Islam secara luas di bumi pertiwi ini. Di zaman kemerdekaan, rambut gondrong menjelma sebagai simbol perjuangan revolusioner. Menjadi salah satu pembakar semangat untuk memekikkan ‘Merdeka atau Mati’. Pasca 1945 lalu menjadi paradoks bagi rambut gondrong. Karena almarhum Soekarno saat itu menyatakan bahwa para pemuda berambut gondrong adalah simbol kontra-revolusioner, penghambat revolusi Indonesia, pendukung Nekolim, dan penggemar musik ngak-ngik-ngok. Di era rezim almarhum Soeharto, situasi yang sama tak menguntungkannya dialami oleh para pemuda berambut gondrong. Mereka dianggap cerminan dari sifat ketidakacuhan pemuda terhadap program pembangunan. Dituduh sebagai orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap masa depan bangsa. Disterotipkan tak jauh berbeda dengan para kriminil. Dirazia aparat keamanan. Jika sudah begitu, protes pun merebak. Semangat masa muda akhirnya meluapkan amarah. Maka tragedi yang sudah lama mengintai di ambang mata meletup. 6 Oktober 1970. Terjadi bentrokan mahasiswa ITB dengan para taruna Akademi Kepolisian dan Brimob. Satu nyawa mahasiswa melayang. Rene Coenraad tewas tertembak pistol milik taruna polisi (Bah! Kebanyakan menonton film koboi tampaknya para calon polisi bau kencur itu). Dari kilasan rekam sejarah ini, jelas bahwa persoalan rambut gondrong yang di permukaan tampak remeh temeh ini rupanya ikut membentuk, meminjam perkataan kritikus film Eric Sasono, proyek bernama Indonesia yang belum kelar ini. Bukan cuma memengaruhi Indonesia malah. Bagi masyarakat Asia Tenggara, rambut adalah lambang dan petunjuk diri yang sangat menentukan. Simbol kekuatan dan kewibawaan seseorang. Begitu ungkap sejarawan Anthony Reid. Begitulah sekelumit cerita rambutku berikut pembelaannya. Mesti diakui bahwa apa yang dikatakan orang lain rupanya membentuk diriku. Perkataan orangtua, teman-teman, atau para kerabat menyuguhkanku pemahaman tentang diriku. Para significant others itu membuatku termakan teori konsep-diri. Bagaimanapun, di abad pencitraan ini, bagiku rambut sebagai mahkota diri itu penting. Paling tidak untuk identitas. Nah teman, bagaimana cerita rambutmu? Ah, tagline iklan shampoo sekali yah.. Masih pada malam yang sama ketika Via beropini soal rambutku, satu orang teman lagi berkomentar dengan biadab, “Ngga. Duh belahan rambut lo kok kayak belahan pan**t sih hahaha.”
SIANG (27/1) lalu, tiba-tiba kakak saya berkata, “Pak Harto meninggal tuh.” “Oh ya,” jawab saya. Kabar itu saya terima setengah jamnya sesudahnya. Maklum saat itu saya lagi sibuk bengong di kamar. Jujur, saya menanggapi berita itu biasa saja. Sampai ketika semua stasiun televisi ramai-ramai memberitakan soal kisah hidupnya, saya jadi ingat masa-masa saat masih di sekolah dasar dulu. Sekolah saya di SDN Pagi 01 Cipedak, Jakarta Selatan, yang berbatasan beberapa langkah saja dengan wilayah Kota Depok. Tidak jauh di sebelah selatan sekolah, ada jalan yang mengarah ke areal perkampungan warga. Kita, yang tinggal di daerah Ciganjur, kerap menyebut daerah itu ‘AURI’. Itulah ujung selatan daerah Ciganjur. Disebut ‘AURI’ karena di dalamnya terdapat tanah milik TNI Angkatan Udara yang cukup luas, hingga mampu memuat beberapa lapangan bola. Dulu anak-anak kampung dan teman-teman sekolah saya sering ‘ngadu bola’ di salah satu lapangan bertanah merah itu—yang ujung-ujungnya diakhiri dengan adu jotos ala anak kecil haha... Sampai akhirnya, kalau tidak salah ingat, saat saya kelas 4 pada tahun 1992 atau 1993, areal ‘AURI’ itu mulai dibangun lapangan golf. Saya sempat kesal gara-gara itu. “Kenapa sih harus dibangun lapangan golf. Olahraga orang kaya. Kita jadi nggak bisa main bola lagi di situ,” ucap Si Angga Kecil dan teman-teman saat itu. Apalagi, pembangunan lapangan golf itu turut menggusur tanah perkebunan warga, termasuk milik kakek saya yang seluas dua hektar. Sebal sekali rasanya. Saya punya banyak memori masa kecil yang indah di kebun luas kakek saya itu. Mulai dari ikut mengantar nenek (alm) yang membawa rantang makan siang untuk kakek saya setiap harinya, menemukan ular di sepanjang jalan setapak, dipatuk si ayam betina karena saya menendang anak-anaknya, digigit-gigit nyamuk kebon yang super besar, naik traktor dari rumah kakek saya ke kebun, hingga ikut memanen hasil kebun. Nah, singkat cerita, jadilah lapangan golf yang dibangun oleh Bob Hasan itu. Namanya MATOA. Mulai saat itu, terjadi perubahan signifikan di Ciganjur. Banyak warga sekitar yang bekerja di lapangan itu. Dari menjadi caddy hingga staf kantor. Paman saya termasuk salah satu yang bekerja di kantor administrasinya. Perubahan lainnya, Jalan Moch. Kahfi I—satu-satunya akses jalan raya beraspal ke daerah Ciganjur yang menembus ke Kota Depok—dipoles. Kontur aspalnya diperhalus. Lubang-lubang ditambal. Lebar jalan agak diperbesar. Mengapa? Karena Pak Harto mulai sering bermain golf di MATOA saban Sabtu pagi. Dalam sebulan, bisa dua kali ia menyambangi lapangan golf itu. Tidak sulit untuk mengetahui jadi tidaknya Pak Harto bermain golf. Jika ia akan datang, sejak pukul enam pagi biasanya bapak-bapak polisi sudah mejeng di pinggir Jalan Moch. Kahfi I. Termasuk di depan sekolah saya. Biasanya rombongan mobil ‘Ncang Ato’—begitu saya dan teman-teman menyebut Pak Harto—melewati sekolah kami menjelang pukul tujuh. Pernah juga ia datang pukul enam lewat sedikit. Kondisi itu membuat saya dan teman-teman sering menunggu-nunggu tibanya Sabtu pagi. Namanya juga anak kecil, maka kalau Pak Harto akan datang, murid-murid sekolah saya sering nongkrong di pinggir jalan. Ketika masih di awal-awal Pak Harto mulai bermain golf di MATOA, begitu rombongannya lewat, kami pun melambaikan tangan. Tetapi ketika sudah begitu sering, lambaian tangan mulai berkurang. Mungkin karena sudah bosan dan Pak Harto jarang membuka kaca jendela mobilnya. Jika beruntung, sesekali kami hanya bisa melihat bayangannya saja dari dalam mobil karena laju rombongan mobil kepresidenan itu memelan ketika melewati sekolah. Soalnya, beberapa meter kemudian deretan kendaraan itu belok kanan ke arah barat dan masuk ke gerbang lapangan golf MATOA. Sepanjang saya ikut bertengger di depan sekolah, sepertinya hanya sekali saya melihat langsung sekelebat wajahnya saat kaca jendela mobilnya diturunkan. Di malam harinya, saat siaran Dunia Dalam Berita TVRI, berita tentangnya yang sedang bermain golf tiap Sabtu pasti disiarkan. Dari layar televisi, Bob Hasan terlihat selalu mendampinginya. Bukan hanya gambar ia sedang bermain golf yang ditampilkan, tetapi juga saat sedang menjaring ikan-ikan gurame—mujair atau nila ya? ah saya bingung. Memang, di lapangan golf itu, pengelolanya juga memelihara ikan-ikan di beberapa kolam yang ada di sana. Dari layar televisi itu pula, saya kerap melihat Pak Harto tertawa lepas saat sedang mendekap ikan hasil jeratannya, yang besarnya betul-betul ukuran jumbo. Pernah suatu kali, ketika menonton tayangan itu, ayah saya berceletuk, “Ah paling baru kemarin ikannya dimasukin ke kolam hehe…” Ketika sudah menginjak bangku SMP, rombongan Pak Harto menuju MATOA masih saya jumpai, walaupun tidak begitu sering lagi. Hingga akhirnya rombongan itu benar-benar berhenti melewati Jalan Moch. Kahfi I lagi sejak penghujung akhir tahun 1998. Dan secara berangsur-angsur saya pun mulai melek soal sepak terjang pemerintahan Pak Harto. Baik segala prestasi dan peran positifnya maupun kebijakan-kebijakan kontroversialnya. AWAL Januari lalu, Pak Harto sakit parah dan dirawat intensif. Stasiun televisi pun mulai ramai memberitakannya. Tayangan beritanya malah berkembang seiring dengan perubahan kondisi Pak Harto, yang rata-rata isinya menunjukkan seolah-olah Pak Harto pasti atau sudah meninggal (tentu sudah banyak yang ngeh soal ini bukan). Bagaimana pengaruhnya? Dari dalam ruang-ruang keluarga di rumah, ayah dan ibu saya terkena imbasnya. Setidaknya omongan orangtua saya merefleksikannya. Dua hari setelah Pak Harto dirawat, ayah saya lebih kerajingan lagi menonton berita sore. Setiap jeda iklan, langsunglah ia sibuk menggonta-ganti saluran lainnya. Mencari berita lain tentang Pak Harto. “Nonton berita De, lihat Pak Harto,” begitu kata ayah saya setiap menjelang waktu siaran berita. Hari ketiga dan keempat masih sama ucapannya. Hari kelima, giliran saya yang berkomentar sebelum berita dimulai. “Udah meninggal belum Pak Harto?” “Hush, sembarangan aja,” jawab ayah saya. “Ups hehe...” Esoknya, komentar ayah saya lain lagi. “Jangan-jangan dia pake susuk, jadi susah meninggalnya.” “Loh kok,” balas saya, bingung. “Iya, kasihan kan kalo bener.” Besoknya, ibu saya yang ikutan komentar. “De, beli buku-buku tentang Pak Harto, kan banyak tuh,” katanya, tiba-tiba. Hari-hari berikutnya, omongan-omongan semacam itu sudah tak muncul lagi di dalam rumah, sampai akhir hayat The Smiling General itu datang. “Bagaimanapun jasanya udah banyak,” kata ayah saya. “Banyak juga yang simpati,” ucap ibu saya, sambil melihat tayangan televisi. Turut berduka cita. Semoga amalan perbuatannya diterima di sisi-Nya dan diampuni segala kesalahannya oleh Allah SWT. Amien.
 “Penampilan Sandra Dewi sebagai pendatang baru mendatangkan empati,” tulis seorang awak redaksi (saya lupa namanya) dari Soap Magazine di poster film Quickie Express. Lalu, dari kanan, arah pandangan mata saya pindah ke kiri lembaran poster. Di situ tertulis: Introducing Sandra Dewi.
Siapa gerangan Sandra Dewi? Sumpah, saya belum pernah dengar nama itu sebelumnya. Wajahnya seperti apa juga tak terbayang oleh saya. Tapi saya penasaran. Kenapa? Soalnya, yang memproduksi Quickie Express adalah Kalyana Shira Film. Dan, Kalyana selalu sukses mengorbitkan aktor-aktris baru dalam berbagai filmnya. Contohnya, Tora Sudiro (Arisan!), Mariana Renata (Janji Joni), atau Dominique dan Atiqah Sarumpaet (Berbagi Suami). Makanya, mengingat prestasi Kalyana yang satu ini, saya jadi ingin cepat-cepat melihat seperti apa penampilan dan perawakan si Sandra Dewi ini. Apa istimewanya dia. Karena tentu, Kalyana, dalam hal ini Nia Dinata, sudah melihat potensi besar dalam diri Sandra. Akhirnya, menjelang tengah malam di bioskop 21 Cilandak Town Squares pada 10 Nopember 2007 lalu, saya bersama kakak saya dan istrinya, serta Hendra, sobat dekat saya, menyaksikan pertunjukan film Quickie Express. Adegan demi adegan muncul, dan hadirlah si Sandra ini. “Oow, ini toh Sandra Dewi. Manis juga plus chubby. Lucu,” bisik saya saat itu ke Hendra. “Iya bener Ngga,” timpalnya singkat. Hingga, terucaplah dari mulut Lila, “Nggak bisa yah. Seedih deeh.” Langsung bersuaralah seisi bioskop dengan serentak, “Oouuhh.” Dan, saya cuma diam, senyum sedikit, sambil ngomong dalam hati, “Nia Dinata nemuin nih cewek di mana sih? Imut amat hehe..”
Sekitar dua minggu lebih setelah itu, tepatnya 28 Nopember, pukul 7.30 pagi, saya sudah ada areal Gelora Bung Karno Senayan untuk suatu urusan. Tiba-tiba Hendra meng-sms, menanyakan kabar saya. Sambil iseng saya balas: “Baik-baik aja sob. Gw lg mau jogging nih di Senayan, eh ktmu Sandra Dewi haha..”
“Waah..titip salam yah dari gue,” balas Hendra.
Nah loh, kok dia percaya haha…Akhirnya, saya bilang yang sebenarnya.
Tak lama, muncul balasan dari Hendra. Begini isinya: “Sialan lo, gue kira beneran. Berarti duluan gue dong ketemu sama sandra. Kmrn dia jd bintang tamu di acara Pesona. Cakep loh hehe..”
Hendra bekerja Femina Group, menangani pelaksanaan event-event di sana. Saya tidak balas sms itu.
Sorenya, sekitar pukul 3 lebih, satu sms dari Tata masuk ke ponsel saya. Tata adalah fashion stylist di kantor saya. Dia minta tolong untuk mencarikan nomer kontak Sandra Dewi. Rencananya, si Lila ini akan dijadikan cover story di majalah terbitan kantor saya.
Besoknya, saya kasih nomor kontak Sandra ke Mba Ade, salah satu bos saya. Ternyata Mba Ade juga minta saya untuk mewawancarai Sandra. Jadwalnya sudah ditetapkan.
Sabtu, 1 Desember 2007, pukul 9 pagi, saya sudah berada di kantor. Hari itu, Sandra Dewi akan datang ke kantor untuk wawancara sekaligus sesi pemotretan. Tapi ternyata dia telat.
Sekitar pukul 9.40, barulah Sandra tiba ditemani adiknya, Tika. Sandra kelihatan lebih kurus. Tak seperti Lila yang agak berisi.
Dan, dimulailah wawancaranya. Lebih tepatnya sih mengobrol, karena daftar pertanyaan yang sudah saya susun, akhirnya tidak saya lihat haha...Tanya Kenapa?
*** Suatu siang pada tahun 2006, Sandra sedang melamun di kantornya, sebuah advertising agency. Saat teman-teman pergi makan siang, Sandra berdiam di kantor sambil menyantap bekal makanan yang dibawanya dari rumah. Lalu, iseng-iseng ia menulis beberapa target hidupnya untuk tahun 2007 di secarik kertas.
“Pertama, ikut kontes kecantikan. Dua, pengen ketemu Nia Dinata terus minta casting. Tiga, main film Nia Dinata,” ujar Sandra, yang memang sangat mengidolakan Nia Dinata. Karena baginya, film-film pemilik rumah produksi Kalyana Shira Film itu selalu berbeda dan smart.
Meskipun cuma iseng saja, tapi dalam hati gadis berdarah campuran Palembang, Tionghoa, Sunda, dan Belanda ini tetap berharap. “Cuma kan nggak berani mimpi lah yah. Orang aku dari daerah, biasa aja,” kata gadis kelahiran Pangkal Pinang, 8 Agustus 1983 ini.
Lalu, Sandra mengikuti kontes kecantikan dari Majalah Cosmopolitan, Fun Fearless Female 2006. Tak disangka, salah satu jurinya adalah Nia Dinata. Akhirnya, saat malam final 17 November 2006, Sandra berhasil menyabet gelar WRP Fun Fearless Female 2006.
“Malam itu niatku, kalo Nia nyelamatin aku, aku mau bilang kalo aku mau casting peran apa kek. Peran yang lewat-lewat doang juga nggak apa-apa,” ucap Sandra, yang bernama lengkap Monica Nichole Sandra Dewi Gunawan ini.
Belum sempat mengutarakan niatnya itu, ternyata malah Nia Dinata duluan yang mengajak Sandra untuk ikut casting di film terbarunya, Quickie Express.
Bagaimana pengalaman casting pertama kamu?
Pas di Kalyana aku dikasih tau akan di-casting untuk peran Lila. Aku lihat para kandidatnya yang dateng. Mereka udah punya nama, malah ada pemenang Piala Citra 2006 segala. Jadi aku mikir, “Mendingan gue pulang deh”. Tapi jauh bo, dari Cipete (letak kantor Kalyana Shira Film) ke rumahku di Kedoya, jadi ongkosnya udah mahal hehe…Ya udahlah, siapa tahu ada peran yang lain yang cocok, nggak usah peran utama nggak apa-apa.
Terus? Setelah sebulan, baru dihubungin kalau aku lolos untuk casting tahap kedua. Waktu itu ada aku sama satu kandidat lain. Aku dites sama Tora Sudiro, reading gitu. Dilihat chemistry-nya bagaimana. Waktu itu, Dimas Djay sama Tora milihnya aku. Kalo teh Nia ternyata emang dari awal udah milih aku.
Jadi hari itu juga langsung diumumkan hasilnya?
Nggak. Jadi pas pulang, di rumah aku bawa terus tuh HP, mau mandi pun aku bawa. Aku berdoa juga, puasa juga. Puasa baru sehari, ternyata ditelpon pas aku lagi mandi, katanya aku dapat peran itu. Teriak-teriak lah aku. Gila. Mimpi aja aku nggak bisa seindah itu, pokoknya bersyukur banget deh.
Kesulitan apa yang kamu alami saat syuting?
Syuting hari pertama aku stres banget, karena nggak percaya diri dan mikir, “Bener nggak sih gue bisa?” Apalagi lawan mainnya udah pengalaman. Aku sampe sakit tenggorokan nggak bisa ngomong.
Reaksi orang-orang Kalyana bagaimana?
Teh Nia ngajak aku keluar (lokasi syuting), terus ngomong ke aku, “Kita tuh percaya sama kamu, kamu harus percaya diri. Kamu lakukan semaksimal mungkin, akting natural aja.” Aku akhirnya sembuh dan syuting.
Kalau adegan favorit kamu yang mana?
Pas dance. Karena, si mantan pacar aku di film itu, DJ Paul, latihannya satu bulan. Sedangkan aku sama Tora harus kompak dan bagus dance-nya. Tapi karena Tora itu sibuk banget kita nggak punya waktu untuk latihan. Jadi pas syuting itu on the spot.
Sama sekali nggak ada koreografi?
Nggak ada koreografi. Tora nari dengan gayanya sendiri, terus aku yang jadi bingung gitu.
Kata Dimas Djay apa?
Aku nanya ke dia, “Kita nggak latihan dulu?” “Udah spontan aja,” kata Dimas Djay. “Aduh bagaimana bisa bagus kalo spontan.” Tapi ternyata, malah yang spontan itu Dimas suka. Ternyata, lucu juga ya kalo spontan. Makanya, aku nari kayak bebek aja di situ hehe…
Kabarnya Dimas Djay galak kalo lagi direct?
Nggak. Orang-orang bilang Dimas Djay galak, padahal nggak. Aku bersyukur di-direct sama Dimas karena dia pinter, detil banget. Bahkan dari bentuk rambutku, kostum, make up kayak warna lipstik, eye shadow, itu semua dia yang ngatur. Karena dia detail banget kasih taunya, jadi aku sangat terbantu.
Ngomong-ngomong soal lucunya film ini, waktu nonton keseluruhan, penonton ada yang ketawa, tapi ada juga yang nggak loh.
Film ini memang bertujuan untuk menghibur aja. Dan kita pesennya cuma satu, kalo nonton film ini santai aja, nggak usah dibawa serius, karena tujuan film ini memang cuma menghibur santai, ketawa-ketawa doang. Jadi bukan film yang serius.
Eh ya San, pas gue nonton, ucapan lo yang, “Yah, sedih deeh..” bikin banyak penonton ketawa loh, malah mungkin bikin gemes.
Hehe..Iya, setiap kali promo atau nonton bareng, semua orang ketawa. Aku mikir lucunya di mana. Temen-temenku juga bilang gitu, “Lo tuh ngomongnya lucu banget.” Cuma aku nggak ngerasa itu lucunya di mana. Dari Kalyana, teteh juga bilang kalo itu bagus karena bisa bikin orang waah hehe...
Ada nggak persamaan atau perbedaan antara karakter kamu dengan Lila?
Kalo Lila kan suka senyum terus, aku memang juga begitu. Terus aku memang selalu positive thinking sama orang lain, karena bagiku setiap orang itu punya sisi negatif dan positif. Tapi kalo Lila nggak begitu, makanya dia nangis aja pas tahu Jojo itu gigolo…Oh iya Ngga, sebenernya cerita aslinya, Jojo sama Lila baikan loh. Malah sampe menikah. Cuma sama Dimas Djay diubah.
Oh gitu..
Iya...
Kalau pacar kamu seorang gigolo bagaimana?
(Sambil tertawa kecil)..aku nggak mau. Pasti aku tinggalin.
Walaupun pacarmu itu pengen tobat dan mencintai kamu banget, kayak Jojo gitu?
Nggak, kalau Sandra Dewi nggak mau. Tetep nggak hehe..
Kamu juga agak gemuk di film itu, emangnya naik berapa kilo?
Iya aku kan di film itu harus tampak lucu, jadi makan terus dan jadi gemuk banget. Naik dari 48 ke 54. Enam kilo.
Sengaja dibuat gemuk biar sesuai style retro filmnya yah?
Iya, karena selain memang Lila itu lucu, Dimas Djay nggak mau tampak sosok model dalam film itu. Jadi pengennya bener-bener cewek tahun 1960-an, kayak Eva Arnaz gitu.
Lo sendiri suka dengan style retro nggak?
Gue sama sekali nggak retro. Gue bener-bener yang casual banget. Pake kaos sama celana jins. Tapi sekarang aku lagi suka pake batik.
Kenapa batik?
Gara-gara teh Nia nih. Jadi pas di Jogya, waktu promo film, teteh bilang, “Kamu tahu nggak, kamu pasti cantik banget kalo pakai batik.” Terus dia beliin aku baju atasan, rok batik, kain batik untuk bikin gaun, gaun batiknya juga. Sampe dua kantong.
Malah, pas malam premiere, dia pinjemin aku baju Edward Hutabarat. Aku bilang “Teteh ini bagus banget, tapi mahal banget. Enam setengah juta, mahal banget.” Aku belum pantes kan pake baju semahal itu. Terus teh Nia bilang, “Udah santai aja, pake aja, kita kan disponsorin.”
Terus beberapa hari yang lalu, dia bilang, “Sandra, teteh beliin kamu baju Edward Hutabarat.” Aku kaget gitu, “My God.” “Udah deh, anggap aja ini bonus karena kamu main bagus di Quickie Express. Teteh seneng, teteh beliin kamu ini.”
Baik banget yah..
Iya, ya ampun aku bingung mesti gimana ngebales dia. Kalo orang udah banyak duit kan susah mau kasih apa kan, orang udah punya semua. Di mana lagi aku dapet produser yang seperti itu, udah kayak keluarga sendiri. Kalyana, teh Nia itu, produser yang sangat memperhatikan kesejahteraan kita.
Kesejahteraan kayak apa aja? Sama Kalyana itu, kalo kita minta atau nyebut apa itu langsung ada. Makan, mobil, pokoknya fasilitas Kalyana sampe honor untuk artis pun dibayar oke. Udah jalan-jalan, seneng-seneng, dibelanjaain, dapet duit lagi. Bahkan Tora bilang, “Lo tu sama kayak gue, karena kita mengawali karir di Kalyana. Kita bersyukur karena bisa kenal Kalyana, Nia Dinata itu oke banget.”
Makin ngefans lah yah sama Nia?
Pokoknya, Nia Dinata tuh orang yang paling berpengaruh besar dalam karir aku. Dia yang menemuin aku di dunia film. Ngajarin aku aktingnya. Dandanin aku juga. Pas teh Nia ke India dan Paris, dia juga beliin aku baju-baju dari sana. Kayak baju yang aku pake sekarang nih dari India.
Ada rencana main film layar lebar lagi?
Ada tiga judul film sih yang nawarin aku main baru-baru ini. Cuma mungkin nggak sebagus Quickie Express yah.
Selektif juga yah?
Kalo film aku selektif. Karena kita udah main di film yang oke, pengennya main film yang oke juga. Sayang aja. At least kalo kita main film lagi, orang menungggu-nunggu dan penasaran, “Wah, dia main film apa lagi yah..” Gitu.
Pelajaran akting apa yang kamu dapet dari Quickie Express?
Jadi aku main di film ini nggak boleh mikir harus cantik. Nggak bole mikir, “Aduh ntar kalo gue jelek gimana yah?” Santai aja, yang penting penonton ketawa. Kalo aku keliatan jelek di layar, tapi bisa bikin orang lain ketawa lihat aktingku, itu baru luar biasa. Puas banget rasanya.
Bagaimana sih awalnya kamu bisa suka akting?
Awalnya aku mikir, kalo kerjaannya akting enak juga yah. Soalnya, kalo orang lain terhibur dengan tontonan yang kita berikan itu kayaknya mulia banget. Bisa dapet pahala juga. Aku sangat mencintai akting, karena tantangannya itu luar biasa banget dan nggak ngebosenin. Sekarang, aku nggak bisa kalau sehari nggak syuting.
Tapi, kenapa kamu kelihatannya kurang pede?
Mungkin, karena aku dari daerah kali yah, jadi kurang pede dibandingkan anak-anak Jakarta.
Sampai sekarang, sesudah main Quickie Express dan sedang main di serial Cinta Indah, juga masih merasa kurang pede?
Iya, sampai sekarang. Aku tetep nggak percaya diri, aku kan masih baru.
Seorang kritikus film dalam tulisannya menilai penampilan kamu di film Quickie Express seperti ini, “Sandra Dewi, yang manis sekali seperti donat Dunkin isi srikaya.” Bagaimana pendapat kamu?
Aduuh…Bener aku baru tahu sekarang loh…(terdiam dan senyum)…Print-in dong tulisannya. Print-in yah.. Iya yah ntar gue print.. Bener yah…Aku bener nggak nyangka sih. Kayak di posternya kan ditulis: Penampilan Sandra Dewi sebagai pendatang baru mendatangkan empati. Tapi aku tetep nggak percaya diri. Aku bener-bener bersyukur. Tuhan, terimakasih aku udah dikasih anugrah kalau sampai banyak yang memuji. Mereka nggak bilang jelek juga udah cukup bagus buatku. Kita masih baru, tapi dipuji kayak gitu kan luar biasa banget.
Kelihatannya kamu tipe orang yang religius juga yah?
Iya sih. Aku percaya kalau semua kesempatan akting, rezeki yang nggak putus-putus dari Quickie tuh dikasih sama Tuhan. Aku percaya kalau rezeki udah ada yang ngatur dan ditetapin Tuhan, dapetnya apa dan pasti sesuai dengan kebutuhan kita. Tuhan tahulah apa yang terbaik buat kita.
Untuk Hari Natal tahun ini, apa rencana kamu?
Natal tahun ini aku ada syuting kejar tayang tiap hari, cuma nanti aku minta libur satu hari. Pas malam natal kumpul-kumpul sama keluarga, makan-makan, ke gereja. (Terdiam sejenak)..Tapi habis itu keluargaku pergi holiday…Udah pada beli tiketnya semua, dan aku sendirian di rumah.
Sedih dong?
Ya sedih sih. Cuma aku pikir aku suka kerja, ya jadi nggak masalah juga.
Hikmah apa yang kamu dapat dari Hari Natal?
Setiap Natal aku dapet rezeki yang beda. Tahun lalu menang WRP Fun Fearless Female 2006 dari Cosmopolitan, aduh rezeki sekali. Tahun ini film sama serial, terus banyak tawaran iklan. Tahun ini tuh rezekinya kayaknya 100 kali lipat deh.
Apa arti keluarga buat kamu?
Buatku, Tuhan dan keluarga itu nomor satu. Aku tuh family girl banget, kumpul sama keluarga, berbuat sesuatu tuh untuk keluarga. Jadi, walaupun aku capek banget, tapi kalo mikir, “Wah apa yang aku perbuat ini bisa bikin keluargaku happy loh,” aku bisa langsung berenergi lagi.
Kalo prinsip hidup kamu sendiri apa?
Intinya, aku tuh nggak boleh iri sama orang lain. Semakin kita iri dengan orang lain, semakin kita nggak ada apa-apanya. Tuhan udah kasih kita rezeki masing-masing.
Dari kecil memang sudah ditanamin nilai-nilai seperti ini oleh keluarga kamu?
Iya. Orangtuaku bilang jangan pernah iri sama orang lain, karena kalo kita udah iri sama orang lain, sifat kita jadi nggak bagus semua. Aku percaya kalo setiap kita iri dengan orang lain, kita semakin terpuruk dan dia akan semakin tinggi.
Apa yang mendorong kamu untuk merantau ke Jakarta?
Kan aku besar sampai lulus SMA di Pangkal Pinang, lalu mutusin ke Jakarta untuk kuliah dan kerja. Karena, aku ingin punya nasib yang beda dengan orang-orang di daerahku. Kalo di daerahku, mereka tamat SMA, menikah, punya anak, dan hidupnya gitu-gitu aja. Yang namanya orang daerah kan mikirnya nggak macem-macem yah. Yang penting hidup, punya uang dan happy.
Bagaimana awalnya hidup sendiri dan jauh dari keluarga?
Kalo kita merantau, uang yang kita dapet kan belum tentu cukup kan sebulan. Jadi uang lima rupiah pun aku tulis, irit banget. Itu saking pengennya survive di Jakarta. Karena terbiasa begitu, aku jadi organize banget orangnya.
Apa kebiasaan hidup di daerah yang memengaruhi gaya hidup kamu sekarang di Jakarta?
Di daerahku, jam 9 malam udah pada tutup pintu. Bener-bener kota mati. Itu makanya aku nggak suka clubbing. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta, prinsip hidup aku jadinya keras dan akhirnya memang nggak terpengaruh juga. Misal, aku nggak bakalan pulang pagi atau pulang malam kecuali untuk urusan syuting.
Kalau begitu, apa hiburan kamu selama tinggal di Jakarta?
Aku seneng hiburannya tuh cuma ke mal, Dufan, dan Taman Safari. Itu aja. Jadi setiap ada waktu, bisa ke Dufan. Hehehe.. Kenapa?
Karena dulu kan cuma pas liburan panjang doang bisa ke Jakarta. Aku suka nostalgia. Jadi, aku sekarang udah tinggal di Jakarta, Dufan dan Taman Safari bukan tempat yang jauh lagi. Sekarang ayo nikmatin tempat-tempat yang dulu waktu kecil pengen didatengin.
Kabarnya udah lama menjomblo, kenapa? Iya, aku jomblo sudah tiga tahunan, tapi aku nggak masalah karena ada teman-teman. Setiap hari juga ketemu teman baru, terus ada keluarga juga. Jadi aku nggak kesepian.
Selama ini tidak ada pria yang cocok?
Aku tuh tipe orang yang sulit jatuh cinta, susah. Tapi kalo udah suka ya suka. Dalem..
Kriteria pria kamu memangnya seperti apa?
Aku nggak punya kriteria loh. Kalau aku suka, kita cocok, ya udah aku pacaran. Tapi kalau nggak, ya nggak. Nggak punya kriteria mesti tinggi atau apalah, pokoknya ketemu suka, pacaran.
Harus seagama juga?
Oh nggak, karena di keluargaku dibebasin...
Gue baca di profile friendster lo, di situ tertulis pengen ketemu sama Keanu Reeves dan Adjie Massaid. Kenapa tuh?
|
|