si pemimpi tulen

Blog EntryMahkota DirikuJun 3, '08 8:47 AM
for everyone
Ngga, ada apa dengan rambut?”

Via, yang malam itu duduk persis di belakangku, tiba-tiba saja bertanya.

Pengen pendek aja,” ujarku pelan sambil sedikit tertawa. “Kenapa emangnya? Aneh? Cupu yah?”

Nggak. Cuma biasanya kan gue liat lo gondrong.”

Pada malam menjelang pukul 9 itu, tepat sudah tiga hari usia rambut pendekku, hasil potongan Mba Sri, make up and hair stylist langganan ibuku. Ketika gunting Mba Sri dengan elok menari-nari di atas kepalaku sambil memotong helai demi helai rambutku, maka pada detik itu pula aku sudah bersiap diri untuk menerima beragam komentar aneh kelak. Saat itu pula, jantungku berdegup lebih cepat daripada biasanya. Hatiku was-was.

Dan, Via lah ternyata yang pertama kali buka suara. Komentarnya membuatku teringat masa kejayaan sekaligus masa jahiliyah mahkotaku ini dulu, semasa kuliah di pinggiran Kabupaten Sumedang: Jatinangor. Salah satu kecamatan tersibuk di republik ini, dan memiliki iklim layaknya wilayah padang pasir. Panas menyegat ketika siang, dan dingin menggigit di kala malam. Empat tahun berdomisili di “kota” kecil ini ternyata mampu menempa keyakinanku terhadap kualitas setiap helai rambutku.

Tanpa berniat untuk melebih-lebihkan, merendahkan diri, mawas diri, narsis, eksis, atau malah menghina diri sendiri, tetapi memang rambut di kepalaku ini bisa dibilang adalah satu-satunya elemen yang telihat bagus dari sudut pandang manapun. Kata beberapa teman, jenis rambutku disebut-sebut sebagai rambut idaman wanita. Lurus, hitam legam, dan tebal.

Ah, mungkin Narcisius sedang tersenyum kepadaku di akhirat sana. Ia mengacungkan dua jempolnya sambil berkata, “Bagus, bagus Nak. Ayo terus kagumi dirimu sendiri. Ikuti jejakku. Rambutmu itu memang indah tiada tara.”

Namun, perlu aku beritahukan kepada kalian bahwa nilai pujian untuk rambutku ini memiliki tingkat kebenaran yang absolut hanya jikalau potongannya sedang gondrong. Paling tidak hingga setengah leher. Karena kalau sedang pendek, entah potongan cepak atau sebagainya, maka aku yakin Narcisius akan berucap lantang, “Menyesal aku memuji rambutmu!”

Setiap kali potong rambut dari gondrong ke pendek, sehabis itu pasti ada saja komentar yang keluar dari mulut teman-temanku. Opini mereka bervariasi. Ada yang bernada positif (baca: memuji), tetapi lebih sering yang bernada negatif nan sumbang (baca: menghina). Membuat tidak percaya diri saja.

Najis Ple. Kayak Kobo-Chan lo,” kata seorang temanku terbahak-bahak ketika menatap potongan pendek rambutku. Gelak tawanya keluar tak tertahankan bak melihat Ary Wibowo kembali berambut gondrong.

Aku lupa siapa persisnya yang mengeluarkan komentar sadis itu. Yang jelas jenis kelaminnya wanita, dan kandidatnya adalah Butet, Windy, Cucun, atau Ucha. Para wanita perkasa, bukan karena ototnya, tetapi karena profesi yang mereka jalani sekarang. Profesi yang masih menuntut para praktisinya agar bernyali gede pada beberapa negara: jurnalis.

Akhirnya, panggilan “Kobo” sempat menghampiri hidupku selama beberapa minggu. Beruntung kecepatan tumbuh kembang rambutku lumayan cepat. Jadi aku segera tak tampak seperti si Kobo yang lucu itu lagi. Sejak kejadian pada tahun 2004 itu hingga sekarang, aku takluk pada kenyataan bahwa batok kepalaku akan terlihat lebih elok jika ditumbuhi rambut panjang.

Namun kenyataan itu berasa pahit karena bagaimanapun fakta yang aku dapat selama ini menunjukkan bahwa potongan rambut gondrong ternyata tak begitu disukai oleh para job interviewer, narasumber penting, para sesepuh, bahkan bakal calon mertua!

Wahai orang-orang yang beranggapan bahwa potongan rambut pendek itu lebih baik, dengarkanlah ceritaku ini. Secuil kisah hidup yang mampu memanjangkan rasa pahit yang aku rasakan itu tanpa henti karena berkolaborasi dengan ironi. Sepenggal pengalaman yang (semoga) membuat para penganut ortodoks memaklumi perihal rambut gondrong ini jika membacanya.

Alkisah, demi menancapkan citra positif diriku di mata para sesepuh dan handai taulan, maka saat menjelang lebaran tahun 2004 dipangkaslah rambut panjangku itu. Setelah melalui beberapa pertimbangan, coba-coba, hingga salah potong, maka model rambut ala duri landak mengkilaplah yang menjadi pemenangnya. Dan, belakangan aku menyesalinya keputusan untuk menerapkan model rambut ini, karena yang terjadi kemudian adalah bencana.

Sore itu, di dekat perempatan Coca-Cola, tak jauh dari ITC Cempaka Mas, aku menunggu bus yang mengarah ke Blok M. Sebelumnya sudah belasan kali aku berdiri di situ demi tujuan yang sama. Selain aku ada beberapa orang yang juga menunggu bus. Tak lama, muncul sekelompok laki-laki yang gelagatnya mencurigakan. Mata para laki-laki ini bak mata cheetah yang bersiap memilih seekor rusa secara acak untuk dijadikan santapan di hamparan luas padang savana.

Sejenak aku langsung tahu mereka adalah gerombolan Kapak Merah. Perempatan Coca-Cola dan Kapak Merah adalah identik. Ladang berburu dan pemburunya. Siapa warga Jakarta yang tak tahu sepak terjang mereka di kawasan itu. Sudah berkali-kali pula aku diingatkan agar berhati-hati. Namun, karena tidak pernah terjadi tindak kriminal pada diriku selama ini saat berada di situ, rasa khawatirku pun berkurang drastis. Apalagi aku juga ingat pernah melihat salah satu dari anggota gerombolan itu sebelumnya di lokasi ini.

Bus yang kunanti tiba. Saat tapak kaki kananku menjejak anak tangga pertama pintu depan bus, hal berikutnya yang terjadi berlangsung cepat. Aku ditarik turun secara paksa dari bus. Di bahu jalan, delapan laki-laki mengerumuniku. Alarm tanda bahaya berbunyi di dalam kepalaku. Digerakkan oleh insting, tanganku langsung menutup celah dua kantong celana jinsku. Aku tak sudi membiarkan dompet dan ponselku lenyap oleh para cecunguk itu. Atau, sesial-sialnya aku tak rela dirampok tanpa melawan.

Maka melawan dengan cara mendorong mereka dan bergerak sekuat tenaga ke segala arah tak keruan adalah perlawanan sekaligus pertahanan terbaik bagiku. Ingin rasanya berteriak minta tolong. Tetapi beberapa orang yang berada di sekitar situ hanya berani melihat. Mereka, seperti halnya aku, sadar sedang berperan sebagai rusa yang singgah ke kandang cheetah, sengaja atau tidak.

Rupanya pola defensif itu membuatku bertahan cukup lama dari gempuran para Wiro Sableng antagonis itu.

Anjing! Susah banget nih orang,” maki Wiro pertama sambil berusaha membuka celah kantong yang aku tutupi dengan susah payah.

Tiba-tiba gerombolan itu bubar jalan. Mereka berpencar. Sebagian masuk ke perkampungan kumuh di sekitar situ. Sebagian lagi menjauh ke arah Pulogadung. Aku terbengong-bengong. Dalam hati aku merasa menang karena menganggap mereka gagal merampokku. Ketika bus selanjutnya lewat, aku pun langsung menaikinya. Cepat kabur dari “Tempat Kejadian Perkara”.

Sekitar satu kilometer bus berjalan, aku baru sadar kalau ternyata ponsel keluaran merek sejuta umat telah raih dari kantong celana kananku. Sial! Misi gerombolan Wiro Sableng palsu itu ternyata sukses. Mereka memilih ponsel daripada dompetku.

Teman, ingin kuberitahukan dari saripati cerita ini adalah apabila kau sedang menunggu atau sedang di dalam angkutan umum di kawasan ‘merah’ Jakarta, janganlah berpotongan model rambut ala duri landak mengkilap. Duri landak itu bukannya menakutkan si calon pemangsa, tetapi malah menggodanya untuk menghampirimu. Hati-hati. Untuk para orangtua, melihat kasusku, sekiranya sudah bisa disimpukan bahwa berambut gondrong punya keuntungan juga. Tak selalu merugikan atau bercitrakan negatif.

Apakah dalam persoalan rambut ini aku berlebihan? Semoga tidak. Namun jika dinilai berlebihan, tengoklah catatan sejarah negeri ini.

Mengutip Yudhistira (Kunci, 2007), ternyata lewat citra kekuatan, kekuasaan, dan kewibawaan yang tertanam pada rambut mampu membuat bala tentara di era kerajaan-kerajaan nusantara masa lampau memenangkan peperangan. Sedikit banyak, perihal rambut pun mengiringi penyebaran ajaran Islam secara luas di bumi pertiwi ini. Di zaman kemerdekaan, rambut gondrong menjelma sebagai simbol perjuangan revolusioner. Menjadi salah satu pembakar semangat untuk memekikkan ‘Merdeka atau Mati’.

Pasca 1945 lalu menjadi paradoks bagi rambut gondrong. Karena almarhum Soekarno saat itu menyatakan bahwa para pemuda berambut gondrong adalah simbol kontra-revolusioner, penghambat revolusi Indonesia, pendukung Nekolim, dan penggemar musik ngak-ngik-ngok.

Di era rezim almarhum Soeharto, situasi yang sama tak menguntungkannya dialami oleh para pemuda berambut gondrong. Mereka dianggap cerminan dari sifat ketidakacuhan pemuda terhadap program pembangunan. Dituduh sebagai orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap masa depan bangsa. Disterotipkan tak jauh berbeda dengan para kriminil. Dirazia aparat keamanan. Jika sudah begitu, protes pun merebak. Semangat masa muda akhirnya meluapkan amarah. Maka tragedi yang sudah lama mengintai di ambang mata meletup.

6 Oktober 1970. Terjadi bentrokan mahasiswa ITB dengan para taruna Akademi Kepolisian dan Brimob. Satu nyawa mahasiswa melayang. Rene Coenraad tewas tertembak pistol milik taruna polisi (Bah! Kebanyakan menonton film koboi tampaknya para calon polisi bau kencur itu).

Dari kilasan rekam sejarah ini, jelas bahwa persoalan rambut gondrong yang di permukaan tampak remeh temeh ini rupanya ikut membentuk, meminjam perkataan kritikus film Eric Sasono, proyek bernama Indonesia yang belum kelar ini.

Bukan cuma memengaruhi Indonesia malah. Bagi masyarakat Asia Tenggara, rambut adalah lambang dan petunjuk diri yang sangat menentukan. Simbol kekuatan dan kewibawaan seseorang. Begitu ungkap sejarawan Anthony Reid.

Begitulah sekelumit cerita rambutku berikut pembelaannya. Mesti diakui bahwa apa yang dikatakan orang lain rupanya membentuk diriku. Perkataan orangtua, teman-teman, atau para kerabat menyuguhkanku pemahaman tentang diriku. Para significant others itu membuatku termakan teori konsep-diri.

Bagaimanapun, di abad pencitraan ini, bagiku rambut sebagai mahkota diri itu penting.

Paling tidak untuk identitas. Nah teman, bagaimana cerita rambutmu? Ah, tagline iklan shampoo sekali yah..

Masih pada malam yang sama ketika Via beropini soal rambutku, satu orang teman lagi berkomentar dengan biadab, “Ngga. Duh belahan rambut lo kok kayak belahan pan**t sih hahaha.”


11 Comments
nozqa wrote on Jun 3
Ah, mungkin Narcisius sedang tersenyum kepadaku di akhirat sana. Ia mengacungkan dua jempolnya sambil berkata, “Bagus, bagus Nak. Ayo terus kagumi dirimu sendiri. Ikuti jejakku. Rambutmu itu memang indah tiada tara.”
keren nih...
setansurga wrote on Jun 3
teman : eh Jek rambut kok di potong
setan : iya rencana biar keterima kerja, taunya ga... ( Kerenan Gondrong Keknya )
teman : Tapi agak ganteng kok
setan : serius lo...
teman : iya...
setan : dalam hati ( emang klo bawaan ganteng, ya ganteng aja lagi )

Ada yang bilang lebih maut lagi mas .... Kayak Belahan "Pe**k"

asik tulisannya plus minus...
riefmaniac wrote on Jun 3
rambut emang bukan cuma mahkota (yang konon) milik wanita (saja)..
dimak wrote on Jun 3
Teman, ingin kuberitahukan dari saripati cerita ini adalah apabila kau sedang menunggu atau sedang di dalam angkutan umum di kawasan ‘merah’ Jakarta, janganlah berpotongan model rambut ala duri landak mengkilap. Duri landak itu bukannya menakutkan si calon pemangsa, tetapi malah menggodanya untuk menghampirimu. Hati-hati. Untuk para orangtua, melihat kasusku, sekiranya sudah bisa disimpukan bahwa berambut gondrong punya keuntungan juga. Tak selalu merugikan atau bercitrakan negatif.
ah masa ple.. ada kok yang gondrong tapi takut ke dufan..
gamasatria wrote on Jun 4, edited on Jun 4
dimak said
ah masa ple.. ada kok yang gondrong tapi takut ke dufan..
ahhhh.. untung gua gak gondrong.... apalagi ceking kayak sumpit.... cuih....
dimak wrote on Jun 4
loh, bukan lo kan gam?
gamasatria wrote on Jun 4
dimak said
loh, bukan lo kan gam?
yaeyaaalahhhh.... masak gua kayak gitu... hwahahahaahha
anggarulianto wrote on Jun 5
"Pe**k"
seharian mikir, nggak tau juga kata sebenernya? nggak gaul ni gue hehe..
anggarulianto wrote on Jun 5
nozqa said
keren nih...
kalimat ini terinspirasi dari novel lokal sebenernya..
anggarulianto wrote on Jun 5
ahhhh.. untung gua gak gondrong.... apalagi ceking kayak sumpit.... cuih....
berarti orang yang berambut pendek udah berani nih diajak ke dufan. ayo gam kita ke dufan lagi?
gamasatria wrote on Jun 5
berarti orang yang berambut pendek udah berani nih diajak ke dufan. ayo gam kita ke dufan lagi?
bosen ke dufan 'ple... mending ke ragunan aja yukkk....
lagian ke dufan mahal 'ple... rejekinya belom sampe buat kesana...
lagian gua gak sempet 'ple... maklum, kerja rodi gini sekarang....
*banyak alesan*

hwhahahaahahahahhaha.........
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help