| |
  | Wanted | Jul 15, '08 5:28 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Perkenalkan jagoan baru Hollywood, Wesley Gibson (James McAvoy). Hati-hati, ia mampu menembakkan senjata api sehingga membuat laju pelurunya melengkung. Wesley, seperti halnya Neo, dianugerahi kemampuan untuk merekayasa laju peluru.
Karena itu, Wesley adalah manusia terpilih. Ia ditakdirkan untuk menjadi anggota Fraternity, kelompok pembunuh elit, yang bertugas menjaga keseimbangan dunia. Fraternity berhak membinasakan nyawa manusia-manusia yang berprospek membahayakan kehidupan masyarakat. Fraternity hampir mirip dengan divisi Pre-Crime dalam Minority Report (2004). Sedikit bedanya, Pre-Crime tidak diwajibkan membunuh targetnya.
Nah, kalau divisi Pre-Crime memanfaatkan kekuatan indera keenam si jenius kembar tiga (pre-cogs) untuk memutuskan siapa yang menjadi kriminilnya. Maka Fraternity mengandalkan sebuah mesin penenun nan ajaib dan penuh daya magis. Kenapa? Karena pada kain tenunannya itulah terdapat kode tersembunyi, yang jika ditafsirkan dengan binary code akan keluar nama-nama manusia yang harus dibunuh.
Saya tak habis pikir dengan pencapaian kelompok penenun di zaman dahulu yang sukses menemukan kode-kode tersembunyi itu. Saya pikir ini adalah invention yang penuh keisengan, kalau tidak mau dikatakan menggelikan.
Tak heran jika Wesley sempat ragu pada takdir pilihannya dan tugas perdananya. Ia bertanya-tanya kenapa harus membunuh manusia tanpa perlu mengetahui alasannya. Mendengar itu, maka sang mentor, Fox (Angelina Jolie), bercerita tentang kisah hidupnya yang tragis. Dan satu cerita nyata itu rupanya lebih dari cukup untuk membuat Wesley akhirnya percaya akan takdir dan tugasnya.
Kini ia tahu mengapa ia harus membunuh: karena memang ia tidak perlu tahu alasannya. Cocoklah dengan ucapan dingin pimpinan Fraternity, Sloan (Morgan Freeman), “Saya yang menafsirkan, kamu yang membunuh.”
Wesley pun mulai membunuhi targetnya, tentu dengan aksi penuh gaya. Mulai dari membelokkan peluru, menembak sambil menjungkirbalikkan mobilnya, hingga menembak target dari jarak sangat jauh dan kelewat sulit untuk ditempuh peluru—tugas yang sebetulnya lebih cocok diserahkan kepada rudal kendali saja.
Yah, semoga para fisikawan yang menonton film ini mahfum, karena di sini gaya lebih penting. Jadi, beragam aksi yang sebetulnya hampir mustahil dilakukan ini tak perlu dipikirkan terlalu serius dengan nalar. Cerita sudah kalah bersaing di sini.
Saat film kelar, saya coba membandingkan Wanted dengan The Matrix. Bagi saya, aksi-aksi dalam The Matrix lebih inovatif dan tampil agak revolusioner. Meski juga sedikit mustahil, tetapi cerita mengenai mesin dengan artificial intelligence-nya, yang menjadikan manusia tak ubahnya seperti batere Energizer, terasa lebih visioner dan membuat aksi-aksi Neo lebih memungkinkan terjadi.
Sedangkan Wanted, bagi saya, tak menawarkan aksi-aksi yang baru, kecuali soal gaya, yakni terutama peluru yang bisa dibelokkan itu. Atau, seperti opini teman saya tentang film ini, “Kayak film action Hongkong.” Entah film apa yang dimaksudnya.
Akhirnya, andaikan saja saya wajib memilih satu takdir dari dua alternatif yang teramat sulit: hidup di dunia yang dikendalikan mesin-mesin pintar sebagai sumber energinya, atau hidup sebagai hitman yang membunuh karena sehelai kain tenun telah menitahkannya. Maka, dengan berat hati, saya lebih rela memilih kehidupan yang pertama saja.

 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Setelah Eiffel I’m in Love (Nasri Cheppy, 2003), kini Tita dan Adit meneruskan kisah cintanya di Paris. Memaksa kota ini menjadi panggung belaka bagi romantika mereka. Memberi peran kepada Paris sebagai penonton petualangan asmara dua anak muda dari Jakarta.
Lebih lebar lagi, kota mode pun menjadi bulan-bulanan kaum elite Indonesia dalam menunjukkan kehidupan kosmopolitan ala Jakarta. Lihatlah para tokoh muda Indonesia di film ini misalnya. Mereka lebih suka naik mobil pribadi daripada moda transportasi publik di Paris, yang sebetulnya amat nyaman dan lebih efisien dibandingkan busway di Jakarta.
Salah satu poin dari film ini pun terbesit: pajak dan biaya hidup yang mahal di sana tak menyurutkan keluarga elit dari negeri yang sedang dirundung murung ini untuk bermewah-mewahan. Tetapi, saya memakluminya loh. Betul. Soalnya, dalam kisah Eiffel, keluarga Tita dan Adit memang dari sono-nya sudah kaya, dan hei ingat, ini adalah film cinta-cintaan ala Indonesia!
Berikut ini adalah rumus kisah cinta muda-mudi kita yang sedang dimabuk asmara.
Akibat ditinggal sang kakak yang ingin asyik bergaul dengan teman-teman seumurannya dari KBRI, dicueki mama papa yang sibuk menjamu rekan bisnis di restoran Padang milik keluarganya, dan dijuteki Adit (Richard Kevin) si tunangan yang kaku plus ketus, Tita (Pevita Pearce) pun bosan dan kesal. Ia pergi ke café dan keliru memesan bercangkir-cangkir kopi.
Masih di café itu, Tita bertemu dengan Alex (Arifin Putra). Namun karena bakat cerobohnya dan malu yang tak terkira, ia malah lari dari Alex. Tita asal naik bus trayek ke mana saja dan tersesat. Keawamannya dengan lekuk Paris, kenyataan bahwa orang Perancis lebih mampu berbahasa ibunya daripada bahasa Inggris, dan ego remajanya yang besar, membuat Tita jauh dari rumah.
Untung ada Alex yang membantu Tita menemukan jalan pulang. Kontribusi Alex tak cuma sampai situ. Di sini, ia adalah pelaku dalam fenomena dunia kecil.
Di sudut lain kota Paris, Adit dan keluarga Tita pontang-panting mencari Tita. Dalam hati, Adit mengutuki diri sendiri karena kekakuannya yang menyebabkan Tita hilang. Sedangkan Tita yang sadar kalau dirinya telah membuat keluarga juga tunangannya kelabakan, malah asyik curhat menelpon teman-temannya di Jakarta. Inilah pengejewantahan kekesalan Tita yang masih remaja tanggung itu.
Sederhananya, Tita dan Adit tidak sinkron dalam memandang cinta yang seharusnya. Ditambah faktor ego yang sama-sama tinggi, membuat mereka lost in love. Kedewasaan kedua insan ini pada akhirnya diuji.
Kemudian, bangkitlah keheranan saya terhadap film ini (sama seperti ketika saya menonton Eiffel lima tahun yang lalu), yakni mengenai benturan antara nilai modern dengan tradisional di dalam ceritanya. Setidaknya, model benturan ini tampak dari masalah perjodohan dan karakter Tita dan Adit.
Dalam Eiffel, diam-diam rupanya Tita dan Adit dijodohkan oleh orangtuanya. Tita dan Adit yang memang saling suka kemudian bertunangan, juga dengan diam-diam. Bicara soal perjodohan, roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli layak disebut. Bedanya, perjodohan pada era Siti Nurbaya bersifat memaksa karena tuntutan adat Minangkabau kala itu. Sedangkan, perjodohan Tita dan Adit dilakukan secara sukarela dalam lingkungan masyarakat urban produk modernitas Jakarta era kiwari.
Sampai sekarang praktik perjodohan memang masih terjadi dalam beragam versinya, dan mungkin saja perjodohan sukarela Tita dan Adit termasuk salah satunya. Namun, lingkungan dimana keluarga Tita dan Adit hidup berada dalam lingkaran masyarakat elite ibukota yang berpendidikan tinggi dan berpandangan modern. Ini menjadikan perjodohan, pertunangan, dan akhirnya kisah cinta Tita dan Adit berjalan penuh benturan antara modern-tradisional yang—sayangnya—tidak logis.
Ketidaklogisan ini bersambung ke soal karakter. Lihatlah Adit, yang masih kuliah, tetapi mengajak Tita, yang belum lulus SMU, bertunangan. Ini menunjukkan adanya perbedaan nilai yang dianut Adit dengan umumnya para anak muda (cowok) generasi iPod.
Tita juga sama. Ia mau bertunangan dengan Adit tanpa berpikir matang dan berembuk dulu dengan orangtuanya. Kenekatan Tita ini bukanlah menunjukkan kedewasaan berpikir dan bersikap, tetapi malah menampakkan perilaku tipikal remaja, yang umumnya beremosi masih labil. Seperti sukacita spontan remaja terhadap hawa romantis sambil bersenandung, “Ooh so sweet.”
Karakter Tita dan Adit ini bertolakbelakang dengan nilai-nilai kehidupan anak muda Jakarta sekarang yang sedang diterpa dan dibentuk oleh arus modernisasi (juga westernisasi). Misal, bekerja yang mapan dulu baru menikah; meraih karir yang bagus dulu baru menikah; atau, malah hidup bersama tanpa ikatan nikah itu tidak apa-apa.
Karakter Tita dan Adit ini juga menjadi tidak logis karena tidak sejalan dengan kebiasaan para penghuni puncak strata ekonomi dan sosial masyarakat kota yang modern. Apalagi keluarga mereka yang bercokol di puncak piramida ini juga jauh dari pengaruh nilai religius dan adat yang kolot. Kelemahan ini bertambah parah saja karena film ini menyajikan karakter-karakternya begitu saja, tanpa pengembangan lebih dalam.
Dengan begitu, Lost in Love hanya tampak ingin merayakan kemodernan semu. Gagasan Rachmania Arunita (penulis skenario dan sutradara) pun terasa mundur dari zamannya. Kalah dengan gagasan Marah Rusli yang terasa mendahului zamannya, bahkan terus relevan hingga sekarang. Roman Siti Nurbaya, yang menjadi counter-culture pada eranya, melangkahi kemodernan kisah Lost in Love.
Akhirnya, saya pun memaklumi kebingungan Tita saat harus memilih jalan pada pertengahan film. Ketimbang memilih cara yang lebih berguna, seperti meminta tolong kepada polisi setempat untuk menunjukkan letak KBRI, Tita malah menebak-nebak jalan sekenanya sambil merem.
Ya, cara berpikir yang tidak dewasa dan modern yang menjangkiti tokoh-tokoh dalam film ini rupanya ditularkan dari para pembuat filmnya. Lagi-lagi saya maklumi saja lah. Mengingat lagi ini kan film cinta-cintaan ala Indonesia!

| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Fahri (Fedi Nuril) mengetuk pintu flat itu dengan tergesa-gesa sambil memanggil nama Maria (Carrisa Puteri). Gadis muda beragama Kristen Koptik itu pun membuka pintu. Raut wajah Fahri terlihat begitu khawatir. Ada apa gerangan?
Rupanya Fahri hendak meminta tolong Maria untuk mengecek file proposal tesis berbahasa Arab yang telah diketiknya dengan susah payah. Virus jahanam ternyata sudah merusak file itu. Maria lalu menawarkan jalan keluar untuk Fahri yang sedang menyesali diri. Tak butuh waktu lama bagi Fahri dan teman-temannya plus Maria untuk bahu-membahu mengetik ulang proposal itu.
Dari sekilas rangkaian adegan pembuka film Ayat-Ayat Cinta ini, tampak kalau sutradara Hanung Bramantyo sejak awal sudah memilih untuk menuturkan cerita dengan longgar.
Rol film pun terus berputar. Dengan ritme yang cepat, penonton disuguhkan cerita mengenai sosok Fahri, Maria, Aisha (Rianti Cartwright), Nurul (Melanie Putria), dan Noura (Zaskia Mecca), beserta segi-segi kecil kehidupan mereka. Fahri lalu menjadi tokoh sentral film ini, apalagi ternyata ia dicintai oleh empat wanita sekaligus.
Dari segala penggambaran yang terjadi sekitar 30 menit pertama, itu adalah elemen pembangun kisah asmara penuh intrik dengan nuansa kehidupan masyarakat Islam di Mesir sebagai jubahnya saja. Karena apabila jubah itu dilepas atau diganti, toh cerita tak akan berubah drastis. Dengan begitu, bisalah dikatakan kalau Ayat-Ayat Cinta adalah film drama romantis murni.
Perlahan, pilihan untuk melonggarkan penuturan cerita menjadi jelas tujuannya, yakni agar semua jalinan kejadian dalam film ini nantinya bisa berjalan lebih fleksibel, tanpa perlu diembel-embeli nilai keagamaan secara ketat. Materi cerita pun menjadi cair. Hal ini makin tak terbantahkan, misalnya, jika melihat adegan beberapa mahasiswi muslimah berkasak-kusuk membicarakan Fahri secara terang-terangan. Akhirnya, nilai-nilai Islam tidak menjadi basis penting di film ini dan kalah bersaing dengan nuansa romantika fiksi yang seolah diciptakan untuk mencucurkan airmata. Nilai kerohanian itu samar-samar dan tertutupi oleh kisah asmara yang sebenarnya sederhana ini.
Di sinilah ada kegamangan dalam proses penyampaian cerita dan gagasannya. Pembuat film terlihat ingin menyodorkan kisah dramatis yang diimbuhi nilai agama, tetapi malah cenderung menggambarkan perilaku keduniawian yang agak menjemukan. Memang rasa penyesalan, patah hati, kasih sayang, dan keikhlasan ditampilkan dengan impresif dan sangat baik di film ini. Namun sayang, porsi dan penyajiannya masih kalah dengan perasaan dengki, frustasi, dan cemburu yang kerap digelontorkan dengan energi kelewat batas, sehingga kadang membuat adegan dan akting menjadi terlalu teatrikal. Seperti pada beberapa adegan yang terjadi di dalam bui dan ruang persidangan.
Kegamangan ini tampak pula dalam penuturan persoalan poligami dalam film ini. Ia diniatkan untuk menjadi jalur penuturan kisah bermuatan moral dan menyampaikan pandangan Islam tentang poligami. Maka sejalan dengan semangat filmnya, praktik poligami di sini dipertontonkan secara lebih halus dibandingkan, misalnya, dengan kehidupan Pak Lik dan empat istrinya dalam Berbagi Suami (Nia Dinata, 2006).
Namun, masalah dalam praktik poligami dalam Berbagi Suami terlihat lebih nyata dan bisa diterima karena dipengaruhi oleh egosentris kelaki-lakian Pak Lik tanpa perlu dipertentangkan dengan aspek relijiusitas. Sedangkan di Ayat-Ayat Cinta, yang nyata-nyata mengandung nilai relijius, suguhan masalah praktik poligaminya malah menjadi terlalu enteng karena lebih diakibatkan oleh ketidakberdayaan bersikap si tokoh laki-laki. Situasi yang memaksa Fahri untuk berpoligami memang tak terelakkan. Namun akhirnya menjadi ironis karena dalam Islam laki-laki dituntut untuk lebih tegas tentunya. Dan, maaf, saya tak melihat karakter ini pada sosok Fahri yang notebene menjadi idaman empat muslimah. Alih-alih ia justru lebih pasif.
Pergulatan batin dan kompleksitas masalah yang diusung dalam sekuens praktik poligami di film ini pun menjadi terlalu dibuat-buat dan terasa dipanjang-panjangkan demi memancing emosi. Karena sudah dipanjang-panjangkan, kematian yang semestinya menjadi puncak, malah menjadi penyelesaian masalah yang tampak simplisitis. Poligami di film ini pun gagal menjadi gagasan penting dan sukar untuk menyebutnya sebagai bentuk komentar sosial.
Saya sadar hal ini sangat mungkin terjadi karena film ini ingin berbicara dengan sederhana dan agar lebih dekat dengan penonton. Persoalan poligami bagaimanapun masih menjadi isu panas untuk dibicarakan di ruang publik negeri ini, sehingga dengan sendirinya ia menjadi pas untuk mengantarkan cerita yang sarat nilai moral. Namun rasanya tak perlu disajikan sampai sedangkal itu. Apalagi ketika akibatnya membuat storytelling film ini tak ubahnya seperti tipikal tayangan film televisi (atau sinetron) di negeri ini, saya lalu melihatnya sebagai sebuah masalah pelik.
Semua ini sangat mungkin terjadi akibat materi cerita yang cair, sehingga bisa lebih mudah dinikmati banyak orang. Tetapi kemudian, sifat cair ini lalu merembet ke soal lain, seperti identitas tokoh yang serba berbau lokal dan karakter yang tidak berkembang. Melihat cerita film ini (satu pria diperebutkan empat wanita), seharusnya kompleksitas karakter para tokoh utamanya mampu menjadi modal penting.
Sayang, untuk soal ini, penulis skenario Salman Aristo dan Ginatri S. Noer kurang berani bertaruh. Karakter para tokoh utamanya tampak embedded begitu saja dari sananya. Jika saja setengah atau sepertiga awal durasi digunakan untuk pengembangan karakter, saya yakin selanjutnya film ini akan semakin menarik untuk ditonton. Penonton tentu bisa lebih merasakan pergulatan batin yang terjadi pada tiap tokohnya.
Di luar catatan-catatan itu, film ini tetap menghibur dan menyodorkan poin penting untuk direnungkan: rasa cinta dan keikhlasan wajib berjalan berdampingan dengan akur.
| Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Ada yang menarik perhatian saya sebelum menonton film ini di Mall Kelapa Gading beberapa minggu lalu. Di dalam satu rangkaian bangunan mall yang besar ini, Otomatis Romantis diputar di tiga bioskop berbeda, yakni La Piazza 21, Gading 21 dan Gading XXI. Sepengetahuan saya, jarang ada film nasional bisa diputar serentak di tiga bioskop ini.
Dari sini bisa tampak kalau film komedi romantis ini ingin menyasar para penonton dari kelas ekonomi yang berbeda. Setidaknya asumsi saya ini berdasarkan fakta bahwa harga tiket di tiga bioskop itu yang menanjak. Termurah di Gading 21, sedang-sedang saja di La Piazza, dan termahal di Gading XXI tentunya.
Maka yang diserahi tugas untuk menggaet animo para penonton adalah Tora Sudiro dan Tukul Arwana. Monica Hariyanto dan Monty Tiwa, si produser, agaknya mempercayai kalau duo ToTu (Tora-Tukul) inilah resep mujarab untuk meraih rupiah. Dugaan saya, Tora, yang ganteng dan maskulin, cocok disuguhkan untuk penonton Gading XXI. Sedangkan Tukul, yang perawakannya jauh dari keidealan Tora, diperkenankan untuk ditertawai oleh penonton Gading 21. Dan di La Piazza 21, duo ToTu mungkin mendapatkan penonton kelas campuran. Apabila boleh diibaratkan, (mungkin) karakternya seperti adonan dari para penonton tayangan televisi Extravaganza—yang ke-kota-kota-an—dengan 4 Mata—yang ke-ndeso-ndeso-an.
Dan, meskipun masing-masing sebenarnya mempunyai gaya humor yang khas dalam menciptakan kelucuan, tetapi toh akhirnya duo ToTu bernasib serupa di film ini. Mereka ikhlas menjadi dan dijadikan objek tertawaan untuk para penonton yang memiliki selera humor ala 4 Mata. Kelucuan yang hulunya berasal dari sifat naluriah manusia untuk menertawakan kebodohan dan kekurangan orang lain. Ramuan komedi macam ini sedang nge-tren di negara ini bukan. Namun, produser film ini sepertinya sadar kalau tidak semua orang Indonesia punya urat lucu tipe ini. Karena itu, selain dipasangnya Tora di film ini, diciptakan pula berbagai karakter dan isi cerita yang komikal sebagai syarat wajib untuk menarik urat tawa yang variatif itu.
Wajah komikal ini terpampang pada duo ToTu dengan mengorbankan Tora. Karena lewat sosok Bambang, ia harus rela berlagak katro plus ndeso layaknya citra khalayak televisi terhadap Tukul. Sedangkan Tukul, tetaplah Tukul hanya saja berganti nama menjadi Dave. Sebuah nama yang sangat cover boy sekali, pas dengan klaim Tukul selama ini.
Kalau sudah begitu, kini giliran ceritanya yang berperan dengan isi kisah yang membenturkan dua dunia berlawanan. Monty Tiwa rupanya masih mempercayai bahwa ide jalinan cinta antarkelas sosial di dalam kehidupan urban mampu menciptakan gelak tawa. Tidak heran, orang-orang pun ramai menyebut film ini sebagai Ujang Pantry versi layar lebar. Miripkah dengan Ujang Pantry?
Nadia (Marsha Timothy) adalah pemimpin redaksi sebuah majalah wanita modern yang belum juga menikah. Ayahnya (Tarzan) terus mendesaknya untuk mencari pasangan, karena meyakini primbon. Lalu datang Bambang, karyawan administrasi di kantornya, yang perlahan memikat hati Nadia. Pemuda desa ini tulus, jujur dan lugu, tetapi berada di bawah kasta Nadia yang tentu gengsi untuk menyatakan cinta.
Tidak seperti Ujang yang berani menyatakan sayang, di sini Bambang malu-malu, sehingga Nadia lah yang harus inisiatif bertindak duluan dengan mengikuti tips-tips cinta dari majalahnya. Selanjutnya mudah ditebak di mana kelucuan-kelucuannya. Ditambah lagi komedi yang muncul dari sub-plot tentang kisruh rumah tangga Nabila (Wulan Guritno), kakak Nadia, dengan suaminya, Dave.
Skenario Otomatis Romantis tidak sebagus Ujang Pantry memang, apalagi mendekati kualitas sekuelnya. Jika dua jilid Ujang Pantry melucu dengan cerdas dan apa adanya, maka Otomatis Romantis melucu dengan komedi yang terasa lebih dibuat-buat. Ujang Pantry terlihat lebih lugas bercerita atas nama modernitas tanpa perlu menabrakkannya dengan nilai-nilai tradisional. Nah, kalau Otomatis Romantis berpola sebaliknya demi membuat penonton tertawa.
Itu sebabnya, Monty di film ini perlu menabrakkan karakter manusia modern dengan nilai-nilai tradisional itu. Pola ini muncul paling kentara saat Nadia mengemukakan alasan kenapa ia belum juga mau mencari pasangan. Karena ternyata, ia takut terkena kutukan yang diyakininya, yakni semua perempuan di keluarganya selalu mendapatkan laki-laki yang berperawakan buruk, (maaf) mirip dengan ciri hewan. Maka Nana (Poppy Sovia) pun, adik Nadia, harus ikhlas pacarnya dikatakan mirip beruk dan Dave berwajah lele dumbo. Untung saja Bambang masih terbilang lumayan, tidak ada wajah hewan yang mirip dengannya, hanya saja ia ndeso.
Bagi Monty, dengan cara seperti ini, komedi akan tercipta. Penonton yang awalnya tidak mengerti kenapa Nadia belum juga menikah, tiba-tiba disodori alasan yang terbilang kuno dan tidak masuk akal. Ujung-ujungnya, komedi yang timbul memang khas lawakan Tukul dan tidak menawarkan humor yang fresh. Adanya Tukul dan Tora yang ditugaskan membuat tawa, menjadikan film ini bergantung sepenuhnya pada unsur komedi, sehingga penuturan kisah cinta yang beda kasta itu tercecer. Sutradara Guntur Soeharjanto tampak terlena pada penciptaan berbagai kelucuan itu. Hasilnya, saya pun lupa kalau sedang menonton film yang juga ingin romantis, belum lagi ditambah dengan chemistry antara Nadia dengan Bambang yang tidak terasa.
Awalnya saya ragu komedi di film ini bisa diterima publik, mengingat tidak semua orang bisa mencerna lawakan khas Tukul dengan lapang dada. Namun ternyata tak bisa dipungkiri banyak orang yang terhibur dengan gaya ini. Saya sendiri tidak begitu sreg. Kadang bisa ikut tertawa, kadang juga hanya bisa diam saat menonton lawakan ala Tukul. Jika sudah terlalu sering menonton 4 Mata, susah bagi saya untuk terus bisa tertawa. Kebosanan melanda. Untung saat menonton Otomatis Romantis, saya sudah lama tidak menonton Tukul beraksi, sehingga kelucuan beberapa adegan bisa saya maklumi.
Itu saya. Bagaimana dengan animo penonton lain? Mungkin di Gading XXI bisa ditemukan jawabannya. Soalnya, hingga akhir Januari, Otomatis Romantis masih bertahan di bioskop itu.
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
“All right, i gotta roll…I’ll call you. Leave your phone on,” kata Danny kepada Mariane, istrinya yang sedang hamil lima bulan, sambil bergegas memasuki taksi dan tersenyum. Ucapannya siang itu seperti pesan terakhir. Membuat ponsel Mariane tetap terjaga selama 24 jam hingga sekitar sebulan ke depan. Tetapi kabar dari Danny tidak pernah datang. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi.
23 Januari 2002, Daniel Pearl, Kepala Biro Asia Selatan Wall Street Journal yang menetap di Karachi, Pakistan, pergi untuk melakukan wawancara dan tidak pernah kembali. Kabar yang dinanti-nanti akhirnya datang beberapa hari setelahnya. Danny diculik dan berita pun tersebar ke seluruh pelosok dunia. Nasibnya kemudian menjadi jelas pada 21 Pebruari. Malam itu Danny dipastikan telah tewas. Kepalanya dipenggal oleh para penculiknya dan tubuhnya terpisah menjadi sepuluh bagian. Proses eksekusi itu terekam dalam video (belakangan rekaman itu tersebar luas lewat internet).
Kisah A Mighty Heart ini pernah terjadi dan dibuat berdasarkan memoar Mariane Pearl selama suaminya diculik. Hari-hari yang menegangkan dan penuh ketidakpastian bagi Mariane (Angelina Jolie). Namun di tengah situasi itu, Mariane tetap berusaha tenang, meski sukar, apalagi dengan kondisi kehamilannya. Emosinya kadang naik-turun. Sesekali amarahnya meledak, tetapi lekas lembut dan hangat kembali.
Rasa cinta yang begitu besar membuat ia tetap mengirimkan pesan pendek “I love you” ke ponsel Danny (Dan Futterman) di malam hari, walaupun ia sadar bahwa kecil kemungkinan pesannya akan dibaca Danny. Ia juga tidak pasrah dan berusaha optimis dengan ikut aktif mencari Danny. Mariane memang menunjukkan bagaimana ketangguhan hatinya, sehingga tetap berusaha rasional dan objektif dalam mengutarakan opininya saat diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi berita.
Tetapi tidak ada yang sempurna di dunia ini. Mariane tetap manusia biasa yang bisa rapuh mendadak. Karena di balik wajahnya yang menyiratkan harapan, sebetulnya menyimpan raut kelelahan dan rasa frustasi yang ia sembunyikan sebisa mungkin sampai akhirnya batas pertahanannya jebol. Maka adalah hal yang wajar saat kabar keji mengenai Danny sampai di telinga Mariane, ia langsung masuk kamar dan menangis. Ya, meskipun keadaan sudah tidak bisa dihindari lagi, Mariane bersikukuh untuk tidak meratapi nasib naas itu. Tangisan yang begitu menyayat hati itu ia sembunyikan di dalam kamar. Ia mencoba menelan kesedihannya sendiri saja.
Entahlah, apakah tangisannya akan senestapa itu jika bukan Jolie yang memerankan Mariane. Entahlah, apakah film ini mampu menyuguhkan kisah mengenai kekuatan hati perempuan jika tidak ada Jolie. Yang pasti aksi perannya di film ini mengingatkan kembali kalau Jolie dulu pernah membuat saya betah menonton Girl, Interrupted (selain karena manisnya Winona Ryder). Jolie sebagai Mariane juga tampak lebih meyakinkan daripada sebagai Lara Croft atau Jane Smith. Memang sudah lama Jolie tidak berakting sekuat ini, sehingga akhirnya jatuhnya pilihan kepada Jolie menjadi tepat, apalagi A Mighty Hearth jelas menaruh sosok Mariane sebagai pusaran arus kisah.
Apa yang dialami Mariane selama penculikan Daniel Pearl dan kemudian berujung tragis ini adalah sebuah tragedi kemanusiaan dari rentetan kejadian yang muncul silih berganti pasca tragedi yang lebih besar: 9/11. Dan, sutradara Michael Winterbottom seolah ingin menampilkan bahwa Mariane dan Daniel Pearl lah yang menjadi korban akibat kondisi dunia sekarang. Atau kalau mau ditarik lebih lebar lagi, warga Pakistan dan dunia juga layak disebut korban. Winterbottom rupanya sangat apik dalam menuturkan kisah ini tanpa banyak menyinggung hal-hal yang sensitif, misalnya dengan tidak memperlihatkan rekaman pemenggalan Danny.
Lebih jauh lagi, Winterbottom murni ingin bercerita dengan apa adanya soal kejamnya kehidupan akibat panasnya pertarungan politik dan ideologi di dunia, tanpa mempermasalahkan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Dengan begitu, ia tampak mengambil jarak, misalnya, dengan cara tidak membahas perihal konflik antara kelompok jihad dengan negara adidaya. Alhasil, sedari awal, narasi tentang kebencian terhadap Amerika Serikat, terorisme, konflik Pakistan dengan India, bahkan hingga kasus pelecehan para tahanan di penjara Guantanamao, yang dijadikan motif penculikan Danny, ditampilkan secukupnya untuk latar belakang kisah. Tidak ada pendalaman di area-area sensitif itu, karena memang semua itu dirasa tidak perlu. Winterbottom, bagaimanapun, ingin menampilkan sosok ketangguhan hati seorang perempuan yang juga manusia biasa.
Cara Winterbottom berkisah memang bak reportase. Layaknya tulisan feature, seolah ia sedang mengamati kejadian, sekaligus menjelaskannya secara detil tanpa lupa membubuhi dengan sisi yang humanis, tetapi tetap berdiri netral. Maka, ia beberapa kali menyelipkan adegan-adegan lampau dan juga berbagai footage dari berita televisi. Lalu untuk membangun human interest-nya, dimasukkan adegan kecil, misalnya saat Asra (Archie Panjabi)—rekan kerja Danny—curhat dengan Mariane karena bertengkar dengan kekasihnya akibat ia disangka intel India yang sedang memata-matai Pakistan. Bahkan untuk alasan yang sama pula, Winterbottom tidak alpa memasukkan banyak adegan pendek, seperti perbincangan singkat kapten Javev Habib (Irrfan Khan) dengan pria penjaga rumah mengenai lama kerja dan anak.
Tak dinyana, adegan-adegan ringan semacam ini selain mampu menjelaskan karakter tokoh, juga malah menjadi penting untuk menampilkan bahwa adanya korban lain yang muncul akibat ketegangan politik dunia, meskipun memiliki kaitan yang jauh. Winterbottom dengan pintar memakai cara berkisah seperti ini demi menciptakan suasana yang realistik, apalagi ditambah dengan penggunaan the shaky-cam yang membuat kenyataan itu hadir di depan mata tanpa ragu-ragu—selain dengan penataan set seadanya, pencahayaan sangat minim, dan musik yang tidak bombastis.
Menariknya film ini tak bisa dilepaskan dari sosok Michael Winterbottom memang. Saya sendiri belum menonton semua film buatannya. Kalau tidak salah baru tiga film saja, yaitu Welcome to Sarajevo, 9 Songs, dan satu lagi saya lupa judulnya—yang saya tonton di Indosiar saat lewat tengah malam sekitar medio Juli 2006. Sepertinya semua ini yang membuat saya begitu menggandrungi film ini. Selain karena kisah apapun tentang jurnalistik selalu menarik perhatian saya. Maklum saya dididik di kampus jurnalistik. Mungkin itu punya pengaruh.
Tidak bisa disangkal lagi, sebagai film yang punya kaitan dengan keadaan tegangnya iklim politik global, A Mighty Heart memberikan ide alternatif dan pesan yang kuat. Di penghujung cerita, saat jamuan makan malam, Mariane menunjukkan kekuatan hatinya di hadapan para koleganya yang sudah bekerja keras memulangkan Danny.
“I am not terrorized. And you can’t be terrorized,” ucap Mariane, yakin. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
4 Months, 3 Weeks, and 2 Days. Inilah (mungkin) satu-satunya film yang membuat saya duduk dengan tidak tenang selama menontonnya. Bukan karena tidak menarik, tetapi justru sebaliknya dan luar biasa menegangkan. Membuat saya agak merinding.
Apabila menyimak ide bahwa film adalah proses representasi, maka 4 Months, 3 Weeks, and 2 Days memang nyaris sempurna menjalankan proses itu. Film ini memberikan pemandangan mengenai kondisi Rumania saat komunis masih langgeng, yakni pada era pemerintahan Nicolae Ceausescu. Lebih spesifiknya, tindakan aborsi yang banyak dilakukan para wanita muda saat masa kelam negara itu.
Lewat dua tokoh utamanya, Otilia (Anamaria Marica) dan Gabita (Laura Vasiliu), dua mahasiswi yang bersahabat dan tinggal sekamar di asrama, penonton diajak memasuki kisah drama yang menegangkan ini secara perlahan. Dimulai dari percakapan mereka di dalam kamar, selasar asrama, lalu perjalanan Otilia di dalam bus kota, mendatangi hotel, menyusuri jalan raya sepi yang dingin, menemui Bebe (Vlad Ivanov) dan ikut mobil sedan mininya, hingga masuk ke kamar hotel kelas bawah.
Di tempat terakhir inilah ketiganya bertemu, dan tersingkap persoalannya: Gabita hamil dan ingin menggugurkan kandungannya dengan bantuan Bebe, si ahli aborsi. Masalah tidak berhenti di situ, karena ternyata Bebe menagih imbalan dalam bentuk lain untuk menuntaskan niatan Gabita. Akhirnya, ya, akhirnya dua sahabat ini tak bisa menolak. Mereka benar-benar kalah melawan keadaan yang menghimpitnya, seperti halnya ribuan perempuan Rumania yang juga bernasib serupa saat itu.
Unsur drama dan thriller yang terasa sangat kental di film ini. Cukup dengan setting yang minimalis-realis sesuai masanya, tata suara secukupnya tanpa latar musik apapun, dan komposisi cahaya dengan warna-warna monoton ternyata mampu menciptakan nuansa ketegangan yang dramatis. Hanya dengan itu, kegetiran kisah ini sudah terasa. Keadaan yang menimpa Otilia dan Gabita pun sepahit wajah Rumania yang terekam muram, sunyi, dan dingin kala itu.
Tetapi kekuatan utama film ini sebetulnya terbangun lewat kekokohan struktur cerita, unjuk akting ketiga pemainnya yang berkualitas di atas rata-rata, dan penuturan sutradara sekaligus penulis skenario Cristian Mungiu yang rapi. Cara Mungiu berkisah di sini memang lamban, tetapi pasti. Tampak kalau Mungiu penuh perhitungan dalam menuturkan alur kisah dan mengatur temponya. Dengan begitu, konflik dan ketegangan berhasil naik bertahap secara perlahan, sehingga memuncak di titik yang tepat. Mungiu rupanya sadar kalau film ini akan lebih dramatis dan menegangkan jika disuguhkan secara realis. Maka, adegan-adegan panjang ala handheld camera pun direkam dengan sokongan dialog yang pelit kata, namun maknanya menukik.
Drama menegangkan ini juga tercipta karena casting yang tepat. Kebolehan akting Marica, Vasiliu, dan Ivanov memang mengesankan. Di kamar hotel, ketiganya memberikan interaksi yang saling mengisi dan akhirnya mencengangkan penonton. Marica dan Vasiliu sukses menampilkan karakter perempuan yang memikul kepedihan dengan cara yang berbeda. Sedangkan, Ivanov memerankan pria penuh akal bulus dengan dingin dan datar. Dan, ya, ketiganya berhasil menunjukkan sosok-sosok itu dengan nyata.
Dari film Rumania peraih Palem Emas di Cannes Film Festival 2007 ini, kompleksitas persoalan yang kerap menimpa kaum perempuan terwakili lewat cerita aborsi ilegal. Film ini seperti ingin mengingatkan kepada khalayak dunia kalau Otilia dan Gabita bukan hanya bagian dari sejarah kelam Rumania, tetapi juga milik dunia, bahkan kisah mereka masih terjadi di belahan bumi lain. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Halle : “Gue nggak bercanda, gue masih perawan!”
Kalimat itulah satu-satunya ucapan tegas dalam film ini yang memperbincangkan soal keperawanan. Itu juga terucap dari mulut Halle (Nova Eliza) setelah dipaksa untuk melakukan hubungan intim. Selebihnya, film ini hanya diisi oleh materi-materi tidak penting apabila dikaitkan dengan judulnya.
Begini kisahnya. Halle, pelayan bar-penyanyi berbakat-mahasiswa, kerap disakiti hatinya oleh lelaki. Suatu malam, Kevin (Restu Sinaga), produser musik, datang menawari Halle rekaman. Tetapi, ujung-ujungnya meminta dipuaskan birahinya oleh Halle. Terang saja Halle menolak. Lalu datang Rama (Fathir), penyanyi rock, yang mengajak Hali berduet. Ternyata, mereka saling suka, yang akhirnya diikuti dengan ajakan Rama untuk berhubungan intim. Hali pun marah sambil berkata, “Gue nggak bercanda, gue masih perawan!”
So?
Susahnya Jadi Perawan agaknya lebih terdengar seperti pembenaran sekaligus keluhan dari pembuat film terhadap kondisi susahnya menjaga keperawanan di kehidupan kota besar. Apa iya bisa ditarik kesimpulan begitu? Mengapa? Rupanya, jawaban yang diberikan Mirwan Suwarso dan Nova Eliza, sebagai peramu cerita, terlalu menyederhanakan masalah.
Untuk menunjukkan sukarnya menjaga keperawanan itu, Mirwan dan Nova menyuguhkannya lewat industri musik, yakni proses awal memasuki dapur rekaman bagi Halle, si penyanyi debutan yang trauma berhubungan dengan lelaki. Dari sini saja, cerita film ini mulai tampak klise. Belum cukup dengan itu, maka masuk unsur romantis lewat sosok Rama, yang ternyata juga meminta “jatah”. Lagi-lagi ini klise.
Lewat cerita seperti ini, pembenaran dan keluhan itu juga seperti mengklaim seolah-olah bayaran dengan tubuh si penyanyi debutan adalah hal yang lumrah dalam industri musik. Atau jika mau melebarkan bahasan topik ini, ada harga yang harus dibayar mahal oleh perempuan jika ingin menjadi bintang.
Intinya, problem mengenai susahnya menjaga keperawanan memang hanya pantas dibebankan kepada Halle yang menjadi pusat cerita. Bagaimana tidak. Sejak awal film, sudah tampak kalau Nova Eliza dipersiapkan untuk menjadi pusat perhatian dan dieksploitasi sensualitasnya. Dengan pola ini, Halle dibuat agar pas menjadi objek seksual para lelaki berpikiran kotor (Oh ya, saya lupa ada Julia Perez di sini yang tampilannya lebih menggoda, tapi lupakan saja dia).
Siapa saja para lelaki itu? Maka diciptakanlah karakter-karakter, seperti Kevin, si produser musik pembual. Rama, si penyanyi yang dicap playboy oleh infotainment. Atau para lelaki bule iseng di bar. Hanya Bowo (Olga Saputra) saja yang agak “lurus” di sini, walaupun penampakannya cenderung melambai. Dengan begitu, masalah tentang kesukaran menjaga keperawanan di film ini tampak dibuat-dibuat, dan memang pasti berlakunya seperti itu adanya. Wong dunianya saja sesempit itu kok.
Belum lagi gaya tutur Mirwan, sebagai sutradara, yang seperti menganggap penonton ibarat murid sekolah dasar, sehingga harus diceritakan detil-detil cerita secara banal. Lihatlah betapa seringnya Halle menjelaskan perilakunya dan orang-orang sekitarnya kepada penonton, padahal semua itu tidak perlu. Yang paling minus dalam film ini, menurut saya, ada pada logika cerita yang tidak jalan dan struktur ceritanya yang tidak kuat. Alhasil, beberapa adegan yang niatnya ingin melucu atau serius, malah menjadi garing dan membosankan. Mau contoh, lihat saja adegan perkelahian antara Rama dengan Kevin, dan apa yang terjadi setelah itu.
Penyebabnya terletak pada materi skenarionya, yang kalau disimak agaknya Mirwan dan Nova ingin bergaya seperti beberapa film Richard Linklater yang dipenuhi oleh dialog. Sayangnya, dialog dalam film ini tidak “berisi” dan begitu kering. Apalagi, percakapan seperti ini kerap ditemui di dunia nyata, sehingga mendengarkannya kembali di sepanjang film ini akhirnya menjadi sia-sia belaka.
Minus lainnya, film ini serba minimalis. Dari segi tata cahaya yang serba redup, set yang itu-itu saja, akting para pemainnya yang di bawah taraf alakadarnya, dan tata suaranya yang tak baik untuk kelangsungan usia gendang telinga saya. Catatan terakhir, ya, saya tahu Susahnya Jadi Perawan juga latah dengan penggunaan handheld camera. Tetapi tampaknya cara itu tidak cocok, karena malah mengganggu kerja mata saja. Harusnya Mirwan paham kalau tidak semua cerita cocok dengan di-shot dengan menggunakan handheld camera.
Ah, jadi ingat ucapan teman saya sehabis nonton film ini, “Kayak nonton sinetron!”

 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Jika harus memilih rumah produksi mana yang lebih saya sukai, apakah Kalyana Shira Film ataukah Miles Film? Nama Kalyana akan saya sebut duluan.
Namun, bukan berarti saya tidak menyukai film-film dari Miles. Soalnya bagi saya, dua rumah produksi ini sekarang tetap berada di baris terdepan dalam dunia film nasional. Tapi, saya sudah jatuh hati pada Kalyana saat Ca Bau Kan (Nia Dinata, 2001) dirilis. Lewat Ca Bau Kan, Kalyana membuat gebrakan yang artistik, dan sukses menampilkan dengan detail wajah hubungan budaya Indonesia dengan etnis Cina pada tahun 1900-an hingga era pasca kemerdekaan.
Selain itu, mirip dengan Miles, film-film Kalyana juga selalu tak mengikuti tren genre film yang saat itu sedang marak dibuat. Tapi, bagi saya, Kalyana punya kelebihan lain, yakni selalu membuat film yang bisa dinikmati tanpa harus berpikir njelimet, memiliki style yang khas, muatan ceritanya berisi gagasan yang jelas, dan sarat dengan kritik sosial. Uniknya, Kalyana hampir selalu menyuguhkan ceritanya dengan satir dan dibumbui humor yang terbilang cerdas. Semua karakter ini disuguhkan tanpa meminggirkan aspek kualitas keseluruhan filmnya.
Inilah kekuatan utama sekaligus karakter film-film Kalyana. Quickie Express setidaknya mengandung beberapa karakter itu, dan tentunya lagi-lagi mendobrak tren film terkini.
Yang Beda (Lagi) dari Kalyana
Tak bisa dipungkiri lagi kalau hidup di Jakarta memang susah. Kondisi ini sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh banyak penghuninya. Tapi, tak usahlah menaklukkan rimba Jakarta ini dengan perilaku dan usaha yang serius-serius amat. Jalani saja hidup yang ada sekarang, sambil menunggu keberuntungan. Siapa tahu akan datang dewa penolong yang menawarkan pekerjaan mudah, tapi mampu membuat mimpi indah menjadi nyata.
Jojo (Tora Sudiro) mengalami situasi ini. Ia mewakili sosok pemuda urban yang bekerja serabutan akibat beratnya hidup di Jakarta. Jojo menelan impian-impiannya, karena tak punya keahlian. Meski begitu, ia tidak frustasi, tapi tetap menikmati hidup ala kadarnya. Hingga suatu saat, datang si dewa penolong yang turun ke bumi dengan menyamar sebagai “pemburu”: Om Mudakir (Tino Saroengallo).
Pria parlente yang berjari kelingking ngetril ini berusaha membuka jalan Jojo dengan mewujudkan mimpinya. Syaratnya tak susah, asalkan Jojo mau bersikap persuasif, maka uang sudah ada di tangan. Profesi ini bukan bagian dari multi-level marketing, tapi lebih menjanjikan lagi. Begitu janji Om Mudakir. Walhasil, dengan rayuan-rayuan Om Mudakir yang mengundang tawa, setujulah Jojo untuk masuk ke dalam jejaring para nyonya socialite kelas atas sebagai…gigolo.
Inilah solusi ala Om Mudakir, si pemburu bakal calon gigolo, yang mempunyai bisnis layanan male escort berkedok restoran pizza delivery service bernama Quickie Express. Sejak pandangan pertama, Om Mudakir sudah melihat Jojo berbakat untuk membuat para tante yang haus seks tergila-gila kepadanya.
Namun, karena masih bau kencur di bisnis ini, Jojo pun dilatih untuk menjadi gigolo yang profesional. Ia tak sendiri. Ada Marley (Aming) dan Piktor (Lukman Sardi), teman seangkatannya. Mulailah proses pelatihannya, dari belajar menari erotis, merayu wanita, membentuk otot tubuh, hingga menemukan G-Spot.
Kisah pun berlanjut kepada tugas pertama mereka, dan kesuksesan-kesuksesan mereka meraih pelanggan. Hingga akhirnya kisah cinta masuk ke dalam hidup Jojo lewat sosok Lila (Sandra Dewi). Mahasiswi kedokteran ini membuat Jojo bimbang dalam menjalani kehidupannya, apalagi setelah mengetahui latarbelakang keluarga Lila.
Mungkin rasanya belum cukup bagi Kalyana menelurkan kisah-kisah yang unik, dari soal ibu-ibu yang doyan arisan, pengantar rol film yang rela berlari-lari demi cewek idaman, dan para istri yang berbagi suami mereka. Maka, kini giliran Quickie Express yang bercerita dengan nyeleneh. Lagi-lagi sebuah dobrakan dari Kalyana untuk membuat film nasional kita lebih berwarna.
Jujur dan Seks
Dengan Quickie Express, lagi-lagi Kalyana memproduksi film berlatar kehidupan urban, mungkin karena persoalan hidup di Jakarta memang tidak ada habis-habisnya. Sebelumnya, Kalyana membuat Arisan! (Nia Dinata, 2003), Janji Joni (Joko Anwar, 2005), Berbagi Suami (Nia Dinata, 2006), yang berlatar kehidupan urban Jakarta dan mencoba menyampaikan sesuatu gagasan dengan jujur. Namun, setiap film ini memiliki fokus yang berlainan. Jika, Arisan! mengisahkan soal kehidupan kaum socialite Jakarta yang palsu lewat ajang arisan. Lalu, Janji Joni yang ceritanya lebih dalam mempertanyakan tentang kejujuran masyarakat Jakarta. Sedangkan, Berbagi Suami menunjukkan bentuk-bentuk praktik poligami oleh anggota masyarakat Jakarta. Maka, Quickie Express mengetengahkan pilihan hidup anak muda Jakarta demi mewujudkan mimpinya.
Nah, kalau tiga film sebelumnya mencoba berbicara jujur dengan satir, Quickie Express tidak seperti itu. Juga berbeda dengan cerita tiga film sebelumnya yang terkesan serius dan unsur komedi dipakai sebagai bumbunya, maka Quickie Express menempatkan kelucuan sebagai kekuatan utama cerita ini. Film ini memang tak berpretensi serius dalam mengomentari masalah kehidupan urban, tapi hanya menjadikan masalah kehidupan itu sebagai kendaraan untuk menghibur dengan tulus. Caranya dengan menaruh cerita komedi seks terkini, yang menjadi unsur terpenting dalam menciptakan kelucuan dalam film ini. Beginilah cara Quickie Express untuk berbicara jujur kepada penontonnya.
Sebelumnya, perbincangan soal seks dalam film nasional memang sudah banyak, yang umumnya bermunculan mulai di era awal 1990-an. Namun, sepertinya belum pernah ada film komedi seks seperti Quickie Express. Jika film-film “panas” tahun 1990-an itu turut mengeksploitasi tubuh sebagai penyeimbang cerita seksnya, maka perihal seks di Quickie Express hanya sebagai omongan dan pencipta kelucuan. Ini yang membuat Quickie Express tak terjebak seperti rupa film “panas” dahulu.
Toh, kalaupun memang ada beberapa adegan dalam film ini yang memperbincangkan dan mempertontonkan perilaku seks secara terbuka, tapi penuturannya berada di batas antara vulgar dan tidak vulgar, serta penuh humor. Hal ini pula yang mewakili kejujuran itu, karena penuturan soal seks di film ini bisa diibaratkan seperti: para anak muda yang sedang iseng nongkrong dan akhirnya mengobrol soal seks dengan guyonan khas lokal. Akibat kelokalan omongan seks ini, dengan begitu isi film ini relatif “aman” untuk diterima oleh publik yang sesuai dengan klasifikasi usia penontonnya.
Kejujuran yang diwakili dalam cerita buatan Joko Anwar dan penyutradaraannya oleh Dimas Djay ini setidaknya tampak pada beberapa adegan, misalnya saat Jojo-Marley-Piktor menjalankan tugas pertamanya, yang dilakukan dengan penuh kecanggungan dan menunjukkan sifat tidak profesional sebagai gigolo yang (harusnya) terlatih. Mungkin ini terjadi karena Jojo-Marley-Piktor tinggal di negara yang pola pergaulan anggota masyarakatnya tak sebebas, misalnya, di Amerika sana.
Contoh lain ada saat trio gigolo ini mengaku butuh obat kuat—yang dibawa oleh Marley dari pemberian Om Mudakir—agar bisa “tahan lama” saat bertugas. Dan, di adegan ini pula tampak unsur kelokalan yang lucu dalam obrolan seksnya. Belum lagi intrik percintaan antara Jojo-Lila, Jan Pieter Gunarto (Rudy Wowor)-Jojo-Matteo, atau Tante Mona (Ira Maya Sopha)-Jojo.
Romantika berbagai hubungan ini diperlihatkan apa adanya, tak berlebihan, dan manusiawi. Simak saja akhir hubungan Jojo dan Lila, atau wajah Jan Pieter—seorang mafioso keji dan ditakuti—yang ternyata merindukan kekasih lamanya, maupun keeleganan Tante Mona yang perilakunya sontak berubah menjadi seperti anak muda yang cemburu karena terlanjur jatuh hati pada Jojo. Atau juga, kecemburuan Matteo (Tio Pakusadewo), si preman psikopat gelap mata, yang berbuah sikap asal hajar (bunuh) terhadap pesaing cintanya.
Tentu saja yang paling saya sukai adalah quotes Jojo di akhir film: “Ah, tai lah.” Ucapan Jojo ini terasa sangat menohok setelah beragam peristiwa yang menimpanya. Pada akhirnya, ending dari film ini sendiri merepresentasikan kejujuran, dimana akhirnya Jojo memilih jalan hidup yang realistis baginya.
Hanya saja kejujuran yang disampaikan di film ini tak bisa serta-merta diterima dengan lapang oleh semua penontonnya. Yang namanya komedi, tentu berurusan dengan masalah selera pribadi. Apalagi kalau yang dibuat lucu adalah soal perilaku seks, sehingga orang-orang yang memegang teguh nilai-nilai tertentu (agama atau tradisi) bisa jadi tak bisa tertawa lepas. Maklumlah, soalnya perihal seks di negeri ini belum sepenuhnya bisa diomongkan dengan leluasa. Masih ada batasan-batasannya. Inilah salah satu resiko yang harus diterima oleh film ini.
Tapi, toh saya masih meyakini film ini masih bisa dikonsumsi oleh banyak penonton, terlepas apakah setiap penonton bisa tertawa lepas atau dalam hati saja. Soalnya, Quickie Express tak bicara soal seks melulu, tapi ada juga drama percintaannya, persahabatan, serta nostalgia pada style retro dan vintage. Selain demi urusan artistik dan sinematografi, secara sadar atau tidak sadar style jadul ini berpengaruh terhadap strategi pemasaran film ini. Soalnya, dengan dunia fashion yang kini sedang balik lagi ke gaya pada era ‘60-an atau ’70-an, maka style Quickie Express yang retro ini mungkin malah bisa lebih menjual.
Serius Untuk Lucu
Tak ada bagian cerita yang terlampau serius di film ini. Justru keseriusan itu dipakai untuk mengundang gelak tawa. Ciri ini sudah tampak pada permulaan film saat Jojo—lewat narasi off screen—sedikit berfilosofi tentang perumpamaan hidupnya. Tapi, tak lama setelah itu, adegan langsung pindah saat nyawa Jojo ada di tangan Matteo, yang dari potongan dialog dan raut muka mereka saat itu pun sudah mulai tampak melucu, walaupun sebenarnya situasinya sedang serius dan genting. Lalu, penggalan flashback yang digunakan di awal film juga menyatakan kelucuan itu. Dari cara bertutur dan editing seperti ini bisa dilihat kalau Dimas Djay sudah sejak awal memang berniat ingin melucu.
Kelucuan itu muncul juga karena twist-twist yang disisipkan oleh Joko. Tak dipungkiri, berbagai twist ini memang mengocok perut dan benar-benar tak terduga. Plot yang diarahkan untuk serius, ternyata dibelokkan dengan lihai menjadi lucu. Twist-twist inilah yang membuat kecerdasan cerita film ini tetap ada dan terjaga, karena bagaimanapun jika disimak lagi, sebetulnya jalan cerita yang ditawarkan oleh Joko pada beberapa bagiannya masih bisa ditebak dan agak biasa. Namun begitu, bolehlah dipuji struktur cerita buatan Joko ini. Di sinilah letak keunggulan dan kekhasan Joko sebagai penulis skenario.
Bagi saya, Joko Anwar memang termasuk scriptwriter terbaik negeri ini. Soalnya, selain berbagai twist dalam cerita, dia cukup kreatif menciptakan jalinan kisah yang enak untuk diikuti dengan plot yang bergerak maju, seperti pada Janji Joni. Joko juga mampu menciptakan karakter-karakter yang bisa membuat ceritanya semakin kuat. Lihat saja Janji Joni yang penuh dengan para cameo, tapi kehadiran mereka justru membuat kokoh struktur ceritanya. Masih ingat adegan saat Tora dan Winky berperan menjadi (yang ternyata) pasangan gay di toilet bioskop. Atau potongan dialog antara sopir taksi (Barry Prima) dengan si dokter (Tantowi Yahya) saat istri sopir taksi yang hendak melahirkan:
Sopir taksi : “Pasti laki-laki dok.”
Dokter : “Anda yakin?”
Sopir taksi : “Fifty-fifty.”
Dialog ini tak akan menjadi humor yang cerdas dan unik jika si dokter bukan diperani oleh Tantowi Yahya, yang menjadi host acara kuis Who Wants To Be A Milyuner. Dan, di Quickie Express, formula itu terulang lagi pada saat Jojo diundang makan malam bersama dengan keluarga Lila. Lalu, Lila berbicara kepada ayahnya, Jan Pieter Gunarto, “Jojo ini jago dansa lho Pah.” Meskipun tak sampai menciptakan tawa yang keras, tapi tetap terasa kelucuannya yang cerdas. Soalnya, Rudy Wowor memang terkenal jago dansa. Dari sini juga bisa dilihat berpengaruhnya proses casting di film ini.
Pada Quickie Express, Joko juga sengaja menciptakan tokoh-tokoh yang karakternya sudah mengundang tawa dengan sendirinya. Seperti, Piktor dengan lidah yang selalu gagal mengucap huruf P. Marley yang tingkah polahnya berdasarkan ajaran rasta yang dianutnya. Jojo yang lugu, cuek, dan selebor. Lila yang polos dan suka ngorok. Om Mudakir yang berdarah Arab tapi berpolah lentur bak wanita. Dan, Matteo, pria Ambon plus tukang pukul yang ternyata pencemburu buta. Dengan begitu, lengkap sudah ornamen komikal yang melekat pada tiap tokohnya.
Dimas Djay sendiri bisa dibilang berhasil mengarahkan aktor-aktrisnya. Plot yang sudah dibangun Joko pun diimbangi dengan baik oleh penyutradaraan Dimas. Aura serius di beberapa adegan dibangun dengan pas, sehingga twist-twist yang ada berjalan mulus menipu penonton. Adegan-adegan lucunya pun tercipta dengan baik. Favorit saya adalah adegan yang mengocok perut saat Jojo-Marley-Piktor dilatih menari erotis oleh si trainer (Roy Tobing). Poin lebih harus diberikan pada Roy Tobing yang menjadi scene stealer akibat kelenturan gerakan dan aktingnya yang sensual.
Dimas juga cukup mampu membangun nuansa film yang stylish, misal saat adegan Jojo memasuki ruangan judi kaum socialite dengan diiringi irama keren dari lagu “Mesin Cinta” ciptaan The Squirts (dibentuk dan dianggotai oleh para music director film ini: Aghi Narotama, Bemby Gusti, Ramando Gascaro, plus dibantu David Tarigan dan Abe). Di adegan itu, kamera bergerak dinamis memutari ruangan dengan ritme musik yang asyik. Dalam film ini memang terasa sekali semangat total sang sutradara untuk mengembalikan nuansa jadul, dari urusan tata artistik, sinematografi, kostum, hingga make-up, yang hasilnya cukup berhasil. Kedetilan Dimas Djay memang di atas rata-rata.
Om Tio, Tante Ira, Lukman, dan Sandra
Ada pula kelebihan lain dalam tiap film Kalyana, yakni pameran akting berkualitas terbaik dari para pemainnya, diperkenalkannya aktor-aktris pendatang baru, serta parade para cameo-nya—bagi yang sudah menonton Quickie Express, cameo yang muncul saat menjelang akhir film mungkin paling diingat (terutama bagi penonton wanita).
Untuk urusan pemain, Kalyana memang tidak main-main. Aktor-aktris berdaya akting tinggi selalu dipasang. Dalam Quickie Express, daftar pemain favorit saya pun berderet, dari Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Lukman Sardi, dan tentunya Sandra Dewi. Saya cukup tersengat dengan penampilan empat pemain ini. Kenapa?
Pertama, Tio Pakusadewo. Sejak awal mula (sekaligus menjelang akhir) film, saya sudah terpukau dengan aktingnya sebagai tangan kanan plus tukang pukul Jan Pieter Gunarto. Logat bahasa Ambon plus makian kasarnya dilafalkan dengan berkarakter. Belum lagi gerak-geriknya berhasil menunjukkan sifat emosional yang komikal, serampangan, dan berpikir pendek dari seorang kriminil.
Kedua, Ira Maya Sopha. Dari proses menonton film ini, saya berpikir mungkin tidak ada aktris yang mampu memerankan tokoh Tante Mona dengan pas selain Ira Maya. Atau, jangan-jangan tokoh ini memang diciptakan untuk Ira Maya. Yang pasti, bagi saya, aktris ini sukses mengeluarkan karakter yang mewah, elegan, tapi juga haus seks, judes, dan posesif, dari seorang istri pengusaha kaya sekaligus penjahat kelas kakap.
Ketiga, Lukman Sardi. Ia mungkin salah satu aktor watak berbakat di negeri ini. Walau katanya saat kecil dia pernah bermain di film layar lebar, tapi saya baru pertama kali menyaksikan aktingnya di Gie (Riri Riza, 2004). Dan sejak itu, dia menjadi salah satu aktor favorit saya, karena permainan akting di film-filmnya bak bunglon saja, dan saya punya catatan agak panjang soal kualitas aktingnya. Lihat saja akting dia sebagai mahasiswa yang idealis, kritis, dan setia kawan dalam Gie. Lalu, menjadi hitman berdarah dingin, pendiam, cinta keluarga, dan penuh penyesalan dalam 9 Naga (Rudi Soedjarwo, 2005).
Kemudian, Lukman memerankan pria berdarah Jawa yang demen menikah, nakal dan genit dalam Berbagi Suami. Atau, perhatikan aktingnya yang menyebalkan saat menjadi anak menteri sok kuasa dan mau menang sendiri, egois, juga homoseksual kasar dalam Jakarta Undercover (Lance, 2006). Dan, sebagai sopir bajaj polos, jujur, religius, dan cinta anaknya dalam Naga Bonar Jadi 2 (Deddy Mizwar, 2007). Kini, dalam Quickie Express, ia menjadi pria yang sangat jago untuk urusan seks. Meski memang harus diakui, di film ini, porsi perannya terbatas dan biasa saja. Mungkin kesalahan melafalkan huruf P saja yang membuat karakternya lumayan unik. Tapi, dengan track record-nya yang penuh warna itu, maka Lukman tetap punya kekuatan akting yang terjaga, dan juga berhasil menghidupkan karakter Piktor.
Keempat, Sandra Dewi. Ya, lagi-lagi Kalyana menemukan bakat baru di dunia film. Ini memang hobi Kalyana yang selalu mengorbitkan bintang baru. Ingat saja kemunculan Tora Sudiro dalam Arisan!, atau Dominique dalam Berbagi Suami. Kini, giliran kemampuan akting Sandra yang dieksplor Kalyana. Dan, dengan tubuh yang agak berisi, gaya berbicara dan intonasi suara yang halus, serta tingkah dan raut wajah yang lembut juga polos, performa Sandra berhasil mewujudkan seorang Lila.
Bagi beberapa orang, ada beberapa adegan di Quckie Express yang membuat akting Sandra disama-samakan dengan beberapa peran Dian Sastro dalam film-filmnya. Tapi, bagi saya, justru Sandra lebih berhasil dalam menampilkan sosok cewek yang manis ketimbang Dian. Penilaian saya berlebihan? Tidak juga. Ingat ucapan Lila yang, “Nggak bisa yah. Sedih deh.” Bagaimana reaksi seisi bioskop? Apakah “bergemuruh” saat Lila mengucapkan kalimat itu (seperti yang saya alami saat menonton)? Jika iya, maka paham kan maksud saya. Malah, pasca menonton, saya sok memprediksi kalau kelak kalimat itu akan sepopuler “Apa Kata Dunia?” Berlebihan? Yang terakhir ini, bisa ya, bisa juga tidak.
Hanya sayang, bagi saya, film ini terlalu dimonopoli oleh tokoh Jojo berikut problematika hidupnya. Memang sebelum menonton, yang ada di benak saya adalah ini film tentang kehidupan gigolo, sehingga Marley dan Piktor saya kira juga akan mendapat porsi yang cukup, apalagi posternya menampilkan trio gigolo. Tapi ternyata Jojo yang menjadi fokus film ini. Kehidupan Jojo lah yang membuat plot film ini bergerak. Persis seperti tokoh Joni dalam Janji Joni. Tak salah memang, tapi menjadi sayang karena drama persaingan antar gigolo tak tereksplor. Padahal akhirnya, Jojo dipertontonkan bak cerminan para gigolo lain di film ini yang ingin meraih impian hidup serba enak di kota besar.
Soal akting Tora, saya pikir tak jelek tapi juga tak terlalu bagus. Begitu juga Aming. Mungkin karena mereka sudah lekat dengan peran-peran lucunya di acara Extravaganza, sehingga penampilannya menjadi biasa di film ini. Bagusnya, chemistry Tora dengan Lila lumayan terasa.
Akhir kata, film ini sukses membuat saya terhibur dan tertawa lepas. Memang, sebelum menonton, harapan saya cuma satu, yakni ingin tertawa saja. Jadi, saya tak ada beban dalam menontonnya. Saya cukup bersyukur ada film seperti ini dan mampu membuat saya terbahak-bahak setelah sebelumnya selalu tertawa terpaksa akibat menonton film horor masa kini—dengan sosok hantu, akting pemain, cerita, maupun pengadegannya yang lebih mengundang tawa daripada membuat bulu kuduk berdiri. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Imajinasi anak-anak itu kreatif dan kadang tanpa memedulikan logika. Itu salah satu momen yang membuat masa kanak-kanak menjadi riang. Masa kala mainan menjadi pelampiasan dan kelanjutan dari imajinasi anak-anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Bagi para anak laki-laki, umumnya terbiasa memainkan mobil-mobilan atau mainan lain yang merupakan representasi mesin mekanik. Misal, pesawat, kapal laut, motor, dan sebagainya. Bukan boneka-bonekaan.
Mungkin, secara tak sadar, perilaku maskulin saat itu dibentuk. Itulah yang saya alami. Saat masa kecil itu pula, serial kartun The Transformers ditayangkan di televisi. Saya termasuk yang menontonnya dan mengkhayalkannya. Hebat sekali tampaknya jika robot-robot itu menjadi teman saya.
Saat itu, tak terpikir kalau pada tahun 2007 ini akan muncul film layar lebar Transformer versi live-action. Teknologi CGI memang membuat visualisasi khayalan itu menjadi mungkin dan “dekat” dengan kita. Maka, pengalaman menonton film arahan Michael Bay ini menjadi pemuasan imajinasi kanak-kanak saya sebagai mantan bocah laki-laki.
Film ini memang penuh unsur maskulin dan lebih “dekat” dengan para lelaki. Lihat saja para robotnya, tak ada yang merepresentasikan tubuh perempuan. Suara para robot itu berat layaknya laki-laki dewasa. Juga kamuflase para robot itu sebagai benda mekanik. Umumnya, berupa mobil, pesawat tempur, helikopter. Benda-benda yang kerap dimainkan laki-laki saat bocah dulu. Jadi, sosok Mikaela (Megan Fox) memang cukup untuk menjadi pemanis dan pelengkap saja. Penambah sisi feminin dalam cerita film ini.
Adanya Stephen Spielberg yang bercokol sebagai produser dan kepala tim teknis para animator CGI membuat saya percaya pada film ini jauh sebelum jadwal rilisnya. Dan, akhirnya saya memang benar-benar dibuat melongo saat para robot dari dua kelompok, Autobot dan Deception, beraksi dan bertarung. Opening film ini menampilkan kekhasan gaya gambar dari Bay dan Spielberg. Juga, aksi yang bertensi tinggi saat film dibuka.
Ada dua adegan unik dalam film ini. Yaitu, saat kelompok Autobot (Bumblebee, Jazz, Ratchet, Ironhide, dan Optimus Prime) mengawal Sam Witwicky (Shia LeBeouf) yang membawa The Cube, sumber energi yang direbutkan para robot itu, menyusuri ruas jalan di gurun Amerika. Saya langsung teringat dengan TLOTR jilid satu, Fellowship of The Rings. Atau, saat Sam sedang menjajal calon mobil pertamanya, Bumblebee, yang saat itu parkir bersebelahan dengan VW kodok. Perilaku Bumblebee yang menyepak si VW Kodok dengan pintunya, seperti meledek film Herbie Fully Loaded.
Selain itu, untuk urusan chemistry, agaknya yang paling terasa ada pada relasi Sam dengan Bumblebee. Walau antara robot dengan manusia, gerak-gerik keduanya cukup menimbulkan emosi. Begitu juga pada robot lain, khususnya pada kelompok Autobots, karakter-karakter mirip manusianya agak terlihat. Jadi, meski penuh dengan robot-robot, tapi film ini tak jatuh pada eksebisi efek spesial hasil olah CGI saja. Sedikit banyak, interaksi antara manusia dengan robot itu cukup memanusiakan film ini.
Bagi saya, film ini lebih wah daripada trilogi Spiderman, trilogi The X-Men, franchise Batman, Fantastic Four, dan film hasil remake dari kartun atau komik lain. Yah, walau dalam segi plot dan cerita, film robot ini banyak menyisakan bolong dan terlihat memaksa, tapi saya rela tak memedulikannya kali ini. Kepuasan saat melihat mobil-mobil itu bertransformasi menjadi robot-robot, membuat saya takjub dan lupa bolong-bolong film ini.

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Saya dan pacar sering mengobrol serius. Bukan soal pernikahan atau masa depan. Tapi lebih sering mengomentari hal-hal yang kadang tidak atau belum memiliki relasi kepentingan dalam masa hidup kami. Perbincangan kami akhirnya sering kali berputar-putar tentang Indonesia, anak muda, sinetron, dan tentu saja, film. Untuk soal film, saya memang berperan besar menjerumuskan pacar dalam obrolan yang sok serius dan sok njelimet.
Intinya sih, obrolan kami ngalor-ngidul tak jelas juntrungannya. Tapi kami merasakan kalau apa yang diobrolkan itu, sebenarnya, meresahkan pikiran. Dan mungkin, siapa tahu, juga akan meresahkan pikiran orang banyak. Keresahan dan kegelisahan memang lekat dengan manusia. Saya juga pernah dan kadang masih mengalaminya. Entah faktor usia berpengaruh atau tidak atas hal ini. Tapi jika berpengaruh, maka mungkin wajar jika Ambar dan Yusuf merasakan hal yang sama.
Ambar dan Yusuf berasal dari masyarakat kelas menengah atas. Ambar berusia 19 tahun, sedangkan Yusuf dua tahun lebih tua. Yah, di usia segitu, katanya, manusia masih mencari pegangan dalam hidup. Juga masih harus banyak belajar dari pengalaman hidup orang lain. Pandangan hidup Ambar dan Yusuf tentu berbeda dengan orang tuanya.
Soal pernikahan, seksualitas, kematian, keluarga, dan budaya, ternyata merisaukan Ambar dan Yusuf. Mereka membincangkan hal-hal itu dalam perjalanan darat rute Jakarta-Yogyakarta selama tiga hari. Jadi, berceloteh tentang apa saja, yang belum tentu penting bagi penonton, tapi penting bagi sosok Ambar dan Yusuf. Yang belum tentu dirasa penting bagi penonton, tapi dianggap penting bagi pembuat film.
Dari situ masalah yang muncul adalah keterkaitan emosi atau kedekatan penonton dengan karakter per tokohnya dan cerita yang digulirkan. Bagi penonton dari segmen anak muda yang sepantaran dan memiliki pengalaman yang sama dengan Ambar dan Yusuf, mungkin merasa pas-pas saja dengan ceritanya. Lain halnya bagi penonton yang tak merasa dekat dengan karakter dan ceritanya. Tak suka dengan film ini adalah hasilnya. Saya sendiri terpecah. Kadang merasa dekat dengan beberapa bagian film ini. Ada juga bagian yang terasa jauh dengan saya.
Dari situ saya melihat kalau sosok Ambar dan Yusuf tak mewakilkan generasi dan persoalan anak muda secara utuh. Juga bukan bercerita soal Indonesia. Terlalu sederhana untuk itu. Kalau mewakilkan pandangan sekelompok anak muda, mungkin iya. Tapi itu juga tak sepenuhnya mirip dengan perdebatan yang dialami anak muda sekarang. Sepertinya, karakter Ambar dan Yusuf cuma dipinjam untuk mengisahkan persoalan tentang kegelisahan sesuai dengan pandangan pembuat film. Dan kegelisahan itu sebenarnya bukan dialami oleh anak muda seperti Ambar dan Yusuf saja.
Bagi saya, film ini cuma ingin berkomentar. Saya ingat sebuah interview dengan riri riza. Riri bilang kalau film ini bicara tentang anak muda yang mencoba melihat pemikiran orang lain. Lalu, dia juga bilang kalau film ini adalah ekspresi kegelisahan tentang persoalan cara pandang, seksualitas, apa yang baik dan apa yang benar, apa yang salah dan apa yang haram, apa yang haram tapi terpaksa. Kurang lebih begitu yang Riri bilang.
Itulah, hanya ekspresi. Sehabis menonton film ini, yang tersisa adalah rasa tanggung terhadap ceritanya. Bukan akibat ending-nya menggantung (saya tak mempermasalahkan ending seperti itu). Tapi mungkin karena sebatas ingin berekspresi atau berkomentar, jadinya film ini terlihat tak ada gejolak dalam ceritanya. Mengalir begitu saja dan konfliknya kurang mengena. Jadinya, menontonnya terasa datar. Untung duet akting Nico dan Ardinia cukup menghasilkan chemistry dan menampilkan sesuatu yang berbeda.
Jujur saja, sebelum menonton film ini, saya kira Riri Riza akan membuat film sehebat ELIana,eliANA. Tapi ternyata tidak. 3 Hari Untuk Selamanya belum bisa setara dengan masterpiece Riri itu. Bagi saya, 3 Hari Untuk Selamanya tidak bisa dicap jelek, tapi juga tidak bisa dibilang bagus-bagus amat.

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Jujur saja, ini adalah film pendek Lux terfavorit saya. Inti ceritanya ringan, namun sangat membekas di hati, ingatan, dan pikiran. Terutama bagi yang sering menggunakan jasa angkutan kereta api. (Bukan) Kesempatan yang Terlewat (BKyT) berkisah tentang perempuan di kereta (Dian Sastro) yang bertemu dengan seorang pemuda (Christian Sugiono). Mereka bertemu beberapa kali. Pertemuan yang awalnya hanya sebatas saling menatap ini, lalu berlanjut ke obrolan, dan akhirnya saling berharap untuk bertemu kembali.
Film ini mempunyai struktur cerita dan visualisasi yang kuat. Skenario yang mengigit dan unik. Plot yang memancing penonton agar tak berhenti dalam menikmati ceritanya. Visual yang sangat representatif dengan ceritanya. Jeli dalam memilih musik latar yang tepat sebagai elemen pendukung jalan ceritanya. Lihai dalam memanfaatkan setting ceritanya. Dan, tentu chemistry yang dahsyat dari pemainnya. Tema ceritanya mungkin terasa biasa dan sudah sering diangkat oleh berbagai film layar lebar atau serial televisi. Namun, kali ini film pendek lah yang mengeksplor tema ini, dan tak disangka-sangka ternyata ceritanya sangat mengena.
Film pendek adalah jenis film yang memiliki banyak keterbatasan. Salah satunya adalah durasi yang singkat. Ia harus memanfaatkan durasi yang singkat dalam memasukkan segala unsur dalam cerita filmnya. Film pendek yang ceritanya berat, relatif akan lebih sulit diterjemahkan dalam narasi visualnya. Durasi yang pendek ini berhubungan dengan penerimaan penonton dalam mengakses pesan dalam cerita film. Dengan durasi sekitar 10 menit, penonton BkyT diharapkan dapat memahami ceritanya. Maka, skenario harus efisien dan efektif dalam berkisah. Plot pun harus menuturkan kisahnya dengan detail. Visualisasinya harus dekat dengan imajinasi penonton. Saya pikir BKyT berhasil memadukan elemen-elemen itu dengan harmonis.
Berawal dari mata turun ke hati. Itulah yang dirasakan dua tokoh utama film ini. Pertemuan pertama menarik perhatian masing-masing tokoh. Pertemuan selanjutnya, mereka berinteraksi dengan unik. Mereka saling tertarik tanpa disadari. Tapi semua itu dibatasi oleh persoalan identitas. Ketika BKyT dipertengahkan pada cerita tentang pertemuan dua insan yang tidak saling kenal di dalam ruang publik tertutup (di dalam gerbong kereta), maka faktor identitas patut dipertanyakan. Kumpulan orang yang berada dalam ruang publik tertutup kemungkinan besar tidak saling mengenal. Tapi mereka memiliki kesamaan tujuan dan rasa solidaritas dadakan yang berpotensi untuk mengenalkan identitas masing-masing.
Misal, dua orang yang duduk bersebelahan dalam kereta, bus, atau pesawat, memiliki pilihan untuk saling berkomunikasi atau cuek bebek saja. Berkomunikasi untuk membunuh waktu adalah wujud dari kesamaan tujuan dan rasa solidaritas itu. Namun, ada saat sudah berkomunikasi panjang lebar, tapi lupa menanyakan nama. Atau sudah saling tahu namanya, tapi terlupa tak lama setelah berpisah. Anonimitas inilah yang sangat kentara di BkyT. Terbukti dengan tidak bernamanya tokoh yang diperankan Dian dan Christian. Anonimitas ini semakin kuat karena kedekatan posisi tokoh perempuan dan pemuda dalam cerita BkyT tidak intens, seperti misalnya duduk bersebelahan, tapi serba dadakan. Waktu dan tempat pertemuan mereka tidak tentu, kadang di lorong gerbong, atau di restorasi.
Persoalan identitas dan anonimitas ini semakin tak terbantahkan, ketika perempuan di kereta dan si pemuda saling mencari tak tentu arah setiap kali naik kereta. Identitas yang raib dan anonimitas pada tokoh BkyT membuat jalinan ceritanya lebih representatif dan tidak mengada-ngada. Akibatnya pula, unsur drama yang romantis turut terbangun dengan baik. Hal yang berbeda tentu akan terjadi jika pembuat film dari awal sudah mengenalkan identitas masing-masing tokoh.
Prima Rusdi sadar akan kondisi ceritanya ini dan memanfaatkan segala medium komunikasi untuk menggerakkan interaksi dua tokoh fim ini. Prima tidak menyerahkan semuanya pada ucapan kata. Adakalanya mereka berinteraksi dengan lebih verbal lewat gambar karikatur buatan cowok dalam kereta, atau dengan tulisan pada secarik kertas. Ini cara yang unik sekaligus kreatif dalam memanfaatkan keterbatasan. Cara ini juga menjadi solusi untuk menciptakan kedekatan emosional dua tokoh dan juga semakin menimbulkan chemistry di antara mereka. Cara interaksi ini memang terlihat lebih mengena, karena tidak mungkin terjadi percakapan intens dan panjang seperti yang dilakukan Ethan Hawke dan Julie Depply dalam film Before Sunrise.
Jika pada film-film pendek sebelumnya menyuguhkan plot yang konvensional, maka di BKyT penonton agak perlu lihai untuk mengikuti tutur ceritanya. Bukan karena kisahnya njelimet atau film ”berat’, tapi karena alur yang digunakan adalah maju-mundur. Ini mengakibatkan adanya pergantian setting waktu yang kerap terjadi. Namun, karena seluruh kisah film ini bersetting di dalam gerbong kereta api, maka penunjuk terjadinya perubahan waktu berpotensi mengalami kendala. Tapi, Lasja Fauzia memecahkan kendala itu dengan cara pergantian atribut sang tokoh, yaitu pakaian. Pergantian pakaian tokoh yang dimainkan Dian cukup memberikan penunjuk waktu yang baik. Akhirnya, plot mengalun lancar.
Film dimulai dipertengahan cerita, lalu perempuan di kereta mengingat-ingat kejadian pertemuannya dengan seorang pemuda itu. Ia sadar dirinya memiliki ikatan dengan pemuda itu setelah beberapa kali pertemuan mereka yang tidak disengaja. Keduanya saling mencari dan seperti mempercayai bahwa mereka akan bertemu kembali. Setiap saat si perempuan naik kereta, ia selalu berharap untuk bertemu kembali dengan pemuda itu. Memorinya tentang pertemuan dengan pemuda itu membuatnya ingin kembali bertemu untuk melanjutkan interaksi sebelumnya. Dengan begitu, penggunaan plot maju mundur seperti ini pun semakin menguatkan drama dalam cerita BkyT, karena penonton ikut merasakan memori-memori indah si perempuan yang diharapkan terulang lagi. Pada situasi nyata, setiap manusia pasti ingin mengulang lagi kejadian-kejadian indah masa lampau. Dengan plot seperti ini, bentuk endingnya tentu sangat dinantikan penonton karena sudah terbawa dengan alunan memori-memori indah itu.
Hal yang paling menarik dan unggul dalam BKyT dibandingkan dengan film pendek Lux lain adalah penggunaan setting tempat dan visualisasinya yang representatif dengan kebutuhan untuk membangun ceritanya dan kehidupan nyata. Hampir keseluruhan jalan cerita terjadi di dalam ruang publik semi tertutup, yaitu di dalam gerbong kereta api. Saya katakan semi tertutup karena ada syarat untuk mengakses masuk ruang publik ini. Publik yang ingin berada di dalam kereta harus membayarnya. Dengan begitu, di dalam ruang publik seperti ini, ada penyeleksian terhadap orang-orang yang masuk. Publik di sini memiliki karakteristik yang berbeda dengan publik, misalnya, di taman kota. Orang-orang di dalam gerbong kereta yang sedang berjalan ini memiliki kesamaan karakter yang khas. Mereka merupakan orang-orang yang umumnya mengejar waktu, berada dalam status sosial kelas menengah, dan memiliki ego yang relatif tinggi. Lihat saja perilaku para penumpang kereta api yang lebih suka membaca koran, majalah, atau mendengarkan musik dengan headphone yang menutup rapat telinganya dari suara sekitarnya. Tokoh yang diperankan Dian dalam film ini pun terlihat beberapa kali sambil mendengarkan musik lewat ipod-nya. Mereka juga menjadikan gerbong kereta ini hanya sebagai sarana menumpang lewat saja untuk tujuan hidup yang lebih penting, yaitu sampai ke tempat tujuan.
Akibat berbagai karakter itu, keintiman hubungan antar penumpang tidak kentara, seperti mewujudkan persoalan identitas yang sudah saya jelaskan di atas. Akibat lainnya, peristiwa yang terjadi di dalam gerbong kereta seolah pun tidak menghasilkan solusi yang nyata. Inilah masalah yang diajukan dalam BkyT, ketika si perempuan selalu menantikan kehadiran si pemuda—begitu pula sebaliknya—agar dapat mendefinisikan hubungan-hubungan singkat mereka sebelumnya. Jelas, persoalan tertutupnya ruang membuat solusi yang diinginkan si perempuan atau si pemuda menjadi terbatas. Keterbatasan solusi ini dapat terjelaskan dengan kesengajaan pembuat film dalam menggambarkan ruang dan tempat melalui setting gerbong kereta ini. Dalam ranah budaya pop, ruang merupakan suatu tempat pertemuan antara gagasan dan kenyataan. Ruang adalah wujud kongkret dari gagasan. Di sini, terjadi pengujian terhadap gagasan, serta berjalannya fungsi dan aktivitasnya. Hasilnya adalah muncul cara berpikir untuk melaksanakan berbagai gagasan itu. Sedangkan, tempat adalah sebuah lokasi yang nyata di mana fungsi dan aktivitas berjalan.
Kejadian-kejadian yang dialami dua tokoh BKyT terjadi di dalam gerbong kereta. Di sini, gerbong kereta menjadi ruang sekaligus tempat. Peristiwa memang terjadi dalam ruang dan tempat. Kedua tokoh ini tidak menemukan solusi atas masalah mereka selama di dalam gerbong kereta, karena pertukaran gagasannya dibatasi oleh tertutupnya ruang. Persoalan tertutupnya ruang ini membuat interaksi mereka di dalam gerbong kereta ini sangat terbatasi oleh waktu, sehingga percakapan mereka tidak intens. Mereka pun menjadi saling berharap untuk bertemu kembali. Padahal, agar dapat bertemu dan berinteraksi kembali di dalam kereta menjadi sangat tidak gampang dan penuh spekulasi waktu, karena mereka saling tidak tahu jadwal dan waktu tempuh perjalanan masing-masing.
Setelah lama mengubek-ngubek kereta, akhirnya mereka pun bertemu di luar gerbong kereta, yaitu di sebuah stasiun. Keterbatasan mereka selama di dalam gerbong kereta pun hilang. Keluarnya mereka dari gerbong itu dengan sendirinya menciptakan dan mendapatkan ruang serta tempat yang luas untuk berinteraksi lebih intens, dan untuk memecahkan masalah mereka. Maka, dengan penggunaan setting di dalam gerbong kereta dan akhirnya keluar dari situ sebagai ruang pertukaran gagasan dan pikiran si dua tokoh ini menghasilkan representasi kehidupan nyata yang baik. Nilai lebih juga pantas disematkan pada penampilan Dian dan Christian dalam film ini. Tak disangka, mereka berhasil membuat chemistry yang hebat. Akting mereka, terutama lewat gesturnya sangat mendukung cerita yang minim dialog ini. Film maker BkyT berhasil memadukan elemen-elemen ini menjadi harmonis, serta menjadikan film pendek yang sangat romantis. Tokoh yang diperani Dian dalam BKyT pada akhirnya menguatkan kampanye ”Beauty is the power to seize your destiny” dengan penuh makna.

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Film pendek ini bertutur tentang seorang perempuan muda bernama Kay (Mariana Renata). Ia bertemu dengan Darren Wibisono (Vino Bastian) di sebuah toko buku yang ternyata adalah sang pemiliknya. Kemudian, Kay akhirnya memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat.
Plot mengalir lurus dengan apa adanya. Tak ada kejutan dalam cerita. Penonton digiring untuk mempercayai kalau Kay dan Darren saling menyukai dan pedekate. Sampai akhirnya, tenyata penonton disuguhi sebuah twisted ending. Ternyata, Kay mendekati si cowok pemilik toko buku untuk menjodohkannya dengan teman cowok lainnya. Lagi-lagi menyinggung isu kehidupan homoseksual. Cukup menohok dan fresh sekali. Khas sekali aroma gaya Nia Dinata.
Sebenarnya dari awal mulai film, saya sudah mencium gelagat adanya twisted ending ini. Nama Nia Dinata yang kadang menyuguhkan twisted ending dalam film-filmnya adalah dasar perkiraan saya. Apalagi melihat nama Mellisa Karim (penulis skenario Arisan! The Series) sebagai penulis skenarionya, saya agak yakin dengan akan adanya twisted ending ini. Tapi semua perkiraan itu saya coba kesampingkan.
”Masa iya sih tentang isu yang itu-itu lagi. Apa nggak bosen Kalyana ngangkat isu gay lagi?” pikir saya saat itu.
Ternyata memang benar perkiraan saya. Idenya memang fresh, dan permasalahan yang diajukan cukup kontekstual. Kalyana juga lumayan sering mengangkat persoalan ini. Lihat saja, Arisan! (2003), Janji Joni (2005), Berbagi Suami (2006), hingga serial drama televisi Arisan! The Series (2006). Kalyana agaknya ingin menyodorkan kepada penontonnya mengenai fakta-fakta kehidupan kaum homoseksual di sekitar kita. Intensitas yang cukup sering itu semakin membuktikan kepiawaian Nia Dinata dalam menelurkan film-film bertemakan isu kehidupan homoseksual ini. Tapi, menurut saya, Matchmaker tidak membuktikan adanya kontinuitas kepiawaian ini. Saya melihat ada beberapa hal yang mengganjal dalam struktur ceritanya. Tanda-tanda yang tersebar dalam setiap adegan pada akhirnya tidak berhasil mendukung logika dalam berceritanya. Mari kita telisik satu per satu.
Awal cerita, film memperlihatkan Kay di dalam mobil bersama seorang cowok bernama Heaven. Mereka baru tiba di parkiran toko buku Kay mengajak Heaven masuk ke toko, tapi ia menolak. Kay pun mencium pipinya. Kay turun dari mobil dan masuk ke toko buku. Kay di sini memanggil si cowok dengan kata sayang. Di sini kita digiring untuk memaknai bahwa Kay berpacaran dengan Heaven itu.
Di dalam toko buku, sosok Kay dilihat oleh Darren. Mereka pun berinteraksi. Dari gerak-geriknya, kita digiring untuk memaknai bahwa Kay dan Darren saling menyukai. Mereka pun bertemu kembali, mengobrol, dan semakin dekat. Selama interaksi itu, penonton diberikan tanda-tanda bahwa Kay adalah cewek yang dapat menarik perhatian cowok dengan sekejap karena pesona kecantikannya. Kay juga ditunjukkan seorang cewek smart (dengan tanda Kay menggemari buku). Kay pun ditunjukkan sangat tertarik dengan Darren—melalui tanda-tanda; ia mencari tahu karakter Darren lewat internet. Dari ”penyelidikan” Kay, diketahuilah bahwa Darren Wibisono berusia 29 tahun, penggemar Franz Ferdinand, berzodiak scorpio, dan menyukai film-film Wong Kar Wai.
Dalam satu adegan, Kay sempat diperlihatkan menelepon seseorang (belakangan diketahui si cowok pertama) dan menceritakan ketertarikannya dengan Darren. Begitu pula dengan Darren, ia diperlihatkan menyukai Kay. Tanda-tandanya sangat jelas terlihat sepanjang interaksi dengan Kay. Intinya, selama itu penonton digiring untuk memaknai bahwa ada percikan asmara antara Kay dengan pemilik toko buku.
Lalu bagaimana hubungan Kay dengan Heaven? Tanda-tanda pada adegan pembuka film menggiring terciptanya pemaknaan bahwa Kay memiliki hubungan asmara dengan Heaven. Lalu kenapa Kay diceritakan bermain api dengan Darren? Sampai pada sembilan menit dari durasi film, penonton dibuat maklum dengan kelakuan Kay yang berani mencoba berselingkuh. Kay mencoba berselingkuh karena perilaku Heaven yang terlihat tidak mempedulikan Kay lagi. Makanya Kay mencoba berpaling. Ketidakpedulian Heaven terhadap Kay diperlihatkan dalam dua adegan film ini. Pertama, pada awal film seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Kedua, ketika adegan di dalam rumah ketika Kay sedang menonton televisi, dan ia diperlihatkan tidak dipedulikan oleh Heaven.
Sebelum sampai pada ending-nya, logika cerita yang bertutur tentang aksi-reaksi antara Kay, Heaven, dan Darren berjalan baik. Namun, saat ditunjukkan ending-nya, semua yang sudah terbangun dengan baik itu menjadi berantakan. Tanda-tanda yang sudah dibentuk dari awal film untuk memperlihatkan adanya percikan asmara dan perselingkuhan antara ketiga tokoh itu, hanya terlihat menjadi proses menipu penonton yang gagal.
Dalam film yang ber-twisted ending dengan baik memang berusaha untuk menipu penonton dengan cerita yang penuh kamuflase. Pembuat film harus dapat menggiring penonton ke sebuah plot yang mengarah kepada satu kemungkinan besar terjadinya ending. Namun, ternyata di akhir cerita, ending-nya diputarbalikkan oleh pembuat film dan tidak disangka-sangka oleh penonton sebelumnya. Semua ini dapat terjadi jika tutur cerita dalam tiap detail skenarionya saling mendukung.
Nah, dalam Matchmaker ini, detail cerita yang sudah dibangun sedari awal ternyata tidak mendukung twisted ending-nya. Jelas, penonton sudah digiring untuk memaknai bahwa antara Kay dengan Darren terjadi saling ketertarikan asmara. Penonton juga sudah digiring untuk memaknai kalau Kay memiliki hubungan dengan Heaven. Semua itu terjelaskan lewat detail-detail visualisasi ceritanya. Namun, bukannya suka, Kay ternyata menjodohkan Darren dengan Heaven. Kay pun sudah merencanakan perjodohan ini dari awal. Cowok yang dari awal disangka pacar Kay, ternyata hanya teman dekat yang juga seorang gay.
Logikanya, seharusnya Kay mengetahui seluk beluk penampilan, ciri, dan karakter seorang gay, karena ia berteman dekat dengan seorang gay. Sehingga Kay bisa tahu mana seseorang yang straight dan mana yang gay. Kay yang dicitrakan sebagai cewek smart—dengan tanda-tanda seorang penggemar buku dan kemudahan dalam mengakses informasi lewat laptopnya—seharusnya juga menjadi lebih paham dan mengerti tentang hal itu. Bahkan, Kay dalam film ini diperlihatkan sedang membaca intens membaca buku Blink! karya Malcolm Gladwell. Buku yang meraih predikat International Bestseller ini adalah tentang bagaimana orang bisa berpikir tanpa perlu memakan waktu lama. Soal pilihan-pilihan hidup yang muncul dan harus dinilai atau diputuskan secara spontan. Gladwell menawarkan solusi bahwa orang dapat memutuskan sesuatu secara spontan dengan melatih pikiran dan panca indera untuk fokus pada fakta-fakta yang relevan. Dengan membaca Blink! dan ditambah dengan pertemanannya dengan seorang gay, Kay seharusnya mempunyai referensi yang cukup untuk menilai Darren adalah straigth.
Dengan berbagai tanda itu, bagaimana Kay bisa menganggap Darren seorang gay, padahal dari awal penonton sudah melihat visualisasi cerita bahwa Kay berhadapan dengan seseorang cowok yang mencoba flirting dengannya. Kay pun terlihat tertarik dengan Darren. Visualisasi interaksi mereka yang sangat dekat itu juga lebih terlihat seperti sepasang cowok dan cewek yang sedang kasmaran. Bukan seperti seorang gay ingin dekat dengan seorang cewek. Atau seorang mak comblang yang sedang mencari tahu seluk beluk tentang cowok yang akan dijodohkannya.
Coba bandingkan dengan film pendeknya Dennis Adhiswara, Sudah Sore, Sebentar Lagi Jam 5 yang bercerita tentang seorang cowok yang berlari dari sekolahnya ke rumahnya hanya untuk menonton telenovela. Dari awal cerita film ini dimulai, penonton tak mengetahui untuk alasan apa si cowok ini bergegas pulang. Ternyata untuk menonton telenovela itulah yang dijadikan ending. Walaupun film ini minim dialog, tapi unsur visualnya dapat menjabarkan kelogisan tutur ceritanya untuk akhir cerita seperti itu.
Atau, coba lihat film Janji Joni (2005) pada adegan Joni bertemu dengan dua orang pria (Tora Sudiro dan Wingky Wiryawan) di toilet lobby bioskop. Dialog antara dua pria itu yang membahas tentang film cukup menjelaskan karakter mereka masing-masing. Interaksi verbal mereka berjalan baik hingga akhirnya dialog kedua pria itu berakhir, dan ternyata mereka adalah sepasang kekasih. Di sini, sulit bisa menebak ending-nya, karena kemungkinan terbesar yang muncul adalah dua pria itu hanya membicarakan tentang film yang baru saja ditontonnya. Tanda-tanda yang muncul saling mendukung dan tidak bertabrakan dengan akhir ceritanya.
Sedangkan Matchmaker, menurut saya, tidak perlu menampilkan tanda-tanda seperti yang saya telah jabarkan di atas pada setiap adegannya, jika pada akhirnya akan kontradiktif dengan akhir cerita. Pada akhirnya, Matchmaker sebenarnya telah memberikan sebuah tontonan yang riang, sederhana, dan penuh keceriaan, jika kita tidak merasa perlu untuk memperhatikan detail ceritanya. Taglinenya yang berbunyi ”Beauty is the power to illuminate others with joy” terasa cukup memberikan alasan menikmati film in sekadar untuk mencari kesenangan.

   | Big Day | Jun 19, '07 4:33 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Tak ada sesuatu yang sempurna. Begitulah maksud film pendek ini. Fokus cerita tentang Tatiana (diperankan oleh Tamara) yang hendak menikah. Kesibukan melanda. Ia ingin semua hal nantinya berjalan se-perfect mungkin. Di hari pernikahan, ternyata berjalan di luar dugaan. Mobil pengantin perempuan terjebak macet. Ia memutuskan naik ojek ke gereja.
Kejadian-kejadian kecil mewarnai perjalanan Tatiana selama menuju ke gereja. Membuatnya berpikir ulang soal kebahagiaan hidup yang sempurna. Kebahagiaan memang harus dibagi dengan sesama. Tak peduli kenal atau tidak dengan si empunya kebahagiaan. Seperti orang-orang yang ada di pinggir jalan, pengendara ojek, atau bahkan pengemis jalanan.
Plot dalam film ini mengalun lancar. Hal-hal kecil yang menimpa Tatiana diterjemahkan dengan baik. Ada latar belakang logis dalam setiap kejadian kecil yang dialami Tatiana. Ide cerita film ini memang ringan. Bahkan, dapat dibilang paling ringan dibandingkan film pendek Lux lainnya.
The Big Day terlihat tidak berusaha membebani penonton dengan kerumitan teknis, seperti sinematografi, cara tutur cerita, atau pengadegan. Saking ringannya, seperti melihat sebuah iklan panjang di televisi. Dapat dikatakan, karena keringanan dalam hal bercerita itulah, maka pesan dalam film ini mengalir tanpa hambatan.
Sayang, menurut saya, kelemahan yang mengganggu malah muncul pada referensi visual dari si pembuat film. Ada adegan ketika Tatiana berkhayal dirinya dihadang oleh penjahat, lalu ia menghajar si penjahat. Dalam khayalannya itu, ia memakai pakaian ala negeri barat jaman dulu. Khayalan itu muncul karena Tatiana dipaksa memakai helm oleh si pengedara ojek. Ia menolak, karena dengan memakai helm akan merusak hiasan di kepalanya.
Atau, adegan ketika Tatiana harus berjibaku menempuh perjalanan penuh rintangan di dalam hutan untuk menuju ke gereja. Dalam bayangannya itu, ia yang memakai gaun pengantin, harus menempuh jalan di hutan dengan menaiki kuda. Bayangan itu muncul saat Tatiana naik ojek dalam perjalanan ke gerejanya.
Dalam dua adegan itu, terlihat pembuat film mengambil referensi visual dari beberapa film luar. Ini, yang disebut Eric Sasono, adalah self-reference atau rujukan ke dalam. Pada adegan yang pertama, mengingatkan saya pada film-film negeri barat yang ber-setting cerita pada jaman medieval. Pakaian Tatiana dalam khayalannyalah yang mengidentifikasikan hal tersebut. Sedangkan, pada adegan yang kedua, saya melihat ada referensi dari film Runaway Bride yang ditiru oleh si pembuat film ini.
Mengapa hal ini saya nilai paling mengganggu? Ini karena referensi visual yang diambil berasal dari luar negeri ini. Memang, tak haram hukumnya untuk mengambil referensi visual dari film lain. Bahkan Quentin Tarantino pun melakukannya di film-filmnya, seperti alur, plot, gaya, dan visual dari film-film lain. Tapi rujukan referensialnya itu diubah dan dieksplor oleh Quentin menjadi lebih kontekstual dan menarik dalam film-filmnya. Ada argumen logis-estetis yang lebih jelas. Coba tengok Pulp Fiction (1994) atau Kill Bill Volume 1 & 2 (2003).
Namun, berbeda halnya dengan The Big Day. Dalam film pendek ini, terlihat pembuat film hanya sekedar ingin bergaya. Tidak ada kontekstualisasi dengan kondisi nyata dalam visualisasi ini. Apakah tidak ada referensi dari dalam negeri ini yang dapat dijadikan ide untuk menggambarkan khayalan Tatiana. Mengingat The Big Day ber-setting di Jakarta, mengapa tidak mengambil suasana kehidupan kota Jakarta yang semerawut untuk dijadikan setting khayalan Tatiana itu.
Saya pikir banyak fenomena, kejadian, atau rutinitas masyarakat kota Jakarta yang dapat dijadikan rujukan referensial adegan rintangan yang cukup bagus dalam khayalan Tatiana mengejar waktu ke proses pernikahannya, ketimbang berkuda di hutan atau berkelahi melawan penjahat dengan kostum jaman medieval negara barat. Jika ini dilakukan pembuat film, bukan tak mungkin unsur reka-percaya (make believe) dalam film ini terbangun dengan baik, sehingga film ini akan terlihat lebih nyata lagi dan lebih dekat secara emosional dengan penonton.
Bagaimanapun, saya percaya, kalau film adalah sebuah produk representasi. Film harus dekat dengan sisi psikologis dan sosiologis para penonton. Persoalan self-reference ini mengingatkan saya pada pernyataan dewan juri Festival Film Indonesia 2005 lalu. Saat itu, mereka mengatakan bahwa kekurangan sineas Indonesia adalah kemampuan dalam mengutarakan tema dan cerita yang membumi dengan realitas dan persoalan sosial di Indonesia. Sineas-sineas Indonesia terlalu sering mengambil referensi dari luar. Begitu kata juri-juri itu.
Saya sepakat dengan pendapat itu. Ini dapat berakibat, film-film nasional banyak yang lepas konteks dan jauh dengan realitas. Persoalan self-reference dalam film ini dapat dikatakan salah satu bukti pendapat itu. Lagipula, saya pikir pesona Kekuatan perempuan Lux yang ditunjukkan dalam The Big Day mungkin akan terlihat lebih manusiawi, kuat, nyata, dan terasa kekhasan Indonesianya jika merujuk referensi yang bersifat kontekstual. Terlepas dari itu semua, kampanye ”Beauty is the power to fight for your dreams” dari Lux melekat dalam cerita The Big Day ini.

 | Category: | Movies | | Genre: | Romance |
Akhirnya kemarin, setelah ditunda sejak Maret lalu, saya menonton juga film keluaran tahun 2006 ini. Film langka, kumpulan film pendek karya keroyokan para sineas tenar, seperti Joel & Ethan Coen, Wes Craven, Alfonso Cuarón, Alexander Payne, Walter Salles, Daniela Thomas, Gus Van Sant, dan banyak lagi. Totalnya ada 18 segmen film pendek. Masing-masing bertutur tentang kisah romantis dengan style dan cerita yang unik. Tapi disatukan oleh kesamaan tema; cinta. Simak saja dua tagline film Paris, Je T’aime ini, yaitu “Une Ville. 10 Millions de caeurs. Une histoire d’ amour. Un film.” Dan, “Fall in love with Paris 18 times.”
Cinta memang universal. Begitu juga jenis dan bahasa tutur cinta itu. Jadinya, film ini punya kekhasan yang berbeda di tiap segmennya. Menyusuri cerita visual 18 segmen ini ibarat berkeliling melihat realitas kehidupan yang penuh cinta dengan berbagai bumbunya. Jadi tidak harus mendayu-dayu romantis seperti menonton Romeo Juliet.
Saya disuguhi representasi bahasa cinta yang multi jenis. Cinta yang tidak harus berkisah soal kisah manusia yang kasmaran, tapi lebih lengkap lagi. Ada kisah tentang cinta yang absurd, humor satire akibat perbedaan budaya, cinta antar etnis dengan bumbu stereotype-nya, ironisme plus kesedihan dari sebuah kerinduan, gagalnya bahasa cinta, kesepian, keterasingan, kekhawatiran akibat kekangan cinta, dan berbagai cerita cinta lain. Ah, saya benar-benar terpukau saat menontonnya.
Semua elemen film dalam setiap segmen Paris, Je T’aime berfungsi dengan maksimal. Plot, karakter, visual, akting, dan penyutradaraan, terihat sangat optimal diterapkan pada setiap segmennya. Bagi saya, kisah terbaik ada pada segmen Loin du 16e karya Walter Salles dan Daniela Thomas. Dan, yang paling memorable ada di segmen Parc Monceau karya Alfonso Cuarón dengan twist ending-nya dan di-shot tanpa editing. Mengingatkan saya dengan Children of Men yang terpuji itu. Dengan durasi yang pendek tiap segmennya, saya diberikan mozaik kisah cinta di sebuah kota. Gunanya untuk memahami cinta itu sendiri. Salahkan film ini jika saya menjadi melankolis begini.

| Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Hanya Sebatas Dendam
Siapakah karakter fiksi villain yang paling terkenal? Banyak polling yang memunculkan nama Hannibal Lecter sebagai jawara. Karakter psikopat jenius ini memang berkharisma, sekaligus menyeramkan. Seorang psikiatris brilian yang berubah menjadi cannibalistic serial murderer. Karakter ini tak akan membekas di memori penonton, jika yang memerankannya bukan Anthony Hopkins.
Walaupun, pada 1986, Manhunter yang juga tentang Hannibal Lecter telah muncul, tapi lewat The Silence of the Lambs (1991) yang melambungkan karakter Hannibal the Cannibal. Setelah itu, sekuelnya Hannibal (2001) dan Red Dragon (2002) dirilis. Namun, tak ada yang bisa menyamai pencapaian estetis The Silence of the Lambs. Awal 2007 ini, Hannibal Rising muncul dengan berceritakan sedikit kisah kecil dan saat remaja sang psikopat jenius. Hannibal kecil dan Mischa, adiknya, menjadi saksi kematian ayah ibunya saat Perang Dunia II. Ia juga melihat saat-saat terakhir Mischa dibunuh oleh sekelompok tentara Nazi yang desersi. Alhasil, sifat pendendam dan kejam Hannibal remaja (Gaspard Ulliel) mulai terbentuk. Pertemuan hidupnya dengan bibinya, Lady Murasaki (Gong Li), makin menguak bibit karakter psikopat jenius Hannibal. Lalu dimulailah perjalanan membalas dendam pada para tentara pembunuh adiknya.
Jangan samakan Hannibal Rising dengan para pendahulunya. Apalagi menyamakan dengan The Silence of The Lambs. Tak usahlah berharap terlalu banyak untuk menerima cerita thriller yang cerdas dan mencekam. Kengerian psikologis yang menjadi kekuatan karakter Hannibal Lecter tak terlihat di sini. Hannibal Rising malah seperti film pembalasan dendam kesumat yang dipendam dari kecil, tanpa mengulik lebih dalam soal motivasi kejiwaan Hannibal yang mendasari perbuatannya. Dengan plot yang mudah ditebak dari awal hingga akhir, Hannibal Rising gagal menawarkan kisah thriller mencekam. Beberapa scene malah tampak terlihat lucu.
Karakter Hannibal remaja di sini jauh dari kesan kharismatik yang mengerikan, ini jelas berbeda dengan Hannibal tua yang diperankan Anthony Hopkins. Mungkin Peter Webber, sutradara, berasumsi Hannibal remaja masih digambarkan kejam, karena ia masih muda, emosional, dan belum berpengalaman. Namun penunjukkan Gaspard Ulliel sebagai Hannibal malah memperburuk citra Hannibal yang terbangun selama ini. Gaspard lebih tampak seperti remaja yang kejam tanpa kesan kharismatik dan jenius.
Film ini juga bisa dibilang lebih dekat dengan kategori gory movies. Kekerasan dalam film ini sangat menyiksa. Ini jelas berbeda The Silence of The Lambs yang menampilkan bodily experience. Sebuah bayangan melihat tubuh yang terluka, sehingga orang yang membayangkan bisa merasakan rasa derita dan sakitnya. Di film ini, penonton disuguhi kekerasan tanpa makna, yang ada hanya tampilan kekejaman Hannibal. Malah, di sini, Hannibal digambarkan seorang fetish, penggemar pipi manusia.
“You smell of smoke and blood,” ucap Lady Murasaki pada Hannibal, yang juga terdengar seperti pesan film ini.
  | D’BIJIS | Mar 25, '07 12:19 PM for everyone |
| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Pemaknaan tentang Ego dan Jati Diri
Ini bukan film tentang musik. Bukan pula soal anak band. Ini film drama berbalut komedi dan sedikit bernafaskan musik beraliran glam rock. Aliran yang juga akrab disebut glamourous rock ini tenar pada era 1980-an. Jenis musik yang tidak melebihi dari kerasnya heavy metal. Dengan unsur drama yang lebih, maka jangan banyak berharap menonton suguhan permainan musik di sini. D’Bijis tak menyediakan itu untuk penonton, karena ceritanya berceloteh tentang pencarian jati diri. Damon (Tora Sudiro), Gendro (Indra Birowo), Bule (Gary Iskak), dan Soljah (Ruli Lubis) adalah sisa-sisa dari kekuatan band The Bandits. Mereka sempat tenar di akhir 1980-an. Ironisnya, mereka bubar karena Bonnie (Darius Sinathrya), sang vokalis kharismatik, tewas saat mereka pentas.
Berselang 13 tahun, Asti (Rianti Cartwright), adik Bonnie berusaha membangkitkan The Bandits. Di sinilah cerita inti bergulir. Ketika kehidupan empat personil tersisa sudah jauh berbeda dengan jiwa musik glam rock, adalah suatu kesulitan untuk kembali terjun ke dunia lamanya. Apalagi tiap tokoh memiliki masalah. Drama terbangun, lewat masalah yang lahir dari pertemuan antara ego, penyesalan, dan jiwa bermusik. Pertemuan lima karakter itu pun mencari solusi. Namun proses penemuan solusi dari tiap masalah ini bertele-tele dan agak tak padu. Ini tampak pada interaksi Asti dan Damon yang dominan. Mereka sibuk berdebat tentang kesalahan Bonnie, musik, dan ego.
Percikan asmara antara Damon dan Asti kadang suka loncat pace-nya. Tiba-tiba saja penonton disuguhkan suatu kecemburuan, padahal dialog yang mencerminkan ketertarikan mereka tak lengkap. Debat Asti dan Damon tentang hal-hal yang menyangkut The Bandits agak dominan, tanpa melibatkan pikiran personil lain. Tampak, penggambaran ego dua tokoh ini lebih besar dibandingkan yang lain. Tokoh lain lebih sering sebagai penengah dan pelengkap konflik Asti dan Damon. Dalam D'Bijis, jati diri dan jiwa musik tiap karakter tergali dengan cara yang berbeda-beda.
D’Bijis juga masuk ke isu transgender lewat permasalahan Bule. Dan ternyata di sinilah, D’Bijis memberikan kontribusi terbesarnya, komedi yang menghibur. Film ini memang lebih tampak menghibur. Gary Iskak bisa dibilang sangat berhasil dengan aktingnya. Dia lah nafas utama film ini. Cerita D’Bijis tak akan berjalan jika tanpa kehadiran karakter Bule alias Yanti. Walau dandanan Bule layaknya seorang rocker, gestur tubuh, intonasi, dan pelafalan ucapan dari karakter pelaku transgender tetap terlihat riil.
Lewat interaksi antara Yanti dan Mas Anang (Arawin Pepinte), D’Bijis juga menghadirkan parodi. Dalam adegan pertengkaran Yanti dan Mas Anang terlihat larger than life. Sutradara (Rako Prijanto) sengaja memberikan dramatisasi yang lebih daripada dalam kehidupan nyata. Lalu apakah D’Bijis? Titien Wattimena, penulis skenario, menerjemahkannya sebagai peremas alat vital Damon yang bisa membuat suaranya melengking.
|
|